Terumbu Karang, Ratifikasi Dokumen CTI Siap Disahkan

- Editor

Jumat, 11 April 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Enam negara siap meratifikasi dokumen pemrakarsa segitiga terumbu karang pada 16 Mei 2014. Kesepakatan itu sekaligus menandai pembentukan organisasi internasional dalam pengelolaan terumbu karang.

”Kesepakatan itu didesain untuk melindungi terumbu karang di tingkat global. Tujuannya, resolusi PBB tentang konvensi perlindungan terumbu karang,” kata Head of Coordination Mechanism Working Group Coral Triangle Initiative-Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) Anang Noegroho, yang juga Head of Financial Resources CTI-CFF, di Jakarta, Kamis (5/4).

CTI-CFF merupakan kemitraan multilateral enam negara dalam melindungi terumbu karang dan sumber daya laut yang fokus pada isu-isu krusial, seperti ketahanan pangan, perubahan iklim, dan keanekaragaman hayati. Enam negara itu adalah Indonesia, Malaysia, Timor Leste, Kepulauan Solomon, Papua Niugini, dan Filipina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di Manado, 14-17 Mei 2014, digelar pertemuan pejabat senior (SOM) dan pertemuan CTI-CFF Setingkat Menteri, serta World Coral Reef Conference. Kegiatan akan dihadiri perwakilan tingkat menteri dari 80 negara dan 13 organisasi internasional.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulut Ronald Sorongan, 30 negara dari Asia, Eropa, dan Afrika bersedia hadir di Manado. Kesiapan panitia mencapai 75 persen, termasuk akomodasi hotel. Sekitar 2.500 kamar hotel siap digunakan.

Penandatanganan ratifikasi dokumen di tingkat menteri berbarengan dengan peresmian kantor sekretariat atau Pusat CTI-CFF di Manado oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kantor itu setara dengan Sekretariat ASEAN, tetapi fokus pada terumbu karang.

Dukungan negara pemrakarsa segitiga terumbu karang, di antaranya ditunjukkan dengan pembukaan rekening bank oleh enam negara anggota. Rekening itu diisi iuran operasional sekretariat dan program CTI-CFF.

Anang menambahkan, kontribusi iuran setiap negara anggota berkisar Rp 1,2 miliar-Rp 3 miliar per tahun. Adapun kebutuhan operasional sekretariat berkisar Rp 10 miliar per tahun. Sejauh ini, baru Malaysia, Timor Leste, dan Indonesia yang mengisi kas.

Kepala Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Zainal Arifin berharap, ratifikasi CTI- CFF diiringi penguatan kebijakan kelautan. Hal itu, antara lain, terkait riset, pemanfaatan sumber daya laut, dan potensi ekonomi. (ICH/LKT/ZAL)

Sumber: Kompas, 11 April 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 3 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru