Home / Berita / Teknologi Sterilisasi Ruangan Tanpa Residu Berbahaya Tekan Covid-19

Teknologi Sterilisasi Ruangan Tanpa Residu Berbahaya Tekan Covid-19

Persebaran virus SARS-CoV-2 di dalam ruangan berpotensi tinggi menambah jumlah kasus terinfeksi Covid-19. Penggunaan teknologi sinar ultraviolet dan konsentrasi ozon diharapkan bisa menjadi solusinya melemahkan virus.

Persebaran virus SARS-CoV-2 di dalam ruangan berpotensi tinggi menambah jumlah kasus terinfeksi Covid-19. Penggunaan teknologi sinar ultraviolet dan konsentrasi ozon diharapkan bisa menjadi solusi melemahkan virus dan bakteri tanpa zat kimia.

Hingga pertengahan Agustus, pandemi Covid-19 belum berhenti mengancam dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, persebaran kasus positif Covid-19 secara global yang mencapai lebih dari 22 juta jiwa. Kurang lebih 795.000 jiwa meninggal. Indonesia memiliki kasus tertinggi di Asia Tenggara dengan jumlah kasus lebih dari 151.000 jiwa.

Akan tetapi, berjalan waktu, ruang gerak manusia semakin sulit dibendung. Beragam aktivitas di dalam ruangan, meski berisiko, harus tetap dilakukan. Saat hal ini terjadi, jaminan ruangan yang bebas virus pun sangat dibutuhkan manusia saat ini. Sebagian kalangan mengandalkan penyemprotan disinfektan untuk mencari rasa aman. Namun, mengandung bahan kimia, penggunaannya rentan berdampak buruk bagi kesehatan.

Para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyadari hal itu. Sebagai alternatif solusinya, mereka menawarkan alat sterilisasi tanpa cairan kimia. Ada Simple Smart UV-C Sanitizer (Si-SUSan) dengan menggunakan teknologi sinar ultraviolet dan Airborne Terminator mengandalkan nanoteknologi.

Dua teknologi ini menjadi bagian dari produk LIPI untuk Konsorsium Riset dan Inovasi Covid-19. Bersama berbagai lembaga pemerintah, institusi riset, dan industri merancang lebih kurang kurang lebih 59 produk yang akan digunakan dalam penanganan Covid-19. Pihak-pihak tersebut di antaranya LIPI, PT Bio Farma, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, hingga beberapa perguruan tinggi, seperti Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran.

Peneliti dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi (P2ET) LIPI, Yusuf Nur Wijayanto, perancang Si-SUSan, mengatakan, sinar UV-C mampu melemahkan organisme dengan ukuran 10 nanometer, seperti bakteri dan virus. Sinar ini dipercaya dapat melengkungkan struktur materi genetik virus dan mencegahnya berkembang. UV-C ini mampu menghancurkan protein dan DNA mikroorganisme. Ini juga telah dimanfaatkan untuk sterilitasi alat medis.

”Si-SUSan dikembangkan dengan sangat sederhana, portabel, dan murah sehingga dapat digunakan oleh rumah tangga, klinik atau puskesmas, kantor, sekolah dan lain-lain,” terang Yusuf.

Aplikasi pintar
Meski UV-C bisa membuat ruangan bebas dari virus dan bakteri tanpa meninggalkan residu, radiasinya tetap berpotensi berbahaya bagi manusia. Karena itu, ruangan perlu dikosongkan sebelum sinar ini digunakan. Sistem pengoperasian jarak jauh pun diperlukan agar pengguna bisa mengontrol alat tanpa harus berada di ruangan.

Untuk itu, Yusuf menjelaskan, Si-SUSan dilengkapi pengendali jarak jauh yang dapat dikontrol dengan aplikasi berbasis Android. Tampilannya dirancang sederhana. Selain itu, pengaturan durasi pemancaran sinar juga disertakan dalam aplikasi. Hal ini dapat memaksimalkan fungsi alat, tidak hanya untuk mensterilkan ruangan dari virus penyebab Covid-19, tetapi juga yang lainnya.

Aplikasi dalam ponsel pintar tersebut menunjukkan radius penyinaran, tinggi sinar yang digunakan, dan dosisnya. Alat ini juga memiliki penghitungan otomatis terkait durasi dan intensitas penyinaran untuk virus SARS-CoV-2 dan lainnya.

”Luas dan kepadatan ruangan bisa memengaruhi lama penyinaran atau eksposure-nya. Semakin sempit ruang, waktu penyinaran semakin singkat begitu pun sebaliknya,” tutur Yusuf. Selain itu, ruangan yang padat dan banyak memiliki sudut tidak terkena sinar UV-C tidak akan mendapatkan manfaat sterilisasinya.

Akan tetapi, hal tersebut bisa diimbangi dengan memastikan orang-orang yang masuk ke dalam ruangan bebas dan tidak membawa virus. Di sini, Airborne Terminator, alat yang berfungsi mensterilkan ruangan dan orang-orang yang akan masuk ke dalam ruangan, mengambil peran.

Luas dan kepadatan ruangan bisa memengaruhi lama penyinaran atau eksposure-nya. Semakin sempit ruang, waktu penyinaran semakin singkat begitu pun sebaliknya

Dirancang Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi LIPI Anto Tri Sugiarto, teknologi ini mengubah air murni menjadi gelembung ozon berukuran nano sehingga berbentuk uap yang disebar ke udara. Sebaran ozon ini diklaim mampu mensterilkan ruangan dan benda terpapar dengan menonaktifkan virus dengan durasi hingga 30 menit.

Teknologi ini bisa diterapkan di bilik sterilisasi atau alat portabel yang bisa diletakkan di ruangan. Layaknya kabut, nanomist disemprotkan ke ruangan ataupun tubuh manusia tanpa membasahi permukaannya. Hal tersebut berbeda dengan bilik disinfektan yang menyemprotkan cairan sehingga membasahi kulit dan pakaian orang-orang yang melewatinya.

Anto memaparkan, penggunaan nanoteknologi dengan memanfaatkan ozon telah dilakukan LIPI sejak tahun 2006. Pada saat itu, ozon digunakan membersihkan sayur dan buah-buahan. Cara ini lebih aman dari zat kimia karena mampu mensterilkan permukaannya dari virus dan bakteri.

Pada saat pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia, tutur Anto, LIPI pun memberikan perhatian khusus untuk mengembangkan teknologi sterilisasi ruangan, termasuk nanoteknologi ini. Apalagi, keunggulan dari penggunaan ozon ini adalah tidak meninggalkan residu sehingga aman bagi makhluk hidup.

”Berbeda dengan disinfektan dari semprotan cairan kimia, uap ozon ini tidak meninggalkan residu yang berdampak buruk bagi bahan-bahan yang ada di dalam ruangan, termasuk kulit manusia. Jadi, uap ini aman terkena kulit dan pakaian. Ozon Nanomist dapat dimanfaatkan di perkantoran. Sekarang sudah terpasang di kantor pusat LIPI di Jakarta. Nanti juga akan terpasang di Trans Jakarta, MRT Jakarta, dan commuter line,” katanya.

Merah putih
Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro dalam kunjungannya di Kampus LIPI Bandung, Rabu (29/7/2020) menuturkan, konsorsium menjadi harapan Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Selain alat-alat untuk meminimalkan penularan, salah satu karya yang tengah digarap adalah produksi vaksin lokal, merah putih.

Bambang menuturkan, sebagai pandemi global, Covid-19 membutuhkan vaksin yang sangat banyak. Karena itu, vaksin merah putih merupakan simbol kemandirian bangsa atas pengembangan kemajuan ilmu pengetahuan melalui peneliti dan para ilmuwan.

Pandemi global, Covid-19 membutuhkan vaksin yang sangat banyak. Karena itu, vaksin merah putih merupakan simbol kemandirian bangsa atas pengembangan kemajuan ilmu pengetahuan melalui peneliti dan para ilmuwan

”Pencarian vaksin tidak hanya dari satu pengembang. Upaya pemenuhan vaksin ini berjalan paralel, tidak hanya dari satu pengembang. Untuk mengembangkan vaksin itu kita harus mengenal virusnya dan kemudian kita harus mencari cara untuk menangalahkan virus tersebut,” ujarnya.

Pandemi Covid-19 yang telah berdampak terhadap seluruh sendi kehidupan. Dengan inovasi anak bangsa, Indonesia mampu mengantisipasi persebaran tanpa terlalu bergantung kepada pihak luar.

Oleh MACHRADIN WAHYUDI RITONGA

Editor: CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Sumber: Kompas, 29 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: