Teleskop Robotik dari Jerman untuk Penelitian di Lampung

- Editor

Rabu, 26 Februari 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penelitian astronomi di Lampung diharapkan tumbuh seiring adanya kerja sama Institut Teknologi Sumatera dengan produsen teleskop asal Jerman. Teleskop pengamatan akan dipasang di Itera.

Observatorium Astronomi Institut Teknologi Sumatera, Lampung, akan mendapat teleskop jenis refraktor apokromatik untuk membantu penelitian dan pengamatan obyek angkasa. Teleskop buatan Jerman ini merupakan satu dari 14 teleskop di dunia yang saling terkoneksi.

KOMPAS/VINA OKTAVIA–Rektor Institut Teknologi Sumatera Ofyar Z Tamin (kiri) menandatangani nota kesepahaman bersama Managing Director Astelco Systems Peter Aniol, perusahaan teleskop robotik asal Jerman, Selasa (25/2/2020), di Lampung Selatan, Lampung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rektor Institut Teknologi Sumatera Ofyar Z Tamin saat ditemui di Kampus Institut Teknologi Sumatera, Selasa (25/2/2020), menuturkan, pihaknya sedang merancang pembangunan stasiun observasi yang akan menjadi lokasi pemasangan teleskop. Menurut rencana, teleskop itu siap digunakan pada Agustus 2020.

Teleskop dengan sistem robotik itu diharapkan dapat menunjang penelitian dan pengembangan ilmu astronomi. Selain itu, stasiun observasi itu juga dapat menjadi wisata edukasi bagi masyarakat di Lampung.

Dalam kesempatan itu, Ofyar sekaligus menandatangani nota kesepahaman dengan Astelco Systems selaku perusahaan teleskop robotik asal Jerman. Perusahaan itu akan membuat teleskop yang akan ditempatkan di banyak negara di dunia.

Managing Director Astelco Systems Peter Aniol menuturkan, teleskop yang akan dipasang di Lampung itu merupakan satu dari 14 teleskop robotik di dunia yang saling terkoneksi. Selain di Indonesia, teleskop serupa juga akan dipasang di Arab Saudi, Maroko, Chile, dan Hawai untuk kegiatan penelitian benda angkasa.

KOMPAS/VINA OKTAVIA–Rektor Institut Teknologi Sumatera Ofyar Z Tamin

Teleskop yang dilengkapi kamera inframerah dengan presisi tinggi itu dapat bekerja secara otomatis. Dengan begitu, penelitian benda langit akan semakin mudah karena tidak harus mengandalkan tenaga manusia.

Kepala Observatorium dan Astronomi Institut Teknologi Sumatera Lampung (OAIL) Hakim L Malasan menuturkan, Institut Teknologi Sumatera dipilih sebagai lokasi pemasangan teleskop karena lokasinya dinilai menunjang. Penelitian di sana tidak terganggu polusi cahaya. Selain itu, sumber daya manusia yang akan mengontrol alat itu juga tersedia.

Selain untuk pengamatan pergerakan bulan, teleskop itu juga akan digunakan untuk mengamati benda angkasa lainnya, seperti bintang dan matahari. Dengan adanya teleskop ini, diharapkan pengembangan ilmu astronomi di Lampung semakin meningkat.

Tertunda
Sebelumnya, pada 2016, Institut Teknologi Sumatera bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Lampung berencana membangun Itera Astronomical Observatory, Earth and Space Sciences Education Center in Sumatera (IAO-ESSECS). Pemprov Lampung juga telah membangun akses menuju lokasi.

KOMPAS/VINA OKTAVIA–Managing Director Astelco Systems Peter Aniol

Namun, rencana pembangunan fasilitas observatorium itu dihentikan pada 2019. Sebab, lokasi pembangunan observatorium dinilai berada di kawasan hutan konservasi di kawasan Taman Hutan Rakyat Wan Abdur Rahman, Gunung Betung, Bandar Lampung, sehingga tidak dapat dilanjutkan.

Terkait dengan hal itu, Ofyar menyatakan, program penelitian bidang astronomi tetap berjalan meskipun rencana pembangunan IAO-ESSECS tertunda. Saat ini, aktivitas penelitian obyek angkasa terus dilakukan di Institut Teknologi Sumatera.

Oleh VINA OKTAVIA

Editor: GESIT ARIYANTO

Sumber: Kompas, 25 Februari 2020

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB