Home / Berita / Sejarah di Tangan Anak-anak Muda

Sejarah di Tangan Anak-anak Muda

Sejarah di tangan anak muda Kota Cirebon, Jawa Barat, adalah perjalanan yang menantang, penuh pertanyaan, dan merangsang untuk terus menelusuri labirin rahasia. Kegairahan itu dirasakan oleh sekumpulan pemuda yang tergabung dalam Komunitas Reebon 81, yang rutin beraktivitas.

Mereka rutin setiap pekan belajar sejarah dan menyambangi situs bersejarah di kota itu.

Komunitas Reebon 81 dibentuk pada 28 September 2014 di SMA Negeri I Cirebon oleh tiga perintis, yakni Iga Endang Nurselly (17), Rifky Dwi Hartono (16), dan Ratna Dewi Utami (28). Iga dan Rifky adalah siswa kelas XI di sekolah itu. Ratna adalah guru Sejarah yang dengan caranya ingin mendorong anak didiknya mencintai sejarah.

”Kami namai komunitas ini Reebon karena terinspirasi dari kata rebon, artinya udang kecil. Kami ibarat udang kecil yang masih muda. Reebon juga singkatan dari Historee Cirebon. Angka 81 menunjukkan alamat sekolah kami di Jalan Wahidin Nomor 81,” tutur Iga yang menjadi Ketua Reebon 81.

Ketiganya adalah pendekar karena kenekatan dan kerja keras mereka berhasil mengumpulkan 70 siswa untuk turut serta dalam komunitas itu. ”Siswa sebenarnya banyak yang suka sejarah. Hanya perlu cara khusus untuk menarik minat mereka. Untungnya saya ketemu Pak Mustaqim (Mustaqim Asteja) dalam sebuah seminar sejarah di SMA Negeri 7 Cirebon. Dari sana, kami mendapatkan ide pembentukan komunitas sejarah,” ungkap Ratna, yang oleh siswanya dipanggil dengan Bu Nana.

Komunitas Reebon 81Nana sibuk mengatur pernak-pernik dan kerajinan karya anak didiknya di stan mereka dalam Pameran Produk Daerah Perbatasan, beberapa waktu lalu, di Cirebon Super Blok Mall. Pada layar televisi dinding ditampilkan film sejarah Kota Cirebon karya Mustaqim Asteja, Koordinator Komunitas Pusaka Cirebon Kendi Pertula.

Di meja kecil dalam stan itu terdapat tumpukan piring plastik dan hidangan mi goreng, sambal oncom, sambal kacang, kerupuk melarat, dan bakwan goreng. ”Silakan, sambil mencicipi makanan khas Cirebon, sambal asem dan sambal oncom, menonton sejarah Cirebon,” tutur Nana. Hidangan itu dibuat oleh Iga dan dua kawannya, Intan Putri Fatimah (16) dan Agnes Yolandani (16).

Bantuan ke mana-mana
Reebon 81 menjadi peserta pameran produk itu. ”Kami mengajukan permohonan bantuan ke mana-mana. Kami ingin ikut dalam pameran ini agar kekayaan sejarah Cirebon bisa diketahui orang banyak. Selama ini, sejarah Cirebon tak banyak terungkap,” kata Nana.

Selama sebulan mereka menyiapkan segala keperluan untuk stan itu. Segala yang ditampilkan harus tentang Cirebon dan sejarahnya serta menyertakan pula produk kreatif mereka. ”Seru. Menantang,” ujar Iga.

Bagi Iga dan anggota Reebon 81 yang lain, keseruan saat menyiapkan stan itu masih kalah menantang daripada minggu-minggu yang mereka lewati bersama. Setiap pekan mereka berjalan kaki menuju situs sejarah Cirebon sembari memotret dan mencatat informasi baru yang diperoleh. Mustaqim yang memandu mereka.

”Belajar sejarah itu menyenangkan. Selalu ada hal yang baru dan bikin penasaran. Maunya ingin terus bertanya dan menggali, seperti tak ada habisnya. Panas, tetapi senang,” papar Iga, siswa kelahiran Bandung yang jatuh cinta pada Cirebon setelah pindah ke kota itu saat duduk di bangku sekolah dasar.

”Saya baru tahu bahwa ada empat kompleks keraton di Cirebon. Ada Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan. Setiap keraton punya ceritanya sendiri. Seru banget,” seru Agnes yang asli Cirebon. Intan, yang asli Sumedang, Jawa Barat, pun mendukung.

Rifky, yang lahir di Indramayu, Jawa Barat, Wakil Ketua Reebon 81, juga gemar arkeologi. ”Saya pernah ikut pelatihan yang diadakan Balai Arkeologi Bandung untuk meneliti bangunan bersejarah selama empat hari. Selama pelatihan, saya terus bertanya-tanya. Saya heran, kok, bisa nenek moyang membuat bangunan seperti itu,” tuturnya.

Kurang diperhatikan
Anak-anak itu bertanya, mengapa banyak bangunan bersejarah di Kota Cirebon cenderung kurang terawat dan tak diperhatikan pemerintah daerah. Iga menyebut Goa Sunyaragi, goa kuno yang dibangun dari batu karang, yang kini sering disinggahi sebagai tempat pacaran. ”Sayang sekali sebab itu kawasan yang unik, tetapi tidak terawat. Padahal, mungkin hanya Cirebon yang punya goa dari batu karang,” ujarnya.

Antusiasme anak muda Cirebon itu terhadap sejarah bisa ditemukan Mustaqim. Setiap Minggu, ia membawa mereka ”jalan-jalan”. Sambil bernyanyi dan santai, Mustaqim membawa pengeras suara menjelaskan situs, mulai dari asal-usul namanya, maknanya, peran pentingnya, hingga problematikanya.

”Pada anak muda ini sebenarnya Cirebon bergantung. Tak hanya Cirebon, tetapi Indonesia pada umumnya bergantung pada pemuda. Sekarang ini tidak banyak anak muda yang mau mengenal sejarah. Bukan berarti tidak ada sama sekali. Namun, sekali ada rasa tertarik, mereka perlu diasah dan dipandu agar minatnya diperkuat,” ujarnya.

Pengabaian terhadap sejarah berdampak luas pada wawasan dan tata pikir warga sebuah kota dan masyarakat. Mustaqim mencontohkan tata kota Cirebon yang makin semrawut sebagai akibat dari pemimpin dan warga kota yang abai sejarah.

”Cirebon sekarang banjir. Padahal, Kota Cirebon mempunyai pompa pembuangan di Taman Ade Suryani (kawasan Pelabuhan Cirebon) yang dibangun Belanda. Pompa itu disertai dengan saluran drainase yang besar langsung menuju ke lautan. Kini ke mana itu semua? Teknologi itu sekarang dibiarkan rusak dan pembangunan tak beraturan membuat drainase tersumbat,” ungkapnya.

Oleh: Rini Kustiasih

Sumber: Kompas, 22November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: