Home / Artikel / Tentang Perdagangan Daring

Tentang Perdagangan Daring

Pada November lalu terjadi berbagai peristiwa yang menarik dalam perdagangan eceran.

Di China, pada tanggal 11 ada Singles Day Sales,yang konon berasal dari acara pesta pora mahasiswa yang tidak punya pacar di Universitas Nanjing, yang mengompensasikan status mereka dengan bersenang-senang bersama. Mereka memilih tanggal penyelenggaraan pada 11 November (11-11) sebagai tanda status mereka yang masih single.

Pertama dilaksanakan pada 1993 dan hari tersebut diberi nama Singles-day atau Bachelors-day. Kemudian pada 2011 tradisi tersebut oleh pedagang eceran dimanfaatkan sebagai kampanye penjualan barang jualan mereka secara besar-besaran dengan diskon yang menarik dan lahirlah Singles Day Sales (SDS).

Pada 24 November di Amerika Serikat (AS) dan Inggris serta negara-negara lain, ada Black Friday, penjualan dengan diskon besar-besaran setelah Thanksgiving Day. Di sekitar Natal dan tahun baru, ada kegiatan serupa yang di Inggris dikenal sebagai Boxing Day.

Yang menarik perhatian adalah kesempatan itu di era sekarang telah dimanfaatkan sangat bagus oleh perdagangan daring atau perdagangan lewat elektronik (online),atau e-commerce. Dalam SDS dipergunakan selebritas untuk meramaikannya.Namun, perdagangan konvensional melalui pertokoan di pusat-pusat perbelanjaan (shopping malls) atau dikenal sebagai bricks and mortars, juga tetap menikmati peningkatan luar biasa penjualan di waktu-waktu tersebut.

Pada waktu SDS di China, Alibaba mencatat nilai penjualan dalam satu hari sebesar 25,3 miliar dollar AS, meningkat dari tahun sebelumnya 18 miliar dollar AS. Sementara dalam Black Friday disebutkan nilai penjualan yang terjadi di AS dan Inggris mencapai 682 miliar dollar AS dengan Amazon untuk online dan Wallmart untuk jaringan pertokoan merajai penjualan.

Hal ini menyebabkan harga saham Amazon naik tajam dan membuat Jeff Bezos, CEO-nya, menjadi orang terkaya di dunia dengan nilai kekayaan mendekati 100 miliar dollar AS, di atas Bill Gates, Warren Buffets, ataupun Mark Zuckerberg.

Transaksi daring di Indonesia
Mulai akhir Oktober lalu, pemerintah melancarkan program wajib e-toll untuk penggunaan jalan tol yang menimbulkan banyak pembahasan pro dan kontra. Sebelum itu, juga sudah banyak kita lihat dan bahas tentang semakin maraknya transaksi daring,salah satu perkembangan dari penggunaan teknologi digital dalam perdagangan, pembelian melalui elektronik atau online.

Go-jek—yang muncul pada 2010 sebagai usaha rintisan (start up) dengan menggunakan aplikasi telepon pintar untuk pemesanan jasa angkutan memakai sepeda motor, serupa Uber dan Grab— telah menjadi simbol tumbuhnya wirausaha (entrepreneur) milenial di Indonesia. Go-jektelah melebar ke jasa pembayaran dengan memunculkan Go-pay.Selain itu, penggunaan teknologi digital dalam berbagai usaha ekonomi-perdagangan dan keuangan banyak berkembang di Indonesia. Mereka menjadi sumber-sumber kekuatan baru dalam kegiatan usaha yang menyumbang kemajuan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut catatan Asosiasi E-Commerce Indonesia, perdagangan dengan digital dewasa ini bernilai sekitar 7 miliar dollar AS dan dengan perkembangannya yang pesat akan menjadi dua kali lipat dalam empat tahun lagi. Ini disebabkan oleh marak dan pesatnya pertumbuhan penggunaan telepon pintar (smart phone) di Indonesia dan perkembangan kelas menengah, terutama kelompok milenial.

Di Indonesia dan di negara-negara berkembang lain, e-commerce, e-pay, e-game dan kegiatan usaha lain dengan elektronik sangat subur perkembangannya, terutama yang melayani kegiatan konsumsi. Hal itu karena peningkatan luar biasa dari penggunaan telepon pintar dan perkembangan komunikasi digital. Besarnya penduduk dengan strukturnya yang berat kepada golongan milenial merupakan pasar yang subur dalam kegiatan usaha yang memanfaatkan teknologi digital dalam komunikasi untuk melayani tingkat konsumsi yang tinggi terhadap barang dan jasa. Dengan sendirinya, sektor ini dan penunjangnya merupakan ladang yang subur buat penanaman modal asing dan domestik.

Kebanyakan studi memang menunjukkan bahwa perkembangan transaksi daring ini luar biasa di negara maju karena generasi milenial mendominasi belanja masyarakat untuk konsumsi. Sementara di negara berkembang, termasuk Indonesia, selain faktor tersebut, perkembangan transaksi daring juga disebabkan penggunaan telepon pintar yang pertumbuhannya luar biasa pesat.

Berdasarkan catatan ekonom UOB, Henrico Tanudjaya, dari 262 juta penduduk Indonesia tahun lalu, 51 persen atau 132,7 juta adalah pengguna internet dan sebanyak 106 juta merupakan pengguna media sosial. Pemerintah juga menyebutkan bahwa peningkatan penanaman modal asing akhir-akhir ini sangat didorong oleh potensi perdagangan daring yang luar biasa karena hal-hal tersebut.

Pesatnya perkembangan bisnis digital sudah banyak dibahas. Yang menyangkut perekonomian di negara-negara maju, seperti di AS, terutama mengenai besarnya dampak perdagangan daring sebagai saingan keras perdagangan eceran melalui pertokoan. Di sejumlah kota di AS banyak pusat belanjaan yang harus tutup karena beralihnya perdagangan eceran yang melayani penjualan melalui pemesanan online.

Semula yang menjadi berita besar hanya toko buku yang banyak tutup karena semakin banyaknya pembelian buku online yang dikembangkan Amazon. Akan tetapi, kemudian semakin banyak barang dan jasa yang penjualannya dilakukan melalui pemesanan online. Sekarang rasanya tidak ada barang yang tidak bisa dibeli dengan pemesanan online. Bahkan, yang menyangkut pembelian barang-barang untuk keperluan sehari-hari, termasuk bahan makanan, Amazon melayaninya setelah membeli perusahaan grosirWhole Foods. Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, orang mengenal pelayanan pembelian makanan online dari Panda, Deliveroo, Uber-eat, Go-food,dan sebagainya.

Jeff Bezos mengatakan, pihaknya akan terus melakukan ekspansi dengan berinvestasi untuk kepentingan konsumen. Mungkin hanya dalam barang-barang untuk bangunan konsentrasi perusahaan seperti Home Depot dan Ace orang masih lebih senang berbelanja di toko, sedangkan untuk yang lain semua online. Toko-toko seperti Sears and Roebuck, bahkan toko mainan Toys R Us gulung tikar karena pembelian online lewat Amazon.

Pembelian lewat online di Amazon tidak seperti waktu dulu orang membeli melalui mail order dengan mempelajari buku yang menyajikan daftar barang (katalog), tetapi orang dapat melihat streaming dalam video seperti window shopping di pertokoan melihat barang-barang yang dapat dibeli, tetapi melalui video. Pemesanan makanan online semakin canggih, menjadi restaurant online,saat orang bisa memesan berbagai macam makanan dari berbagai restoran dengan penyajiannya di rumah pemesan, seperti layaknya orang makan di restoran.

Revolusi industri keempat
Di AS dan negara maju lain sudah menjadi kenyataan bahwa banyak pusat perbelanjaan dan pertokoan gulung tikar. Di Indonesia sudah berjalan agak lama pemerintah daerah berlomba membangun pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota mereka. Akankah mereka mengalami nasib yang sama? Partai Gerindra meminta pemerintah meninjau kembali program e-toll karena dampaknya pada jumlah tenaga kerja yang dirumahkan dan penyelenggaraannya yang rawan korupsi. Pertumbuhan usaha Go-jek sebagian dengan akibat berkurang atau hilangnya ojek, pengemudi ojek hanya punya pilihan ikut Go-jek atau mati.

Secara anecdotal sebagai orang yang selama belasan tahun setiap hari menggunakan taksi berangkat dan pulang kerja, saya semakin biasa mendengar keluhan pengemudi taksi yang tersaingi oleh Uber dan Grab. Karena itu, saya mengikuti perkembangan yang menggembirakan dari ekonomi-perdagangan dan keuangan digital; e-commerce, e-economy, e-pay,dan banyak lagi ”E” lain tersebut dengan mengingat pada implikasi yang kurang menyenangkan dan menuntut penyelesaiannya. Kalau ditarik secara keseluruhannya, perkembangan transaksi daring dan usaha digital yang lain ini bermuara pada implikasi dari apa yang sedang berjalan, yaitu apa yang dikenal sebagai revolusi industri keempat.

Menurut perkiraan Forum Ekonomi Dunia, dalam industrialisasi keempat, 35-50 persen tenaga kerja akan digantikan robot dan komputer. Segala kegiatan baru ini akan menciptakan kesempatan kerja baru, tetapi pada umumnya penciptaan kesempatan kerja ini tidak sebesar yang hilang karena digantikan komputer dan robot. Ini di luar masalah struktural bahwa kesempatan kerja baru menuntut kemampuan dan keterampilan yang berbeda dengan yang digantikan.

Jadi, implikasi dari perdagangan daring dan ekonomi digital, seperti dalam hal mematikan pesaing dan menghilangkan lapangan kerja, tidak boleh dikesampingkan, apalagi dianggap tidak ada. Pergantian memerlukan proses transformasi. Hanya mengatakan bahwa yang tidak bisa mengikuti perubahan itu keliru, salah sendiri, jelas bukan suatu opsi. Ini perlu pembahasan di kesempatan lain.

Revolusi industri keempat tidak bisa dihalangi, malahan sebaliknya harus disambut dengan baik. Apa yang berkembang dalam e-commerce dan e-economy pada umumnya—baik dari sisi kegiatan usaha, tumbuhnya kewirausahaan baru dengan kaitannya dalam peluang investasi, kesempatan kerja dan pertumbuhan, maupun kemudahan yang dinikmati konsumen atau pengguna jasa-jasa tersebut—jelas sangat bagus dan tidak hanya perlu kita sambut, tetapi harus kita dukung agar terus berkembang.

Dalam ekonomi digital seperti yang kita lihat dari proses berkembangnya dua megaperusahaan, Amazon dan Alibaba, tampaknya berlaku adagium big is beautiful.Kegiatan usaha digital atau elektronik ini banyak dimulai oleh usaha rintisan seperti Go-jekberawal. Akan tetapi, ada kecenderungan bahwa usaha rintisan yang bermunculan dalam bidang ini kemudian menjual usaha mereka kepada atau dibeli oleh perusahaan besar sehingga akhirnya di dunia sekarang usaha digital merupakan konglomerasi dengan kekuatannya sebagai monopoli atau oligopoli yang tak selalu sejalan dengan kepentingan umum.

Perusahaan raksasa kelas dunia dewasa ini dirajai oleh Apple, Alphabet, Microsoft, Amazon, Facebook (perusahaan AS); Alibaba, Tencent (China); dan Samsung (Korea Selatan). Revolusi dot-com di tahun 2000 juga diawali dengan menjamurnya usaha-usaha rintisan, tetapi kemudian terjadi akuisisi atau merger yang berakhir dengan lahirnya beberapa perusahaan raksasa. Perusahaan raksasa tidak harus buruk, tetapi mudah-mudahan kita masih tetap mempertahankan adagium small is beautiful yang dikumandangkan di seluruh dunia setelah terbitnya buku dengan judul tersebut serta subjudul A Study of Economics as if People Mattered oleh EF Schumacher pada 1973.

Menghadapi semua ini, pemerintah dan politisi serta kita semua tak boleh mengesampingkan dampak negatif yang ditimbulkannya. Semua harus ikut menyumbang upaya mencari jalan keluar, meminimalkan implikasi yang tidak kita inginkan.

J SOEDRADJAD DJIWANDONO, Guru Besar Ekonomi Emeritus Universitas Indonesia, Profesor Ekonomi Internasional, RSIS, Nanyang Technological University, Singapore

Sumber: Kompas, 8 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ketimpangan Risiko

CATATAN IPTEK Risiko setiap orang dalam menghadapi wabah Covid-19 berbeda-beda. Hal itu tergantung dari daya ...

%d blogger menyukai ini: