Home / Artikel / teknologi pemadaman; Memadamkan Api dari Kebakaran Minyak

teknologi pemadaman; Memadamkan Api dari Kebakaran Minyak

TERTABRAKNYA  truk tangki Pertamina yang membawa bahan bakar minyak oleh kereta rel listrik di Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Senin (9/12), menunjukkan rentannya kebakaran bahan bakar minyak di sekitar kita. Namun, kesadaran terhadap risiko dan bahaya yang menyertainya masih rendah.

Sesudah tabrakan, kebakaran hebat pun terjadi. Pada jarak beberapa puluh meter dari sumber api, hawa panas masih terasa. Asap hitam truk tangki yang terbakar, membubung tinggi hingga bisa disaksikan dari jarak 10 kilometer dari lokasi kejadian. Ledakan pun terdengar beberapa kali.

Konsultan kebakaran dan keselamatan yang juga dosen energi di Program Magister Universitas Indonesia, Ahmad Yuliandi Bachtiar, Selasa(10/12), mengatakan, kebakaran bahan bakar minyak (BBM) lebih berisiko dibandingkan kebakaran yang bersumber dari bahan padat karena ada risiko ledakan yang menyertainya.

Ledakan bisa menimbulkan gelombang kejut yang mendesak udara di sekitarnya. Dorongan udara itu bisa memecahkan kaca rumah hingga membuat seseorang di sekitar sumber kebakaran terpental.

Bahaya juga berasal karena munculnya radiasi panas dari kobaran api. Keberadaan BBM yang mudah terbakar dalam jumlah besar membuat siapa pun di sekitar api bisa terpapar radiasi panas dalam waktu lama.

Tabrakan MautPemadaman
Saat BBM terbakar, sejatinya yang terbakar adalah gas hasil penguapan minyak, bukan cairan BBM-nya. Menurut Yuliandi, teknik yang umum digunakan untuk memadamkan terbakarnya BBM adalah menggunakan sejenis busa berbasis air yang disebut aqueous film-forming foam (AFFF).

”Pemadaman dengan air dilarang karena justru akan membuat BBM makin menyebar ke mana-mana,” katanya.

Dalam teori segitiga api, api muncul jika antara uap bahan bakar, oksigen di udara, dan panas sebagai pemicu munculnya api bersatu dalam komposisi tertentu. ”Untuk memadamkan api, maka rantai ketiga komponen nyala api itu harus diputus,” ujarnya.

Prinsip kerja busa pemadam api adalah menyelimuti minyak sebagai sumber bahan bakar. Saat busa disemprotkan, lapisan tipis dari busa menjalar ke seluruh permukaan minyak. Langkah ini akan memisahkan BBM dengan oksigen di udara sehingga nyala api tidak terpicu lagi.

Penggunaan busa pemadam juga akan menurunkan temperatur bahan bakar dan panas yang ditimbulkan. Pendinginan ini secara otomatis akan memutus rantai munculnya api.

Busa pemadam mengandung surfaktan atau molekul yang suka air dan minyak sehingga dapat menyatukan kedua cairan yang dalam kondisi normal tak mungkin bersatu. Busa ini mampu menyebar di permukaan cairan berbasis hidrokarbon.

Baik buruknya busa pemadam bisa dilihat dari cepat pecah atau tidaknya lapisan tipis busa yang menyelimuti minyak. Kalaupun lapisan tipis itu pecah akibat terkena benda tertentu, ia akan cepat menutup kembali.

”Saat lapisan tipis terbuka lagi sedang suhu udara di sekitar kebakaran masih panas, maka api akan mudah terpicu kembali,” kata Yuliandi. Jika kondisi itu terjadi, maka pemadaman tuntas api akan sulit dilakukan.

Secara terpisah, Ketua Dewan Pembina Indonesia Fire and Rescue Foundation yang juga anggota Komite Eksekutif Confederation of Fire Protection Associations-Asia Peter Placidus S Petrus mengatakan, busa pemadam efektif digunakan jika BBM yang terbakar masih tersimpan dalam wadah terlindung, seperti di tangki penampungan BBM serta disemprotkan secara benar.

”Jika BBM sudah tersebar pada permukaan yang tidak rata, maka penggunaan enkapsulator lebih efektif,” katanya.

Enkapsulator berbentuk cairan kental. Prinsip kerjanya sama dengan busa pemadam, yaitu memisahkan uap bahan bakar dengan oksigen. Caranya, ketika enkapsulator disemprotkan ke sumber api, ia akan membentuk kepompong kimia yang melindungi bahan bakar sehingga tidak mudah terbakar lagi.

Selain itu, kemampuan enkapsulator mendinginkan sumber api dan struktur di sekitarnya yang terbakar juga lebih tinggi. Kemampuannya menyerap panas 6 hingga 10 kali lebih tinggi dibandingkan pemadaman menggunakan air.

”Ini akan membuat proses evakuasi korban kebakaran bisa lebih cepat dilakukan,” ujarnya.

Enkapsulator cocok digunakan pada kebakaran yang dipicu bahan padat seperti kayu, kertas, atau apa pun yang meninggalkan abu (kebakaran tipe A), kebakaran yang disebabkan cairan dan gas yang mudah terbakar (tipe B), maupun kebakaran logam (tipe D).

Di Indonesia, lanjut Petrus, enkapsulator biasa digunakan di pertambangan batubara maupun pembangkit listrik tenaga uap milik Perusahaan Listrik Negara (PLN). Namun, ia belum digunakan untuk memadamkan kebakaran yang dipicu oleh BBM atau benda padat lain. Padahal, sejumlah negara ASEAN sudah memakainya.

Sadar risiko
Belum masifnya infrastruktur pipa untuk mendistribusikan BBM membuat penggunaan truk tangki masih menjadi andalan. Padahal, seiring perjalanan truk tangki mulai dari tempat pengisian hingga ke stasiun pengisian bahan bakar umum, sepanjang jalan itulah potensi bahaya mengintai.

Buruknya situasi lalu lintas, mulai dari pengendara yang ugal-ugalan, macet, jalan sempit, hingga waktu pendistribusian yang berbarengan dengan padatnya lalu lintas makin memperbesar risiko yang dibawa truk tangki.

”Sopir truk tangki harus sadar bahwa setiap tahapan distribusi BBM yang dilakukannya penuh risiko,” kata Petrus.

Namun Yuliandi mengingatkan, kesadaran sopir truk tangki terhadap bahaya yang dibawanya akan percuma jika tidak didukung komitmen pimpinan tempatnya bekerja. Banyak perusahaan Indonesia menganggap persoalan keamanan dan keselamatan kerja sebagai beban biaya, bukan investasi.

Kurangnya komitmen atas keamanan dan keselamatan kerja membuat banyak sopir truk tangki memiliki pendidikan dan kesejahteraan yang rendah. Jam kerja yang melebihi ketentuan membuat sopir lengah bahwa truk tangki BBM yang dibawanya bisa menjadi ’bom berjalan’ yang mengancam siapa saja. (Oleh: M Zaid Wahyudi )

Sumber: Kompas, 11 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: