Home / Berita / Strategi Aksi Eliminasi Tuberkulosis Dirumuskan

Strategi Aksi Eliminasi Tuberkulosis Dirumuskan

Pelibatan Swasta
Indonesia memiliki angka kasus tuberkulosis terbesar ketiga di dunia. Aksi nyata disiapkan sebagai tindak lanjut deklarasi politik negara-negara dalam penanggulangan penyakit itu.

Deklarasi politik negara-negara dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis pada pertemuan tingkat tinggi dalam rangka Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, pekan lalu, perlu ditindaklanjuti dalam aksi nyata. Untuk itu, pemerintah menyiapkan strategi, termasuk penguatan kemitraan, pelibatan sektor swasta, dan penguatan peran pemerintah daerah.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Wiendra Waworuntu mengatakan, strategi aksi sebagai tindak lanjut Pertemuan Tingkat Tinggi (UNHLM) Tuberkulosis (TB) di New York disusun. Penyusunan strategi itu dilakukan bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

KOMPAS/–Menteri Kesehatan Nila Moeloek (meja depan ketiga dari kiri) memimpin MultiStakeholders Panel 2 pada rangkaian Pertemuan Tingkat Tinggi tentang Tuberkulosis pada Sidang Umum PBB di New York, Rabu (26/9/2018). Negara-negara di dunia menyatakan komitmennya untuk menanggulangi penyakit tuberkulosis.

Nantinya, indikator-indikator lebih konkret dari strategi itu akan masuk ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). ”Sekarang masih berproses bersama Bappenas,” ujarnya, Rabu (3/10/2018).

Wiendra menyebutkan, ada enam strategi penanggulangan TB yang disiapkan. Strategi tersebut meliputi penguatan pemerintah daerah, peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan TB yang berkualitas, pencegahan dan pengendalian faktor risiko, penguatan kemitraan antarpemangku kepentingan, peningkatan keterlibatan masyarakat, serta penguatan sistem kesehatan.

Di antara strategi itu, Wiendra menggarisbawahi pentingnya peran masyarakat sipil dalam meningkatkan cakupan deteksi kasus TB dan penyelidikan kontak. Selama ini ada lebih dari 20 organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam deteksi kasus dan investigasi kontak, antara lain Aisyiyah sebagai bagian dari Muhammadiyah dan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD)–Antrean pasien di loket pendaftaran Rumah Sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (22/10/2014). Rumah sakit ini menjadi rujukan nasional bagi pasien tuberkulosis.–(Kompas/Raditya Helabumi )

Di Indonesia, tahun 2017 diperkirakan ada 842.000 kasus baru TB. Dari jumlah itu, hanya 442.172 kasus (53 persen) yang berhasil dilaporkan dan dilayani fasilitas kesehatan. Selain itu, TB pada anak mencapai 52.944 kasus. Gambaran itu menempatkan Indonesia berada di posisi ketiga sebagai negara penyumbang kasus TB terbesar di dunia setelah India dan China.

Pelibatan swasta
Oleh karena itu, organisasi masyarakat sipil diharapkan bisa berperan meningkatkan penjangkauan kasus yang belum terdeteksi di tengah masyarakat, terutama di 271 kabupaten atau kota dengan beban TB tertinggi di Indonesia. Harapannya, pada tahun 2020 sebanyak 70 persen kasus yang diduga TB bisa terdeteksi.

Ketua Forum Stop TB Indonesia Arifin Panigoro mengatakan, seusai UNHLM TB, pihaknya berencana membangun kesadaran di antara kalangan swasta agar mereka berperan lebih pada program penanggulangan TB. Harapannya, tidak hanya pengusaha di tingkat nasional yang ikut peduli terhadap TB, tetapi banyak pelaku bisnis di daerah yang peduli dan berperan lebih aktif dalam program penanggulangan TB di daerah masing-masing.

Satu peran yang bisa dimainkan pihak swasta, lanjut Arifin, adalah dari sisi pembiayaan program TB. Terlebih, selama ini sekitar separuh kebutuhan pendanaan program TB belum terpenuhi. Porsi anggaran dalam negeri yang terus meningkat baru bisa memenuhi sekitar 35 persen pendanaan.

Sementara Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Anung Sugihantono mengatakan, penguatan pemerintah daerah dalam program TB amat penting. Sebab, sering kali apa yang menjadi fokus dan perhatian di tingkat pusat belum tentu menjadi prioritas di daerah.

Belum terdeteksi
Padahal, masih banyak kasus TB yang belum terdeteksi dengan baik atau belum terlaporkan dengan rapi. ”Perspektif daerah kadang belum sinkron dengan pusat. Mestinya bicara soal TB ya bicara soal tanggung jawab bersama,” ungkapnya.

Di dunia, TB merupakan satu dari 10 penyakit yang banyak diderita. Setiap tahun ada sekitar 1 juta penduduk menderita penyakit tersebut.
Laporan Global TB 2018 yang diluncurkan beberapa pekan sebelum UNHLM di New York menunjukkan, diperkirakan ada 10 juta orang di dunia yang terinfeksi TB pada 2017, dan 90 persennya adalah penduduk berusia di atas 15 tahun. Mereka terdiri dari 5,8 juta laki-laki dewasa, 3,2 juta perempuan dewasa, dan 1 juta anak-anak.

Kasus TB ada di semua kelompok umur dan semua negara di dunia. Sekitar sepertiga kasus TB berasal dari delapan negara, yakni India (27 persen), China (9 persen), Indonesia (8 persen), Filipina (6 persen), Pakistan (5 persen), Nigeria (4 persen), Bangladesh (4 persen), dan Afrika Selatan (3 persen).

Delapan negara itu bersama dengan 22 negara lainnya berkontribusi pada 87 persen kasus TB global. Hanya 6 persen kasus TB di dunia berasal dari Amerika dan Eropa.

Selain TB biasa, penyakit TB yang kuman penyebabnya telah kebal obat pun terus menjadi beban kesehatan masyarakat yang besar. Diperkirakan ada 558.000 orang di dunia terinfeksi TB yang telah kebal rifampisin (obat TB lini pertama). Dari jumlah itu, 82 persen telah kebal dua atau lebih obat TB (Multidrugs Resistant TB/ MDR-TB). Hampir separuh kasus MDR-TB berasal dari India (24 persen), China (13 persen), dan Rusia (10 persen).–ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 4 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: