Home / Berita / Sekolah Melawan Kepunahan

Sekolah Melawan Kepunahan

Belasan orangutan keluar dari hutan sore itu. Beberapa digendong pengasuh dan sebagian lain berjalan sambil menjahili temannya. Satwa-satwa itu baru pulang dari sekolah orangutan di Pusat Rehabilitasi dan Reintroduksi Program Nyaru Menteng milik Yayasan Borneo Orangutan Survival di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Senin (2/5).

Sebelum masuk ke kandang masing-masing bermain dulu di tempat permainan yang disiapkan,” kata Manajer Program Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng Denny Kurniawan.

Enam jam sebelum keluar dari hutan belasan orangutan yang berumur 4-11 tahun itu belajar di kelas masing-masing. Terdapat tiga jenjang di sekolah orangutan, yakni taman kanakkanak (TK) atau baby school,midway school, dan kandang sosialisasi. Di tiga jenjang itu terdapat enam kelas. Di kelas keenam orangutan akan dipindah ke pulau sebelum dilepasliarkan ke hutan alami.

Kelas di sekolah orangutan adalah hutan yang telah dimodifikasi untuk mengenalkan cara bertahan hidup.

Sri Rahayu (32), koordinator pengasuh orangutan, sibuk menggantungkan buah-buahan di pepohonan. Buah-buahan itu sengaja digantung agar orangutan berusaha memanjat ranting pohon untuk mendapatkannya.

“Itu melatih orangutan agar terbiasa memanjat. Sebagian besar orangutan di sini sitaan warga dan sudah lama dipelihara sehingga tidak terbiasa lagi memanjat. Padahal, memanjat itu sifat alami,” katanya.

Siang itu, Cinta, orangutan betina berumur 4 tahun, memperhatikan orangutan lain memanjat dan mengambil buah. Cinta belum berani memanjat dan terus-menerus menempel di gendongan pengasuh.

Khusus untuk Cinta, para pengasuh mengajarkannya mencari rayap di batang-batang pohon yang sudah lapuk. Begitu melihat batang lapuk, dengan sigap Cinta merobek-robek batang dan memakan rayap-rayap.

Begitu lahapnya Cinta memakan rayap hingga ia tak sadar rayap merayapi tangan dan wajahnya. “Tugas saya menjaga dan mengajarkan orangutanorangutan itu agar kembali ke sifat alaminya,” tambah Sri.

Sri adalah salah satu dari 22 pengasuh di Nyaru Menteng. Satu pengasuh mendapatkan jatah menjaga 4-5 individu orangutan.

Para pengasuh berperan sebagai induk bayi-bayi orangutan yang kehilangan induknya. Layaknya induk orangutan, pengasuh tidak hanya menghafal nama dari anak-anak asuhnya, tetapi juga memberikan kasih sayang.

Seperti Cinta yang begitu lekat dalam pelukan Sri. Cinta bahkan kerap cemburu jika ada bayi orangutan lain digendong Sri. Tak segan-segan Cinta mencubit atau menggigit kaki atau tangan Sri tanda kesal.

Kemiripan DNA
Orangutan adalah satwa dilindungi dan diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam. Terdapat begitu banyak alasan mengapa orangutan dilindungi.

CEO Yayasan BOS Jamartin Sihite mengungkapkan, penelitian tentang orangutan sudah begitu banyak dan hasil yang paling menggugah adalah orangutan memiliki DNA mirip dengan manusia. Kemiripan mencapai 97 persen.

“Kami baru saja menemukan orangutan albino, perbandingannya 1:40.000 orangutan. Itu menandakan apa yang dialami pada tubuh manusia juga bisa dialami oleh orangutan,” kata Jamartin.

Sebelum masuk ke sekolah, orangutan diobservasi terlebih dahulu di tempat karantina. Di tempat itu orangutan menjalani tes kesehatan, penyakit yang didiagnosis, seperti herpes, TBC, malaria, dan tifus.

Saat ini di Nyaru Menteng terdapat 448 orangutan yang sedang direhabilitasi dan direintroduksi. Kelas enam merupakan kelas terakhir.

Sebelum dilepas orangutan akan dipindah ke areal khusus. Salah satunya adalah Pulau Salat di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Di pulau seluas 655 hektar itu terdapat 24 orangutan kelas enam. Ke-24 satwa itu kandidat terbaik untuk dilepas ke hutan alami. “Kami tetap memantau dan memberikan makanan selama di pulau,” ujar Jamartin.

Di Pulau Salat, orangutan menjalani masa pra-pelepasliaran selama satu tahun lebih, bergantung pada perkembangan satwa itu. Jika orangutan dinilai bisa berkembang, yakni mencari makan sendiri dan bertahan dari serangan hewan liar lain, berarti siap dilepas ke hutan yang lebih besar dan lebih alami.

Di Kalimantan Tengah terdapat dua tempat pelepasliaran, yakni di Hutan Lindung Bukit Batikap, Kabupaten Murung Raya; dan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kabupaten Katingan. Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah, BOS sudah 16 kali melakukan pelepasliaran di dua tempat tersebut.

Sejak 2012, Yayasan BOS di Nyaru Menteng telah melepasliarkan 167 orangutan ke habitat alami di Hutan Lindung Bukit Batikap dan 29 individu orangutan ke TNBBBR. BOS menargetkan tahun 2017 ini bisa melepas 100 orangutan lagi.

Kepunahan dan habitat
Populasi orangutan saat ini masuk dalam kategori critically in danger (sangat terancam punah). Penyebabnya, antara lain, konversi hutan ke perkebunan, hilangnya habitat, kebakaran, dan konflik dengan manusia.

Berdasarkan data Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Tengah, selama 24 tahun sejak 1990, tutupan hutan yang hilang mencapai 3,177,671 hektar atau rata-rata 132,402.98 hektar per tahun. Sampai tahun 2014, luas tutupan hutan menjadi 7,6 juta hektar dari 8,7 juta hektar.

Hilangnya tutupan hutan seiring dengan rusaknya habitat dan turunnya populasi orangutan di Indonesia. Populasi orangutan di Sumatera kini tinggal 6.667 ekor, sedangkan di Kalimantan 36.125 ekor. Populasi itu terus menurun seiring hancurnya habitat. Dengan laju konversi hutan menjadi lahan sawit sekitar 520.000 hektar atau seluas Pulau Bali per tahun, nasib orangutan hanya soal waktu untuk punah (Kompas, 18 November 2015).

Sekolah itu menciptakan kondisi baru dalam kehidupan orangutan dan pemahaman manusia terhadap betapa pentingnya menyelamatkan orangutan. Sifat alami orangutan yang kerap membuang biji buah yang dimakan dinilai sebagai bentuk orangutan membangun hutan tetap lebat.

Jamartin menambahkan, orangutan membuat sarang dengan membuka ranting-ranting penutup agar sinar matahari bisa masuk dan menyinari tumbuhan di bawahnya. Namun, hal itu tidak akan terjadi jika perusahaan dan pemerintah tetap mengonversi hutan menjadi perkebunan dengan tidak mempertimbangkan dampaknya.

“Orangutan yang sudah lulus dari sekolah akan dilepasliarkan. Semakin nakal semakin pintar. Artinya, ia akan mampu bertahan hidup,” ungkap Jamartin.–DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 Mei 2017, di halaman 23 dengan judul “Sekolah Melawan Kepunahan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: