Home / Artikel / Si Gatotkaca, N-250

Si Gatotkaca, N-250

Prototipe komuter N-250, si Gatotkaca yang mulai dirancang tahun 1984, diresmikan pemunculannya (roll out) oleh Presiden Soeharto November 1994 yang lalu. Berbeda dengan CN-235, pesawat ini 100% hasil rancangbangun dan produksi bangsa Indonesia.

Pesawat ini mampu mengangkut penumpang 64 – 68 orang @ 90,7 kg, dengan jarak jelajah maksimum 1.481 km. Kecepatan terbang sekitar 555 km/jam (300 knot). Panjang landasan untuk take-off/ landing hanya dibutuhkan sekitar 1.219 meter dan mampu terbang selama 5 jam.

PELUANG
Kebutuhan pesawat komuter dengan kapasitas 50-70 penumpang di dunia diperkirakan akan meningkat tajam dalam kurun waktu 20 tahun mendatang. Diramalkan, kebutuhan jasa transportasi dunia, setelah deregulasi di AS baru-baru ini, akan mencapai 6.700 unit pesawat. Di antaranya, 1300 unit adalah kebutuhan negara-negara NAFTA (Meksiko, Kanada, AS). Setiap tahun akan dibutuhkan sekitar 335 unit pesawat atau 1 (satu) pesawat per hari.

Peluang ini tentu tak akan disia-siakan IPTN. Apalagi industri yang memproduksi pesawat jenis ini kini hanya tiga negara, yaitu Inggris dengan pesawat jenis ATP, gabungan negara Perancis-Italia dengan pesawat ATR-72, dan Indonesia dengan N-250-nya.

IPTN optimis bisa merebut paling tidak 10% dari pangsa pasar dunia. Selebihnya, dengan mendirikan pabrik perakitan di AS, tentunya akan lebih memperlancar penjualan pesawat produksi IPTN ini. Di atas kertas, IPTN akan sanggup meraup sekitar 700 pesawat dari pasar dunia. Apalagi AS sendiri yang anggaran untuk jaringan transportasi udaranya 400 juta dollar per tahun, cenderung memanfaatkan pesawat jenis N-250 turboprop. Hal itu cukup beralasan, karena untuk penerbangan jarak pendek – menengah (200-400 km) dan kecepatan rendah – menengah (556 km/jam), pesawat turboprop jauh lebih ekonomis dibandingkan pesawat bermesin Jet yang berkapasitas sama seperti Fokker 70.

Belum lagi pangsa domestiknya, pada PJPT II, jasa penerbangan di Indonesia akan membutuhkan 400 pesawat komuter dengan kapasitas 60- 70 penumpang. Perusahaan Merpati (MNA) saja, seperti diungkapkan Menteri Perhubungan, Haryanto Danutirto di depan anggota DPR 23 Juni lalu, memastikan memesan 100 unit pesawat N-250 (dalam kurun waktu 25 tahun), Bouraq (62), Sempati Air (16), dan perusahaan leasing AS – Swedia (FFV- Aerotech Group/Bleinheim) memesan 24 unit N-250. Sementara titik impas pesawat ini hanya 259 unit saja.

TEROBOSAN KE AMERIKA
Upaya tembus pasar potensial terus digebrak. Bahkan IPTN berniat men-dirikan pabrik perakitan N-250 di Amerika. Mengapa Amerika? Secara teoritis, pendekatan pemasaran dengan pendirian pabrik pada pasar yang pontensial disebut ‘strategi batu loncat’. Ini meniru langkah kemenangan Sekutu dalam Perang Dunia II. Dengan pendaratan tentaranya di Normandia, Sekutu sukses dalam menaklukkan Jerman.

Dengan mendirikan pabrik perakitan N-250 di AS, IPTN meraih beberapa keuntungan.

Pertama, pemberian label made in America dan peningkatan komponen lokal pada N-250 yang secara indigeneaus dirancangbangun di Indonesia dan dirakit di Amerika, dapat memperbesar kemampuan penero-bosan pasar N-250 di negara NAFTA. Potensi pasar untuk daerah ini sekitar 1300 pesawat terbang kelas 46-70 penumpang.

Kedua, dapat mengurangi biaya dan waktu sertifikasi FAA. Sebab FAA, sebagai badan berwenang yang mengeluarkan sertifikat laik terbang di, kawasan Amerika, mempunyai alasan yang cukup untuk memperioritaskan N-250 made in America itu.

Ketiga, dengan proses perakitan di Amerika, sementara suku cadang dilaksanakan di Bandung, akan dapat meningkatkan keunggulan kompetitif pesawat N-250. Ini didorong oleh citra sebagai produk AS. Bea masuk dan biaya pengangkutan pun hilang, serta kepercayaan bahwa IPTN dapat melaksanakan janji pengiriman pesawat tepat waktu dan dukungan layanan purna jual 24 jarn bagi perusahaan penerbangan AS dan negara yang terikat NAFTA lebih terjamin.

Keempat, pemasokan komponen yang berasal dari IPTN Bandung akan ikut mempengaruhi neraca perdagangan Indonesia – Amerika dalam bentuk peningkatan ekspor nonmigas ke Amerika.

Kelima, dalam rantai produksi pesawat terbang, pembuatan sukucadang dan komponen merupakan prosentase terbesar dari biaya produksi dengan pabrik yang ada di Bandung. Sementara perakitan final/akhir hanya mempunyai sumbangan kurang dari 20% biaya produksi. Jadi pabrik perakitan di Amerika itu hanya mempunyai dampak kurang lebih 20% idari biaya produksi satu pesawat N-250. Bukan keseluruhan biaya produksi.

Keenam, dengan target produksi 4 unit pesawat N-250 per bulan, hanya akan menyerap kurang lebih 800 pekerja berketerampilan tinggi (blue collar), 300 pekerja sebagai pengelola material (tooling support dan liaison engineer), dan 100 pekerja insinyur serta manager. Jadi total menyediakan lapangan kerja 1200 orang, tidak sam-pai 10 % dari total pekerja IPTN, yang 1600 orang.

Pendirian pabrik N-250 di Amerika jelas akan menguntungkan IPTN. Investasinya tidak terlalu besar, mengingat adanya pelbagai kemudahan dalam bentuk perangsang berupa potongan bagi penggunaan listrik dan gas selama 5 tahun, penyediaan kemudahan kredit jangka panjang bagi pendirian fasilitas, dan lain-lain.

LEBIH UNGGUL
Hingga kini peminat pesawat yang sarat teknologi ini meningkat terus. Ini membuktikan kepercayaan terhadap produk IPTN melebihi produk industri pesawat terbang negara lain. Contohnya, perusahaan “FFV-Aerotech Group” justru memesan N-250 ketimbang pesawat SAAB 2000 buatan Swedia. Padahal kedua pesawat itu sama-sama bermesin turboprop Allison GMA 2100 buatan AS. (catatan: sejak Mei 1994, nama perusahaan ini berubah menjadi Allison Engine Company, sehingga nama tipe mesinnya pun diganti dari GMA menjadi AE). Bedanya, SAAB 2000 memakai AE 2100-A, sedang N-250 menggunakan mesin AE 2100-C yang lebih canggih.

Keunggulan lainnya, pesawat komuter ini dilengkapi kemudi canggih fly by wire (sistem kendali secara elektrik dan komputerisasi). Tiga kendali utamanya yaitu elevator, rudder, aileron dan kendali sekunder pada flaps, spoilers, tidak diketemukan pada pesawat komuter pesaingnya seperti SAAB 2000.

Ketimbang ATP dan ATR-72, N-250 produksi IPTN lebih unggul. IPTN dalam memproduksi pesawat N-250 menggunakan teknologi tahun 90-an, sementara para pesaingnya hanya menggunakan teknologi tahun 60-an dan 70-an.

Dalam kecepatan, dengan bahan bakar yang sama, ATP memiliki daya tempuh 450 km/jam, dan ATR-72 mempunyai kecepatan 460 km/jam. Sedangkan N-250 mampu menempuh 555 km/jam.

Beberapa keunggulan teknologi N-250, antara lain:
1. Menggunakan mesin AE 2100 yang canggih. AE 2100 C dipilih karena memiliki ketahanan yang bisa diandalkan. Mesin Allison Engine Company generasi terbaru ini mempunyai ketahanan 30.000 jam terbang. Bobot gear box-nya pun relatif ringan. Perawatan mesinnya pun mudah dan irit bahan bakar.

2. Menggunakan bahan komposit dan aluminium Alloy yang menjamin keamanan penumpang. Pemakaian material konstruksi pada pesawat N-250 telah mendapat sertifikasi dan sesuai ketentuan FAA-FAR ParL 25 (Badan Keselamatan Penerbangan Amerika – Peraturan Penerbangan Part. 25). Dengan pemilihan material secara selektif, akan menambah kenyamanan argonomi pada ruang kabin dan mengurangi kebisingan.

3. Pemakaian peralatan avionik yang mutakhir. ADSC (Advance Digital Steering Controller) pada pesawat N-250 merupakan peralatan sistem pantau kemudi terpadu yang moderen. Dengan peralatan ini, pilot secara langsung bisa mengontrol sistem kendali pada roda depan (Nose Landing Gear) yang menggunakan sistem hidrolik. FADEC (Full Authority Digital Engine Control) dipasang pada N-250, merupakan peralatan sistem pantau pada aktivitas motor propulsi mesin, yang dapat dimonitor oleh pilot di ruang kokpit melalui CRT (Catode Ray Tube) dan layar monitor EICAS (Engine Indication Crew Allerting Systems). ARINC-429 FLIGHT DATA BUS, yang terpasang pada N-250, dapat mempresentasikan beberapa peralatan avionik seperti glare shield, center main instrument panel, right & left side instrument panel, yang bisa dimonitor pilot dan kopilot sewaktu menjalani rute penerbangan yang dituju.

4. Interior kabin pesawat luas. Walaupun pesawat N-250 dirancang untuk pesawat sipil antar daerah (penghubung regional), N-250 mempunyai interior terluas kelasnya. Ini akan membuat penumpang serasa berada di pesawat berbadan lebar dengan empat kursi dalam satu deret.

Berbagai keunggulan itu menjamin tingkat kenyamanan yang tinggi. Sehingga bagi penumpang yang pindah dari pesawat BOEING- 747, AIRBUS, dan MD-11 rute intemasional ke pesawat kelas komuter 50-70 penumpang yang melayani jalur domestik tidak akan merasakan perubahan kenyamanan terbang.

Adam Permasa, Peneliti pada CEPDA (Center for Economic and Political Development Analysis).

Sumber: Majalah AKUTAHU 139/DESEMBER 1994

Share
%d blogger menyukai ini: