Home / Berita / Siswa Indonesia Raih Penghargaan di Romania

Siswa Indonesia Raih Penghargaan di Romania

Sebanyak tujuh karya penelitian siswa Indonesia yang tergabung dalam tim Indonesia untuk International Conference of Young Scientists (ICYS) 2016 ke-23 di Romania, 16-22 April 2016, meraih penghargaan. Indonesia mendapat 1 medali emas, 1 perak, 4 perunggu, dan 1 penghargaan khusus. Direktur ICYS Monika Raharti, akhir pekan lalu, menjelaskan, lomba penelitian ini diikuti lebih dari 200 peserta dari 28 negara. Emas diraih Wilbert Osmond (SMA Chandra Kusuma, Medan), dalam bidang ilmu komputer).

Perak diraih Luh Ayu Nanamy Khrinashanti Eva Susila (SMAN 4 Denpasar) dalam bidang ilmu lingkungan. Empat medali perunggu diraih Patricia Tiara (SMA St Aloysius 1 Bandung), Isabela Pu Dwi Andini, (SMA Trinitas, Bandung) di bidang ilmu komputer; Tania Suradja (SMA St Laurentia Tangerang) bidang life science; serta Kadek Adindya Pradnya Putri (SMAN 1 Denpasar) berpasangan dengan Putu Agastria Satyana (Universitas Udayana) bidang life science. Penghargaan khusus diraih Mas Daffa Muhamad (SMA Lazuardi GIS Depok) bidang Matematika. (*/ELN)

icys-ke-18-di-indonesiaproud-wordpress-com
———————–
Garin Nugroho Terima Penghargaan dari Perancis

Sutradara film Garin Nugroho menerima penghargaan di bidang seni dan sastra dari Pemerintah Perancis, “Ordre des Arts et des Lettres”. Menurut rencana, penghargaan diserahkan oleh Duta Besar Perancis untuk Indonesia Corinne Breuzé, Selasa (26/4), di kediaman duta besar. Diakui oleh semua insan perfilman, Garin merupakan pemimpin generasi baru sutradara Indonesia. Ia dinilai memiliki visi pribadi terkait dengan multikulturalisme, politik, dan komunikasi. Garin terhubung dengan Perancis berkat Festival Cannes. Dua filmnya pernah dinominasikan dalam kategori “Un certain regard”, yakni Daun di Atas Bantal pada 1998 dan Serambi pada 2006. Garin Pada tahun 1991 menyutradarai Cinta dalam Sepotong Roti yang meraih lima Piala Citra. (*/ATO)
————-
Kiprah Perempuan Diangkat dalam Film

Memaknai peringatan Hari Kartini dalam konteks kekinian, sebuah film dokumenter tentang kiprah perempuan Indonesia akan diputar di Komnas Perempuan, Jakarta, Selasa (26/4). Film berjudul Women and Impact tersebut mengangkat kisah 15 perempuan Indonesia yang berbuat bagi kemanusiaan, setara kaum pria. Berdurasi 40 menit, film ini menyuguhkan kisah diskriminasi terhadap perempuan dan kemampuan mereka bangkit melawan keadaan. Kennedy Jennifer Dhillon, pembuat film ini, mengungkapkan, salah satu kisah sosok yang diangkat adalah Christine Siahaan, aktivis ODHA. “Tanpa dibayar, perempuan ini rela mendampingi ODHA, termasuk memandikan jenazahnya,” ujar Kennedy, Minggu. Penulis buku #Fight #Pray #Hope ini menemukan keadaan di mana perempuan masih dianggap warga “kelas dua”. Banyak yang lupa bahwa dalam diri setiap perempuan juga terdapat potensi yang berdampak besar apabila digali dan diberi kesempatan. (NAR)
————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 April 2016, di halaman 12 dengan judul “Langkan”
—————
Perihal Leher Ikan

Ciri yang membedakan antara ikan dan binatang lain adalah leher. Ikan tidak memiliki leher karena mempersulit berenang cepat. Saat ikan mengembangkan leher, dikategorikan sebagai jenis binatang lain. Binatang peralihan dari ikan jadi binatang lain karena punya leher ditemukan pada makhluk Tiktaalik roseae, makhluk separuh ikan-separuh hewan berkaki empat, yang hidup 375 juta tahun silam. Fosil ikan itu ditemukan di Pulau Ellesmere, utara Kanada, tahun 2004.

Kurator paleontologi pada Akademi Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Drexel, Philadelphia, Amerika Serikat, Senin (18/4), mengatakan, sebagai ganti leher, ikan punya serangkaian tulang yang menghubungkan tengkorak dengan tulang bahu yang menempel pada sirip, seperti tulang selangka (klavikula) dan tulang belikat (skapula). “Tulang pengganti leher itu mendukung tubuh bagian depan, baik itu sirip maupun lengan,” katanya. Seiring waktu, beberapa jenis ikan berubah bentuk, kehilangan beberapa tulang penghubung tengkorak dengan bahu. Ikan T roseae, yang termasuk jenis ikan bersirip lobus, seperti ikan purba coelacanth, misalnya, kehilangan tulang penghubung tengkorak dengan bahu dan membentuk leher. Proses transisi dari ikan ke binatang berkaki empat itu berlangsung selama 20 juta tahun. Leher itu sangat berguna untuk mencari mangsa di air tawar yang dangkal. “Leher memungkinkan kepala hewan bergerak bebas, memutar kepala secara cepat untuk menangkap mangsa atau bernapas,” ujarnya. (LIVESCIENCE/MZW)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 April 2016, di halaman 14 dengan judul “kilas iptek”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: