Seolah Iptek

- Editor

Jumat, 8 April 2011

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Editor sebuah majalah keberatan dengan istilah iptek. Bukan lantaran dia muak dengan segala akronim yang direka pada masa Orde Baru, melainkan karena menurut dia ada yang mubazir di sana. Iptek merupakan akronim dari ilmu pengetahuan dan teknologi. ”Coba,” katanya. ”Ilmu searti dengan pengetahuan. Untuk apa dua kata semakna dideretkan? Saya lebih suka iltek, ilmu dan teknologi. Tak ada yang berlebihan di situ.”

Dari percakapan kami yang lapang mengenai bahasa Indonesia, saya menduga sang editor tak mengendus bahwa ilmu pengetahuan merupakan anggota keluarga kata ulang. Yang berlangsung bukan pengulangan kata an sich, melainkan penggabungan kata bersinonim untuk menyatakan keanekaan. Ilmu pengetahuan tak lain tak bukan ilmu-ilmu, sama halnya dengan tutur kata yang setali tiga uang dengan kata-kata. Ini bukan temuan baru, sekadar revitalisasi ingatan kepada kekayaan gatra kata ulang dalam khazanah bahasa-bahasa nusantara, yang barangkali tak dipunyai bahasa bangsa-bangsa yang berada di luar mandala [(950BT-1410BT), (60LU-110LS)].

Natural sciences kita padankan dengan ilmu pengetahuan alam, bukan ilmu alam. Ilmu pengetahuan alam terdiri dari astronomi, biologi, fisika, geologi, kimia, dan seterusnya. Social sciences kita pantarkan dengan ilmu pengetahuan sosial yang unsur-unsurnya berbagai bidang dalam lingkungan FISIP di universitas. Mungkin bisa ditawarkan di sini ilmu sosial sebagai padan bagi sosiologi seperti ilmu alam dulu dikenal selaku sinonim untuk fisika.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akhir-akhir ini ada upaya tak sadar di kalangan wartawan dan penulis artikel menggerus kekayaan bahasa Indonesia melalui pembunuhan kata ulang. Beberapa saya kutip dari tulisan di koran. (1) Toleransi seakan menjadi penting hari-hari ini ketika kebinekaan bangsa terancam dan tercabik. (2) Pidato itu merupakan kecelakaan fatal atas sebuah kepemimpinan: seolah presiden tak berani menghadapi dua partai politik yang dianggap balela. (3) Sederetan panjang pohon yang dulu jadi paru kota ditebang di Jalan Sudirman demi jalur bus Transjakarta.

Setakat ini seakan dan seolah tak dikenal dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Melayu. Yang dimengerti luas oleh pemakai bahasa itu adalah seakan-akan dan seolah-olah, kedua-duanya adverbia yang kebetulan bermakna sama: ’seperti’. Begitu pula dengan paru. Sebagaimana andang-andang dan usar-usar, menurut penyusun Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga, paru-paru merupakan pengulangan morfem yang mengacu pada bagian tubuh manusia. Bisa jadi penulis yang menggunakan paru pada artikelnya merupakan pelanggan warung tegal semasa mahasiswa. Di sana paru goreng dan paru semur dikenal sebagai pilihan bagi yang rudin akan asam urat.

Tak dapat diterima bahwa pembunuhan kata ulang itu atas nama ekonomi kata yang sesuai dengan tuntutan bahasa koran. Ini keliru sebab sering tersua penyia-nyiaan ”ruang” di koran dengan kata-kata mubazir oleh penulis yang enggan mempertajam pena seni mengarangnya.

Saya kira ini saat menghidupkan kembali pemakaian angka ”2” bagi penulisan kata ulang: ke-belanda2an, mata2, se-akan2, tumbuh2an, dan seterusnya. Selain menghemat ”ruang” dan tak sulit pula menciptakan program komputer pengolah kata untuk itu, hadirnya angka ”2” dalam penulisan teks menjadi penanda yang khas bagi bahasa-bahasa nusantara di antara berbagai bahasa di Alam Semesta. [SALOMO SIMANUNGKALIT]

Sumber: Kompas, 8 April 2011

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Duel di Jalur Hijau: Baterai Lithium-ion vs Hidrogen dalam Masa Depan Transportasi
Meniti Karier sebagai Insinyur Kendaraan Listrik. Panduan Lengkap dari Nol hingga Ahli
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Senin, 9 Maret 2026 - 09:50 WIB

Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?

Kamis, 5 Maret 2026 - 15:19 WIB

Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan

Berita Terbaru