Home / Berita / Sesium-137 yang Membuat Cemas

Sesium-137 yang Membuat Cemas

Temuan paparan radiasi tinggi di area tanah kosong di Perumahan Batan Indah, Setu, Tangerang Selatan memunculkan kekhawatiran masyarakat. Meski cepat ditangani, kecemasan lebih cepat menyebar hingga menimbulkan syak wasangka tentang nuklir.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO–Petugas Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) membawa tong yang berisi tanah dan benda lain yang terpapar radioaktif Caesium 137 ke mobil khusus.

Besarnya paparan radiasi di lokasi temuan mencapai 200 mikroSievert (µSv) per jam atau lebih dari 6.600 kali nilai ambang radiasi lingkungan sebesar 0,03 µSv per jam. Radiasi itu menurut Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Jazi Eko Istiyanto di Jakarta, Selasa (18/2/2020) bersumber dari satu zat radioaktif, sesium-137 (137CS).

137Cs adalah salah satu produk dari proses fisi di reaktor nuklir. Jika 137Cs itu akibat bocornya reaktor, dia akan muncul bersama zat radioaktif lain, seperti stronsium-90.

Selain itu, sejumlah detektor radiasi di Kawasan Nuklir Serpong (KNS) dan tempat lain yang dipantau Bapeten menunjukkan paparan radiasi dibawah ambang. Artinya, Reaktor Serbaguna GA Siwabessy di KNS yang berjarak sekitar 5 kilometer dari lokasi temuan radiasi tinggi tetap beroperasi dengan aman dan selamat. Tidak rusak.

“Ini bukan kecelakaan atau kedaruratan nuklir, tapi pencemaran limbah radioaktif ke lingkungan,” kata Menteri Riset dan Teknologi Bambang PS Brodjonegoro.

Jika reaktor aman, maka sumber paparan radioaktif kemungkinan dari penggunaan aplikasi nuklir non reaktor, seperti industri atau rumah sakit. 137Cs digunakan untuk radioterapi kanker, mengukur ketebalan bahan dan tinggi cairan dalam tangki, hingga mendeteksi kebocoran pipa.

“Belakangan, pemakaian 137Cs dalam kedokteran digantikan Cobalt-60 (60Co) karena memiliki performa lebih baik, daya tembusnya lebih besar,” kata Ketua Umum Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia Susilo Widodo.

Limbah industri
Karena itu, kemungkinan besar sumber cemaran 137Cs berasal dari industri. Bapeten mencatat sekitar 14.000 izin dari ribuan lembaga pengguna material tersebut. Jumlah 137Cs yang diimpor, ditransportasikan antartempat, hingga dilimbahkan ke Pusat Teknologi Limbah Radioaktif, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), semuanya terdata.

Kondisi itu seharusnya mempermudah dan mempercepat pelacakan siapa yang bertanggung jawab atas keberadaan 137Cs di lokasi yang tak lazim itu. “Bapeten dan Kepolisian sedang menginvestigasi,” tambah Bambang.

Selain pelacakan, pembersihan pun dilakukan cepat. Sejak 11 Februari hingga Selasa kemarin, ada 199 drum material berisi tanah dan tumbuhan dari lokasi yang terpapar radiasi tinggi. Pembersihan itu membuat paparan radiasi di lokasi tinggal 10 persen dari paparan awal 200 µSv per jam.

Pemeriksaan paparan radiasi seluruh badan (whole body counting) terhadap sembilan warga yang diduga sering beraktivitas di sekitar lokasi sumber radiasi temuan hingga kini masih dilakukan Batan. “Butuh waktu untuk memperoleh hasil,” kata Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan.

Meski penanganan sumber radiasi, pembersihan lokasi dan pemeriksaan kesehatan warga berjalan cepat, tetapi ada yang luput. Lambat dan tak lengkapnya informasi soal peristiwa dan dampak radiasi dari lembaga berwenang telah meningkatkan radiofobia atau ketakutan berlebih terhadap radiasi dan syak wasangka pada nuklir di kalangan awam.

Masyarakat awam boleh menerima paparan radiasi sebesar 1 miliSievert (mSv) atau 1.000 µµSv per tahun. Untuk pekerja radiasi, batasnya lebih tinggi. Paparan radiasi dosis tertentu bisa mengubah atau membunuh sel hingga meningkatkan risiko kanker dan pewarisan genetik.

Gejala paparan radiasi tinggi antara lain mual, muntah, hingga kulit terbakar. “Makin lama dan dekat sumber radiasi, paparan radiasi yang diterima kian besar,” kata Susilo.

Namun, masyarakat tak perlu khawatir berlebih. Luasan area sumber radiasi tinggi itu hanya 33 meter persegi. Di luar itu, masyarakat bebas beraktivitas. Karena itu, warga tak perlu khawatir melintas di jalan dekat lokasi atau berkegiatan di sekitar Setu dan Serpong, Tangerang Selatan.

Peristiwa ini adalah pelajaran berharga memitigasi bencana nuklir. Upaya cepat otoritas berwenang penting, namun komunikasi ke masyarakat juga perlu agar tak memunculkan kekhawatiran massal. Bagaimanapun, nuklir tak hanya tentang kengerian, tapi juga manfaat yang besar.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 19 Februari 2020

Share
x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...