Home / Berita / Seandainya Mereka (Harimau) Bisa Bicara…

Seandainya Mereka (Harimau) Bisa Bicara…

Minggu, 4 Maret, gambar mayat harimau yang terkoyak perutnya beredar viral di media sosial. Jasadnya menjadi tontonan. Tubuhnya telah menjadi sasaran entah kemarahan atau ketakutan warda di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Kejadian ini menjadi catatan ironis, karena terjadi sehari setelah peringatan Hari Satwa Liar Sedunia yang jatuh pada 3 Maret.

Kejadian tersebut berawal dari kemunculan harimau di Desa Bangkelang, Hutapangan, Ampung Siala, Kecamatan Batang Natal, Mandailing Natal pada 16 Februari lalu, yang berakhir dengan terlukanya dua warga. Upaya pihak yang berwenang, untuk mengatasi konflik warga dengan harimau, tak membuahkan hasil. Justru muncul penolakan dari masyarakat terhadap petugas.

Menurut laporan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Hotmauli Sianturi, 10 orang dari BBKSDA Sumut, Balai Taman Nasional Batang Gadis, dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) IX disekap atau disandera di salah satu rumah warga.

“Ini hal aneh. Kami ingin membantu namun justru tidak boleh masuk ke desa itu,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno, Senin (5/3), saat dihubungi di Jakarta.

BALAI BESAR KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM SUMATERA UTARA–Petugas bersiap membakar bangkai harimau Sumatera yang tewas dibantai warga di Kecamatan Batang Natal Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Minggu (4/3). Sejumlah organ tubuh harimau hilang seperti kulit, kuku, taring, dan kuku. Kerusakan habitat Taman Nasional Batang Gadis membuat harimau turun ke permukiman.

Sunarto, spesialis satwa liar World Wildlife Fund (WWF), mengatakan, “(Kejadian itu) harus jadi pembelajaran. Seharusnya bisa mencari pendekatan lain misalnya melalui tokoh masyarakat dan yang terpenting adalah kehadiran petugas sebelum masalah membesar.”
Dia mengapresiasi apa yang dilakukan petugas BBKSDA Sumut dan yang lainnya sejak kemunculan harimau pada Februari lalu. “Memang tidak mudah karena daerah yang diduga bermasalah begitu luas,” ujarnya. Luas Taman Nasional Batang Gadis, habitat harimau tersebut, sekitar 720.000 hektar.

Turunnya harimau ke desa bisa menjadi petunjuk adanya ketidakseimbangan rantai makanan, ataupun karena ada gangguan. “Bisa akibat dari banyaknya perburuan sehingga terdapat rantai yang putus. Atau kemungkinan pernah diganggu: anaknya diambil atau pernah kena jerat. Dia mencari-cari untuk membalas dendam. Itu problem psikologi satwa liar seperti itu. Mereka sebenarnya tidak mau bertemu manusia,” tambah Wiratno.

Hotmauli mengatakan, pembantaian harimau tersebut tidak hanya upaya penyelamatan diri warga, tetapi jugaada upaya perburuan dan jual-beli organ satwa yang dilindungi. Selain itu juga terkait dengan perambahan hutan secara ilegal. (Kompas, 6/3)

Wiratno maupun Sunarto belum bisa memastikan apakah kondisi setempat telah memberikan tekanan kepada harimau sehingga turun ke desa. Di tengah taman nasional memang terdapat konsesi pertambangan.
“Ini harus dilihat secara makro. Bisa jadi masyarakat yang menjadi korban karena tekanan habitat terhadap harimau. Bisa dipandang dari sisi yang berbeda,” ungkap Sunarto.

Ancaman
Harimau sumatera, menurut Sunarto, merupakan harimau paling unik karena merupakan satu-satunya harimau pulau (island tiger). “Dia secara genetik, morfologi, dan ekologi berbeda dengan harimau daratan Asia (mainland) lainnya seperti di Malaysia, India, Indochina, sampai ke Rusia. Mereka satu sub-spesies, sementara harimau sumatera satu sub-spesies lain yang berbeda,” kata Sunarto.

Saat ini diperkirakan jumlah harimau sumatera menurut IUCN (Badan Konservasi Dunia) sekitar 371-1.200 individu. “Upaya menghitung ini belum optimal karena mahal. Namun, saat ini juga masih terus terjadi habitat loss (habitat hilang), meski tidak semasif dulu karena lokasi semakin sulit terjangkau,” tambahnya.

Ancaman terhadap populasi harimau sumatera ada pergeseran dalam lima tahun terakhir. “Sekitar 5-10 tahun lalu kami percaya hilangnya habitat ancaman utama. Namun, dalam lima tahun terakhir kami menganggap perburuan sebagai ancaman utama sebab ditemukan meningkatnya temuan jerat,” kata Sunarto.

Di beberapa negara yaitu Kamboja, Laos, Myanmar, dan Vietnam, harimau sudah hilang. “Terjadi sindrom empty forest. Hutan di Vietnam luas, juga di Myanmar masih luas, Kamboja amat luas, namun hewannya habis. Ini sudah disadari 15 tahun lalu. Itu akibat perburuan yang tinggi,” katanya.

Hotmauli menilai, pembantaian harimau tersebut bukan hanya upaya penyelamatan diri warga, tetapi ada upaya perburuan dan jual-beli organ satwa yang dilindungi. Selain itu, pembantaian harimau tersebut juga terkait erat dengan perambahan hutan secara illegal. (Kompas, 5/3)

Wiratno mengatakan, KLHK akan mengirim tim mendampingi desa tersebut, tinggal di desa itu sekitar sebulan. “Tinggal di lapangan untuk mencari tahu sejarah konflik di daerah itu, mencari kemungkinan ada pemburu dan kemungkinan ada illegal logging. Biasanya mereka hanya patroli,” katanya.

Pembangunan
Persoalannya dalam pembangunan yang berderap cepat, apakah harimau dipandang sebagai unsur penting bagi manusia? Secara legal, harimau tentu dianggap penting karena dilindungi oleh peraturan. Pada praktiknya, tambah Sunarto, masih tarik ulur karena ada pihak yang memiliki akses terhadap perencanaan ruang.

Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup pertama, melihat bahwa manusia hanya melihat alam terlepas dari isi hewan lainnya di alam. “Mereka hanya melihat alam sebagai tanah, hutan, dan pohon, dan bukan melihat mahluk hidup yang ada di dalamnya. Maka hewan yang bisa melawan manusia dimusuhi. Mereka tidak melihat bahwa alam termasuk mahluk hidup di dalamnya harus diatur. Karena kita butuh hewan-hewan itu,” ujar Emil.

Sunarto menegaskan, secara mendasar perlu ada pendefinisian kembali apa definisi pembangunan. “Pembangunan itu didefinisikan seakan-akan hanya infrastruktur, pembangunan fisik. Itu paradigmanya. Pernahkah, aktivitas menjaga hutan didefinisikan sebagai pembangunan? Pernahkan kita melihat, menjaga aset yang amat diperlukan untuk dukung kehidupan kita dianggap sebagai pembangunan? Kalau masih salah kaprah. Apa yang bisa diharapkan?” ujar Sunarto. Dia menyadari bahwa tak mudah mengubah paradigma pemerintah dan pengusaha.
Emil menambahkan, “Dalam pembangunan yang mengubah ruang, apakah diperhitungkan wilayah gerak dari hewan? Harimau memiliki ruang gerak yang dia butuhkan untuk berpindah pada saat musim kemarau dan saat musim penghujan. Sudah ada jalurnya. Apakah itu kita perhatikan?” tanyanya.

Dia juga mendorong agar ada satu peta, dan berdasarkan peta tersebut ditetapkan ruang untuk konservasi, eksploitasi, dan permukiman misalnya. “Bicara satu peta selalu tidak seksi, sehingga pembangunan berbasis ruang tidak terarah,” katanya.

Kerugian pada ekosistem
Sementara itu penelitian yang dilakukan Institute for Ocean Conservation Science at Stony Brook University didukung The Pew Charitable Trusts menemukan bahwa hilangnya predator puncak seperti kucing besar, bison, serigala, dan hiu telah mengganggu keseimbangan ekosistem.

Penelitian yang dilakukan Ellen K Pikitch dan penulis utamanya James A. Estes menemukan bahwa berkurangnya singa dan leopard di sub-sahara Afrika menyebabkan populasi baboon meningkat pesat. Akibatnya parasite baboon melompat ke manusia.

Perburuan paus besar-besaran mengakibatkan meledaknya jumlah plankton sehingga mengakibatkan meningkatnya jutaan ton gas karbondioksida ke atmosfer yang berkontribusi pada pemanasan global.

Di sisi lain, hewan seperti harimau sumatera tidaklah berlaku di luar instingnya. Namun, entah karena dorongan apa, yang masih akan diteliti, dia terjebak di hadapan kerumunan manusia yang merasa diri berada di tingkat teratas ciptaan. Maka harimau itu pun mati mengenaskan. Tak ada yang peduli tentang apa yang mendorong nalurinya. Seandainya dia bisa bicara….–BRIGITTA ISWORO LAKSMI

Sumber: Kompas, 7 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: