Siamang, Gajah, Kemenyan, dan Pinus Pesona Hutan Toba

- Editor

Selasa, 14 Mei 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para pengunjung menikmati kedatangan primata siamang (Symphalangus syndactylus) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Kamis (2/5/2019) yang berada relatif dekat dengan Parapat, tempat wisata Danau Toba. Ini bisa menjadi wisata alternatif yang mendukung pariwisata prioritas nasional tersebut. Primata tersebut tinggal di habitat hutan setempat dan saat akan dilakukan pertunjukan, seorang pawang memanggil kelompok siamang beserta beruk dan monyet ekor panjang. 
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH)
2 MEI 2019

Para pengunjung menikmati kedatangan primata siamang (Symphalangus syndactylus) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Kamis (2/5/2019) yang berada relatif dekat dengan Parapat, tempat wisata Danau Toba. Ini bisa menjadi wisata alternatif yang mendukung pariwisata prioritas nasional tersebut. Primata tersebut tinggal di habitat hutan setempat dan saat akan dilakukan pertunjukan, seorang pawang memanggil kelompok siamang beserta beruk dan monyet ekor panjang. KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH) 2 MEI 2019

Abdul Rahman Manik, pawang monyet dan kera di Taman Wisata Kera Sibaganding, tampak panik dan berulang-ulang meniup terumpet tanduk kerbau yang diwarisi dari bapaknya. Ia kaget rombongan tamu yang dijadwalkan datang sejam lebih awal dari rencana semula pukul 14.00.

Awalnya, ia sudah menaksir beruk-beruk yang berada pada radius 6-7 kilometer itu akan datang sekitar pukul 14.00 pas dengan kedatangan rombongan. Alhasil, pada 2 Mei 2019, ketika Kompas mengikuti Media Visit Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi KLHK di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara, hanya tampak tiga siamang serta sejumlah monyet ekor panjang.

Para pengunjung menikmati kedatangan primata siamang (Symphalangus syndactylus) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Kamis (2/5/2019) yang berada relatif dekat dengan Parapat, tempat wisata Danau Toba. Ini bisa menjadi wisata alternatif yang mendukung pariwisata prioritas nasional tersebut. Primata tersebut tinggal di habitat hutan setempat dan saat akan dilakukan pertunjukan, seorang pawang memanggil kelompok siamang beserta beruk dan monyet ekor panjang.–KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH)–2 MEI 2019

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Para pengunjung menikmati kedatangan primata siamang (Symphalangus syndactylus) di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Kamis (2/5/2019), yang berada relatif dekat dengan Parapat, tempat wisata Danau Toba. Ini bisa menjadi wisata alternatif yang mendukung pariwisata prioritas nasional tersebut. Primata tersebut tinggal di habitat hutan setempat dan saat akan dilakukan pertunjukan, seorang pawang memanggil kelompok siamang beserta beruk dan monyet ekor panjang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Satu ekor induk betina bernama Neli yang menggendong bayinya, Tara, serta satu anak yang telah besar hanya memandang kejauhan dari ketinggian pohon. Sementara sang pejantan kelompok ini tidak tampak.

Menurut Rahman Manik, sang pejantan memang jarang turun. Biasanya, pemimpin kelompok tersebut hanya mengawasi dari kejauhan. Untuk si remaja yang juga hanya memandang dari kejauhan, ia yakin dalam waktu 2-3 bulan ini bisa membuat individu tersebut mendekat seperti Neli dan Tara.

Siamang (Symphalangus syndactylus Raffles 1821), kera berwarna hitam dengan lengan yang panjang dan kuat untuk bergelayut di atas pohon tersebut, endemis dari belantara Pulau Sumatera. Suaranya yang sangat khas berasal dari kantong suara ”gular” yang bisa menggelembung sebesar kepalanya tersebut, acap kali meramaikan suasana pagi di hutan.

Neli, Tara, dan si anak remaja relatif mudah dipanggil karena tinggal di pepohonan sekitar Taman Wisata Kera Sibaganding, yang bisa ditempuh sekitar 30 menit dari Parapat, tempat wisata dan penyeberangan Danau Toba menuju Pulau Samosir. Rahman Manik tak butuh waktu lama untuk memanggil mereka untuk datang mendekat.

Setelah siamang-siamang tersebut mendekat, pengunjung dapat memberi makan pisang yang disediakan Rahman Manik di lokasi tersebut serta berfoto-foto dengan fauna dilindungi ini.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Abdul Rahman Manik, pawang kera dan monyet, 2 Mei 2019, menunjukkan kemampuannya memanggil siamang, beruk, dan monyet ekor panjang dengan menggunakan terumpet dari tanduk kerbau di Taman Wisata Kera, Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara.

Selain kelompok siamang yang menjumpai pengunjung di hari itu, menurut peneliti BP2LHK Aek Nauli, Sriyanti Puspita Barus, KHDTK Aek Nauli juga dihuni sedikitnya oleh enam kelompok siamang lain.

Siamang dikenal sebagai jenis primata monogami atau hanya memiliki satu pasangan saja, seperti halnya owa jawa. Secara ekologi hutan, ini menempatkan siamang pada daftar fauna yang lambat dalam peningkatan populasi.

Selain siamang, Taman Wisata Kera ini juga dihuni sejumlah beruk (Macaca nemestrina) dan monyet ekor panjang. ”Tunggu sebentar Abang, sebentar beruk-beruk sudah dekat tiba di sini, paling tinggal 500-600 meter,” kata Rahman kepada Kompas saat rombongan pejabat dan sejumlah media lain beranjak meninggalkan area pertunjukan.

Benar saja, sekitar 10 menit berselang, puluhan hingga hampir 100 ekor beruk yang dipimpin pejantan berpostur tegap bernama Sadam berlarian memenuhi panggilan terumpet Rahman Manik. Sejumlah 2-5 individu beruk nyelonong masuk ke gudang makanan dan mencuri satu sisir pisang barangan serta sebungkus kacang Sihobuk ketika sang pawang lupa menutup pintu.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Pawang siamang dan monyet, Rahman Manik, Kamis (2/5/2019), memberi makan beruk dan monyet ekor panjang yang berdatangan di Taman Hutan Kera di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli, Simalungun, Sumatera Utara.

Beruk dikenal sebagai pigtailed monkey karena memiliki ekor mirip babi. Di beberapa tempat seperti Sumatera Barat, beruk dilatih dan dimanfaatkan petani untuk memanjat dan mengambil buah kelapa.

Di Sibaganding, beruk diajari oleh Rahman untuk ”memanjat” tubuh pengunjung dengan iming-iming segenggam kacang Sihobuk di tangan pengunjung. Momen ini yang tak pernah dilewatkan untuk difoto untuk mendapatkan banyak komentar di media sosial.

Suguhan atraksi
Taman Hutan Kera Sibaganding ini salah satu destinasi dalam Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Danau Toba. Tujuannya, pengunjung tak hanya menikmati panorama dan bermain air danau, tetapi mendapat suguhan atraksi dan wisata lain untuk dapat memiliki alasan memperpanjang masa kunjungan.

Selain Siamang, BP2LHK sejak hampir dua tahun ini menyuguhkan interaksi edukasi pengunjung bersama gajah sumatera yang dikirim BBKSDA Jawa Barat dari Kawasan Holiday Resort Cikampak, Labuan Batu, pada tahun 2016. Di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) ini, yang sebenarnya bukan habitat asli gajah, kini dihuni empat gajah sumatera.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Meski hutan dataran tinggi Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli di Simalungun, Sumatera Utara, bukan habitat gajah sumatera, sejak tahun lalu daerah ini memiliki empat gajah dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara. Lokasi yang diberi nama Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) ini untuk memperkenalkan masyarakat akan kehidupan gajah sumatera serta berinteraksi dengan gajah-gajah tersebut.

Gajah paling tua bernama Siti yang memiliki tendangan kayu bakar dan dikenal ”preman” serta keras kepala. Entah apa sebabnya diberi nama tendangan tersebut, tetapi tiap individu punya nama tendangan masing-masing dalam pertunjukan tendangan penalti yang disuguhkan tiap akhir pekan.

Di hari biasa, pengunjung masih bisa berinteraksi dengan ikut memandikan ataupun memberi pakan gajah. Karena menjunjung semangat edukasi, pengelolaan ANECC antara BP2LHK, BBKSDA Sumatera Utara, dan Lembaga Vesswec, semua pawang gajah atau mahout akan memberi penjelasan terkait kehidupan mamalia besar dilindungi tersebut.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan gajah yang setiap hari membutuhkan lebih dari 200 kilogram rumput ataupun sayur/buah, BP2LHK Aek Nauli merelakan 7 hektar dari 1.900 hektar luas areal KHDTK Aek Nauli untuk ditanami pakan sekaligus sarana penelitian menemukan pakan unggul dan produktif bagi gajah.

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Upaya menggeliatkan kembali Danau Toba sebagai tujuan pariwisata nasional kini didukung para peneliti hutan di Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli di Simalungun, Sumatera Utara. Ekowisata edukasi ini boleh dijajal bila anda berencana berkunjung ke Danau Toba, tertarik?

Ekowisata edukasi
Berbicara soal penelitian tumbuhan, BP2LHK pun membuka dapur risetnya bagi ekowisata edukasinya. Berada di seberang jalan masuk menuju ANECC—atau hanya terpisah jalan utama Medan/Pematang Siantar, Parapat—beberapa demonstrasi riset unggulan disuguhkan para peneliti setempat.

Mulai dari budidaya lebah trigona dan apis beserta atraksi menyedot madu langsung dari sarangnya, hingga pemanenan getah kemenyan untuk bahan pembuatan parfum serta panen resin dan serasah pinus menjadi bahan pembuatan cat serta minyak atsiri pun menjadi suguhan yang membuka cakrawala pengunjung. Demo-demo ini memberi pesan agar hutan dijaga sehingga bisa memberi manfaat bagi masyarakat.

Memanen Getah Kemenyan
Tobing, pekerja di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli di Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (2/5/2019), menunjukkan cara memanjat dan memanen getah pohon kemenyan (Styrax sp). Getah kemenyan di area Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli yang berada sekitar 7-10 kilometer dari Parapat, tempat wisata Danau Toba ini sedang dirintis untuk didapat minyak atsiri kemenyan sebagai bahan pengikat parfum. Ini bisa menjadi wisata alternatif yang mendukung pariwisata prioritas nasional tersebut.
KOMPAS/ICHWAN SUSANTO (ICH)
2 MEI 2019

KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Tobing, pekerja di Balai Penelitian Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli di Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (2/5/2019), menunjukkan cara memanjat dan memanen getah pohon kemenyan (Styrax sp). Getah kemenyan di area Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Aek Nauli yang berada 7-10 kilometer dari Parapat, tempat wisata Danau Toba, ini sedang dirintis untuk didapat minyak atsiri kemenyan sebagai bahan pengikat parfum. Ini bisa menjadi wisata alternatif yang mendukung pariwisata prioritas nasional tersebut.

Ketika pepohonan di hutan sekitar Danau Toba tak ditebangi, suplai air akan terkontrol dari daerah-daerah tangkapan airnya. Di sisi lain, berbagai fauna kera, monyet, dan burung tetap hidup dan masyarakat bisa memanfaatkan hasil-hasil hutan nonkayu, seperti getah pinus, getah kemenyan, dan madu hutan.

”Harapan kami ini akan menjadi paket wisata yang menarik yang mendukung prioritas pariwisata nasional Toba dan terlebih penting menarik perhatian masyarakat untuk melihat dan mendapatkan pengetahuan dan edukasi,” kata Sylvana Ratina, Sekretaris Badan Litbang dan Inovasi Kementerian LHK.

Danau Toba, yang bisa ditempuh dalam empat jam menggunakan mobil dari Medan menuju Parapat, diharapkan kian kaya dengan alternatif wisata yang membangkitkan geliatnya. Bukan hanya sejarah vulkanologi serta pesona alam danaunya yang sangat indah, edukasi beserta pesan-pesan konservasi hutan dan lingkungan pun menjadi nilai tambah sisi pariwisata yang berkelanjutan.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 13 Mei 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB