Home / Berita / Satu Dekade AirAsia Konsisten Wujudkan Mimpi

Satu Dekade AirAsia Konsisten Wujudkan Mimpi

Selasa, 17 Juli 2018, menjadi hari istimewa bagi AirAsia. Maskapai penerbangan berslogan ”Now Everyone Can Fly” itu meraih tiga penghargaan sekaligus dalam ajang Skytrax World Airline Awards 2018 yang diadakan di London, Inggris. Penghargaan itu menjadi tonggak baru perkembangan AirAsia selanjutnya.

Ketiga penghargaan itu adalah AirAsia dinobatkan sebagai Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia untuk yang kesepuluh kalinya berturut-turut sejak 2008, AirAsia X juga terpilih sebagai Kabin Premium Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia selama enam tahun berturut-turut, dan AirAsia meraih kategori Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Asia.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–AirAsia Group CEO and AirAsia X Co-Group CEO Tan Sri Tony Fernanades (memegang mik) menyampaikan keterangan pers kepada para wartawan di Malaysia, Selasa (17/7).

Penghargaan itu diterima langsung AirAsia Co-Founder, Executive Chairman AirAsia Group Berhad and Group CEO AirAsia X Datuk Kamarudin Meranun di The Langham, London, sekaligus diumumkan secara resmi di Kuala Lumpur, Malaysia, oleh AirAsia Group CEO and AirAsia X Co-Group CEO Tan Sri Tony Fernandes. ”Kami sangat berbahagia. Ini pencapaian yang luar biasa,” kata Tony dengan senyum berkembang di hadapan para wartawan, Selasa (17/7/2018) malam.

Manfaatkan teknologi
Tony mengatakan, AirAsia merupakan maskapai berbiaya hemat yang sesungguhnya. Sebab, meski berbiaya hemat, kualitas dan prioritas pelayanan kepada pelanggan tetap dikedepankan. ”Kami percaya maskapai berbiaya hemat bukan berarti low quality. Kami selalu menempatkan pelanggan sebagai yang utama,” ujarnya. Tony menyebutkan, AirAsia akan lebih memberikan nilai tambah dengan layanan yang bersifat lebih personal dengan pemanfaatan teknologi dan pengembangan web.

Layanan kemudahan dari pemanfaatan teknologi ini, antara lain, tampak dari penggunaan mesin check in mandiri (self check in) yang ada di sekitar konter check in AirAsia di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2. Penumpang tinggal memasukkan kode pemesanan dan memindai (scan) paspor (tanda pengenal) di mesin. Kemudian, terbitlah boarding pass.

Bahkan, untuk meregistrasi barang bawaan guna dimasukkan ke bagasi, penumpang dapat melakukannya sendiri. Koper atau tas yang hendak dimasukkan ke bagasi tinggal ditimbang di samping mesin registrasi, selanjutnya akan muncul berat koper dan tercetaklah stiker identitas untuk ditempel di koper penumpang. Jika muncul kebingungan, petugas dari AirAsia akan siap membantu. Dengan teknologi, antrean mengular dapat dihindari dan pelayanan AirAsia pun efisien.

Pada malam yang penuh kebahagiaan di Kuala Lumpur itu, Tony yang didampingi para CEO AirAsia dari sejumlah negara juga menyampaikan, salah satu karakteristik maskapai berbiaya hemat adalah mampu mengembangkan pasar. ”Contohnya Bandung. Ketika AirAsia masuk ke Bandung dengan penerbangan internasional ke Kuala Lumpur, saat itu belum ada penerbangan internasional sama sekali di Bandung. Bandung punya potensi. Indonesia bukan hanya Bali dan Jakarta,” kata Tony.

Sekilas AirAsia
Tony bersama Datuk Kamarudin membeli perusahaan maskapai domestik Malaysia sebagai cikal bakal AirAsia senilai 1 ringgit Malaysia (sekitar 0,25 dollar AS) dengan jumlah utang 40 juta ringgit Malaysia. Dengan AirAsia itulah, mimpi Tony agar siapa pun bisa terbang menjadi kenyataan karena tarif hemat yang ditawarkan AirAsia dapat menjangkau lebih banyak orang.

PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID) secara resmi menjadi perusahaan induk dari PT Indonesia AirAsia (IAA) pada 29 Desember 2017. PT AirAsia Indonesia Tbk yang sebelumnya dikenal dengan nama PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk (RMPP) adalah perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai perusahaan jasa penerbangan, perseroan memiliki satu kantor pusat dan mengoperasikan 33 kantor pelayanan dan penjualan yang tersebar di semua kota besar di Indonesia. AAID dimiliki Grup AirAsia yang berpusat di kota Kuala Lumpur, Malaysia, dan melayani jaringan penerbangan ke lebih dari 130 destinasi. Perseroan memiliki dan mengendalikan 17 pesawat yang mempunyai rata-rata umur pesawat selama 6,5 tahun.

MEGANDIKA WICAKSONO–Kenyamanan dan keterbukaan tanpa sekat menjadi ciri khas RedQ, kantor AirAsia di Malaysia yang berada di sekitar bandara udara Internasional Kuala Lumpur 2. Suasana kerja yang nyaman dan inspiratif ini menjadi perangsang agar para Allstar, julukan bagi karyawan AirAsia, bekerja secara optimal.

Perseroan memiliki total 157 rute yang telah disetujui dalam surat izin angkutan udara niaga berjadwal dengan 85 rute penerbangan domestik dan 72 rute penerbangan internasional. Pada tahun 2017, perseroan telah mengoperasikan 9 rute domestik dan 21 rute internasional yang dioperasikan melalui 4 hub, yaitu di Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya. Pada kuartal I-2018, IAA mencatat jumlah penumpang menjadi 1,121 juta orang dengan tingkat keterisian pesawat sebesar 80 persen.

Adapun Grup AirAsia yang berpusat di kota Kuala Lumpur, Malaysia, melayani jaringan penerbangan ke 135 destinasi yang tersebar di 25 market. Grup AirAsia mengoperasikan 321 rute domestik dan internasional, termasuk 97 rute unik di dalamnya, yang dioperasikan melalui 22 hub, yaitu Malaysia 5 hub, Thailand 6 hub, Indonesia 4 hub, India 3 hub, Filipina 3 hub, dan Jepang 1 hub. Grup AirAsia memiliki 4.983 penerbangan mingguan di seluruh market. Grup AirAsia memiliki jumlah karyawan sejumlah 19.953 Allstar, julukan bagi karyawan AirAsia.

Chairwoman AirAsia X Tan Sri Rafidah Aziz menyampaikan, keberhasilan dan pencapaian Grup AirAsia dan Grup AirAsia X merupakan kontribusi langsung dan jerih payah dari setiap Allstar. ”Oleh karena itu, tingkat kompetensi, efisiensi, dan kinerja harus terus didorong dan ditingkatkan agar perusahaan dapat mempertahankan kualitas kelas dunia dalam industri penerbangan regional dan global yang sangat kompetitif. Setiap orang harus berusaha untuk menjadi aset terbaik bagi Grup AirAsia dan Grup AirAsia X,” katanya.

”Face recognition”
CEO Group AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan menambahkan, maskapai penerbangan AirAsia juga menyiapkan layanan pengenalan wajah atau biometric face recognition untuk mempermudah proses boarding. Pemanfaatan teknologi dioptimalkan guna meningkatkan pelayanan kepada penumpang sekaligus demi keamanan.

”Nanti saat boarding juga memakai face recognation sehingga bisa betul-betul membuat zero error kalau misalnya ada paspornya palsu, atau ada orang yang sepatutnya tidak terbang, tapi terbang,” kata Dendy. Saat ini masih diujicobakan di Bandara Internasional Senai di Johor Bahru, Malaysia.

Menurut Dendy, inovasi itu juga menjadi salah satu terobosan untuk menjaga kesetiaan pelanggan serta mewujudkan komitmen atas penghargaan Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia untuk yang kesepuluh kalinya yang diterima dalam ajang Skytrax World Airline Awards 2018 di London. ”Kami mengedepankan pelayanan. Pengalaman itu tidak hanya pada saat penerbangan, tapi betul-betul pada saat mereka mau mulai booking, kemudian check in, lalu boarding, hingga mereka sampai ke destinasi. Itu akan menjadi tujuan utama kami. Inovasi-inovasi akan tetap dilakukan untuk mengarah ke sana,” katanya.

Dendy juga menyampaikan, tantangan pengembangan bisnis penerbangan di Indonesia antara lain ketersediaan slot penerbangan, perlunya terminal khusus untuk maskapai berbiaya murah, ketidakstabilan harga bahan bakar, serta infrastruktur terintegrasi dari dan menuju bandara. ”Tantangan terbesar ada di slot penerbangan. Harus dipikirkan bagaimana supaya bandara jauh lebih efisien. Sekarang ini masih banyak penerbangan menumpuk di golden time. Di jam-jam tertentu bandara itu sibuk apakah mungkin itu bisa di-separate (dipisah). Bandara yang beroperasi 24 jam juga tidak banyak. Misalnya, Yogyakarta, Bandung, Surabaya tidak 24 jam. Itu tentunya menyulitkan konektivitas kami,” katanya.

Terkait infrastruktur, lanjut Dendy, misalnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati perlu dilengkapi dengan fasilitas kereta api, tidak hanya jalan tol. ”Kertajati untuk sementara (AirAsia) belum masuk, masih di Bandung. Masalahnya Kertajati ini jaraknya hampir 80 kilometer dari Bandung. Memang pemerintah masih menyiapkan jalan tol, tapi tetap diperlukan transportasi kereta untuk menghubungkan Bandung-Kertajati. Contohnya seperti di Kuala Lumpur ini, dari bandara KLIA 1 dan 2 ke pusat kota Kuala Lumpur hampir sekitar 70 km, tapi ada layanan kereta sekitar 30 menit,” katanya.

Indonesia dengan kekayaan destinasi wisata yang tersebar dari Sabang hingga Merauke memerlukan konektivitas untuk dapat menjangkaunya. Kiranya segala pembangunan infrastruktur di dalam negeri dan konsistensi AirAsia saling berpadu memajukan Indonesia.–Satu Dekade AirAsia Konsisten Wujudkan Mimpi

Selasa, 17 Juli 2018, menjadi hari istimewa bagi AirAsia. Maskapai penerbangan berslogan ”Now Everyone Can Fly” itu meraih tiga penghargaan sekaligus dalam ajang Skytrax World Airline Awards 2018 yang diadakan di London, Inggris. Penghargaan itu menjadi tonggak baru perkembangan AirAsia selanjutnya.

Ketiga penghargaan itu adalah AirAsia dinobatkan sebagai Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia untuk yang kesepuluh kalinya berturut-turut sejak 2008, AirAsia X juga terpilih sebagai Kabin Premium Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia selama enam tahun berturut-turut, dan AirAsia meraih kategori Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Asia.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–AirAsia Group CEO and AirAsia X Co-Group CEO Tan Sri Tony Fernanades (memegang mik) menyampaikan keterangan pers kepada para wartawan di Malaysia, Selasa (17/7).

Penghargaan itu diterima langsung AirAsia Co-Founder, Executive Chairman AirAsia Group Berhad and Group CEO AirAsia X Datuk Kamarudin Meranun di The Langham, London, sekaligus diumumkan secara resmi di Kuala Lumpur, Malaysia, oleh AirAsia Group CEO and AirAsia X Co-Group CEO Tan Sri Tony Fernandes. ”Kami sangat berbahagia. Ini pencapaian yang luar biasa,” kata Tony dengan senyum berkembang di hadapan para wartawan, Selasa (17/7/2018) malam.

Manfaatkan teknologi
Tony mengatakan, AirAsia merupakan maskapai berbiaya hemat yang sesungguhnya. Sebab, meski berbiaya hemat, kualitas dan prioritas pelayanan kepada pelanggan tetap dikedepankan. ”Kami percaya maskapai berbiaya hemat bukan berarti low quality. Kami selalu menempatkan pelanggan sebagai yang utama,” ujarnya. Tony menyebutkan, AirAsia akan lebih memberikan nilai tambah dengan layanan yang bersifat lebih personal dengan pemanfaatan teknologi dan pengembangan web.

Layanan kemudahan dari pemanfaatan teknologi ini, antara lain, tampak dari penggunaan mesin check in mandiri (self check in) yang ada di sekitar konter check in AirAsia di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2. Penumpang tinggal memasukkan kode pemesanan dan memindai (scan) paspor (tanda pengenal) di mesin. Kemudian, terbitlah boarding pass.

Bahkan, untuk meregistrasi barang bawaan guna dimasukkan ke bagasi, penumpang dapat melakukannya sendiri. Koper atau tas yang hendak dimasukkan ke bagasi tinggal ditimbang di samping mesin registrasi, selanjutnya akan muncul berat koper dan tercetaklah stiker identitas untuk ditempel di koper penumpang. Jika muncul kebingungan, petugas dari AirAsia akan siap membantu. Dengan teknologi, antrean mengular dapat dihindari dan pelayanan AirAsia pun efisien.

Pada malam yang penuh kebahagiaan di Kuala Lumpur itu, Tony yang didampingi para CEO AirAsia dari sejumlah negara juga menyampaikan, salah satu karakteristik maskapai berbiaya hemat adalah mampu mengembangkan pasar. ”Contohnya Bandung. Ketika AirAsia masuk ke Bandung dengan penerbangan internasional ke Kuala Lumpur, saat itu belum ada penerbangan internasional sama sekali di Bandung. Bandung punya potensi. Indonesia bukan hanya Bali dan Jakarta,” kata Tony.

Sekilas AirAsia
Tony bersama Datuk Kamarudin membeli perusahaan maskapai domestik Malaysia sebagai cikal bakal AirAsia senilai 1 ringgit Malaysia (sekitar 0,25 dollar AS) dengan jumlah utang 40 juta ringgit Malaysia. Dengan AirAsia itulah, mimpi Tony agar siapa pun bisa terbang menjadi kenyataan karena tarif hemat yang ditawarkan AirAsia dapat menjangkau lebih banyak orang.

PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID) secara resmi menjadi perusahaan induk dari PT Indonesia AirAsia (IAA) pada 29 Desember 2017. PT AirAsia Indonesia Tbk yang sebelumnya dikenal dengan nama PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk (RMPP) adalah perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai perusahaan jasa penerbangan, perseroan memiliki satu kantor pusat dan mengoperasikan 33 kantor pelayanan dan penjualan yang tersebar di semua kota besar di Indonesia. AAID dimiliki Grup AirAsia yang berpusat di kota Kuala Lumpur, Malaysia, dan melayani jaringan penerbangan ke lebih dari 130 destinasi. Perseroan memiliki dan mengendalikan 17 pesawat yang mempunyai rata-rata umur pesawat selama 6,5 tahun.

MEGANDIKA WICAKSONO–Kenyamanan dan keterbukaan tanpa sekat menjadi ciri khas RedQ, kantor AirAsia di Malaysia yang berada di sekitar bandara udara Internasional Kuala Lumpur 2. Suasana kerja yang nyaman dan inspiratif ini menjadi perangsang agar para Allstar, julukan bagi karyawan AirAsia, bekerja secara optimal.

Perseroan memiliki total 157 rute yang telah disetujui dalam surat izin angkutan udara niaga berjadwal dengan 85 rute penerbangan domestik dan 72 rute penerbangan internasional. Pada tahun 2017, perseroan telah mengoperasikan 9 rute domestik dan 21 rute internasional yang dioperasikan melalui 4 hub, yaitu di Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya. Pada kuartal I-2018, IAA mencatat jumlah penumpang menjadi 1,121 juta orang dengan tingkat keterisian pesawat sebesar 80 persen.

Adapun Grup AirAsia yang berpusat di kota Kuala Lumpur, Malaysia, melayani jaringan penerbangan ke 135 destinasi yang tersebar di 25 market. Grup AirAsia mengoperasikan 321 rute domestik dan internasional, termasuk 97 rute unik di dalamnya, yang dioperasikan melalui 22 hub, yaitu Malaysia 5 hub, Thailand 6 hub, Indonesia 4 hub, India 3 hub, Filipina 3 hub, dan Jepang 1 hub. Grup AirAsia memiliki 4.983 penerbangan mingguan di seluruh market. Grup AirAsia memiliki jumlah karyawan sejumlah 19.953 Allstar, julukan bagi karyawan AirAsia.

Chairwoman AirAsia X Tan Sri Rafidah Aziz menyampaikan, keberhasilan dan pencapaian Grup AirAsia dan Grup AirAsia X merupakan kontribusi langsung dan jerih payah dari setiap Allstar. ”Oleh karena itu, tingkat kompetensi, efisiensi, dan kinerja harus terus didorong dan ditingkatkan agar perusahaan dapat mempertahankan kualitas kelas dunia dalam industri penerbangan regional dan global yang sangat kompetitif. Setiap orang harus berusaha untuk menjadi aset terbaik bagi Grup AirAsia dan Grup AirAsia X,” katanya.

”Face recognition”
CEO Group AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan menambahkan, maskapai penerbangan AirAsia juga menyiapkan layanan pengenalan wajah atau biometric face recognition untuk mempermudah proses boarding. Pemanfaatan teknologi dioptimalkan guna meningkatkan pelayanan kepada penumpang sekaligus demi keamanan.

”Nanti saat boarding juga memakai face recognation sehingga bisa betul-betul membuat zero error kalau misalnya ada paspornya palsu, atau ada orang yang sepatutnya tidak terbang, tapi terbang,” kata Dendy. Saat ini masih diujicobakan di Bandara Internasional Senai di Johor Bahru, Malaysia.

Menurut Dendy, inovasi itu juga menjadi salah satu terobosan untuk menjaga kesetiaan pelanggan serta mewujudkan komitmen atas penghargaan Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia untuk yang kesepuluh kalinya yang diterima dalam ajang Skytrax World Airline Awards 2018 di London. ”Kami mengedepankan pelayanan. Pengalaman itu tidak hanya pada saat penerbangan, tapi betul-betul pada saat mereka mau mulai booking, kemudian check in, lalu boarding, hingga mereka sampai ke destinasi. Itu akan menjadi tujuan utama kami. Inovasi-inovasi akan tetap dilakukan untuk mengarah ke sana,” katanya.

Dendy juga menyampaikan, tantangan pengembangan bisnis penerbangan di Indonesia antara lain ketersediaan slot penerbangan, perlunya terminal khusus untuk maskapai berbiaya murah, ketidakstabilan harga bahan bakar, serta infrastruktur terintegrasi dari dan menuju bandara. ”Tantangan terbesar ada di slot penerbangan. Harus dipikirkan bagaimana supaya bandara jauh lebih efisien. Sekarang ini masih banyak penerbangan menumpuk di golden time. Di jam-jam tertentu bandara itu sibuk apakah mungkin itu bisa di-separate (dipisah). Bandara yang beroperasi 24 jam juga tidak banyak. Misalnya, Yogyakarta, Bandung, Surabaya tidak 24 jam. Itu tentunya menyulitkan konektivitas kami,” katanya.

Terkait infrastruktur, lanjut Dendy, misalnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati perlu dilengkapi dengan fasilitas kereta api, tidak hanya jalan tol. ”Kertajati untuk sementara (AirAsia) belum masuk, masih di Bandung. Masalahnya Kertajati ini jaraknya hampir 80 kilometer dari Bandung. Memang pemerintah masih menyiapkan jalan tol, tapi tetap diperlukan transportasi kereta untuk menghubungkan Bandung-Kertajati. Contohnya seperti di Kuala Lumpur ini, dari bandara KLIA 1 dan 2 ke pusat kota Kuala Lumpur hampir sekitar 70 km, tapi ada layanan kereta sekitar 30 menit,” katanya.

Indonesia dengan kekayaan destinasi wisata yang tersebar dari Sabang hingga Merauke memerlukan konektivitas untuk dapat menjangkaunya. Kiranya segala pembangunan infrastruktur di dalam negeri dan konsistensi AirAsia saling berpadu memajukan Indonesia.Satu Dekade AirAsia Konsisten Wujudkan Mimpi

Selasa, 17 Juli 2018, menjadi hari istimewa bagi AirAsia. Maskapai penerbangan berslogan ”Now Everyone Can Fly” itu meraih tiga penghargaan sekaligus dalam ajang Skytrax World Airline Awards 2018 yang diadakan di London, Inggris. Penghargaan itu menjadi tonggak baru perkembangan AirAsia selanjutnya.

Ketiga penghargaan itu adalah AirAsia dinobatkan sebagai Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia untuk yang kesepuluh kalinya berturut-turut sejak 2008, AirAsia X juga terpilih sebagai Kabin Premium Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia selama enam tahun berturut-turut, dan AirAsia meraih kategori Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Asia.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–AirAsia Group CEO and AirAsia X Co-Group CEO Tan Sri Tony Fernanades (memegang mik) menyampaikan keterangan pers kepada para wartawan di Malaysia, Selasa (17/7).

Penghargaan itu diterima langsung AirAsia Co-Founder, Executive Chairman AirAsia Group Berhad and Group CEO AirAsia X Datuk Kamarudin Meranun di The Langham, London, sekaligus diumumkan secara resmi di Kuala Lumpur, Malaysia, oleh AirAsia Group CEO and AirAsia X Co-Group CEO Tan Sri Tony Fernandes. ”Kami sangat berbahagia. Ini pencapaian yang luar biasa,” kata Tony dengan senyum berkembang di hadapan para wartawan, Selasa (17/7/2018) malam.

Manfaatkan teknologi
Tony mengatakan, AirAsia merupakan maskapai berbiaya hemat yang sesungguhnya. Sebab, meski berbiaya hemat, kualitas dan prioritas pelayanan kepada pelanggan tetap dikedepankan. ”Kami percaya maskapai berbiaya hemat bukan berarti low quality. Kami selalu menempatkan pelanggan sebagai yang utama,” ujarnya. Tony menyebutkan, AirAsia akan lebih memberikan nilai tambah dengan layanan yang bersifat lebih personal dengan pemanfaatan teknologi dan pengembangan web.

Layanan kemudahan dari pemanfaatan teknologi ini, antara lain, tampak dari penggunaan mesin check in mandiri (self check in) yang ada di sekitar konter check in AirAsia di Bandara Internasional Kuala Lumpur 2. Penumpang tinggal memasukkan kode pemesanan dan memindai (scan) paspor (tanda pengenal) di mesin. Kemudian, terbitlah boarding pass.

Bahkan, untuk meregistrasi barang bawaan guna dimasukkan ke bagasi, penumpang dapat melakukannya sendiri. Koper atau tas yang hendak dimasukkan ke bagasi tinggal ditimbang di samping mesin registrasi, selanjutnya akan muncul berat koper dan tercetaklah stiker identitas untuk ditempel di koper penumpang. Jika muncul kebingungan, petugas dari AirAsia akan siap membantu. Dengan teknologi, antrean mengular dapat dihindari dan pelayanan AirAsia pun efisien.

Pada malam yang penuh kebahagiaan di Kuala Lumpur itu, Tony yang didampingi para CEO AirAsia dari sejumlah negara juga menyampaikan, salah satu karakteristik maskapai berbiaya hemat adalah mampu mengembangkan pasar. ”Contohnya Bandung. Ketika AirAsia masuk ke Bandung dengan penerbangan internasional ke Kuala Lumpur, saat itu belum ada penerbangan internasional sama sekali di Bandung. Bandung punya potensi. Indonesia bukan hanya Bali dan Jakarta,” kata Tony.

Sekilas AirAsia
Tony bersama Datuk Kamarudin membeli perusahaan maskapai domestik Malaysia sebagai cikal bakal AirAsia senilai 1 ringgit Malaysia (sekitar 0,25 dollar AS) dengan jumlah utang 40 juta ringgit Malaysia. Dengan AirAsia itulah, mimpi Tony agar siapa pun bisa terbang menjadi kenyataan karena tarif hemat yang ditawarkan AirAsia dapat menjangkau lebih banyak orang.

PT AirAsia Indonesia Tbk (AAID) secara resmi menjadi perusahaan induk dari PT Indonesia AirAsia (IAA) pada 29 Desember 2017. PT AirAsia Indonesia Tbk yang sebelumnya dikenal dengan nama PT Rimau Multi Putra Pratama Tbk (RMPP) adalah perusahaan terbuka yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Sebagai perusahaan jasa penerbangan, perseroan memiliki satu kantor pusat dan mengoperasikan 33 kantor pelayanan dan penjualan yang tersebar di semua kota besar di Indonesia. AAID dimiliki Grup AirAsia yang berpusat di kota Kuala Lumpur, Malaysia, dan melayani jaringan penerbangan ke lebih dari 130 destinasi. Perseroan memiliki dan mengendalikan 17 pesawat yang mempunyai rata-rata umur pesawat selama 6,5 tahun.

MEGANDIKA WICAKSONO–Kenyamanan dan keterbukaan tanpa sekat menjadi ciri khas RedQ, kantor AirAsia di Malaysia yang berada di sekitar bandara udara Internasional Kuala Lumpur 2. Suasana kerja yang nyaman dan inspiratif ini menjadi perangsang agar para Allstar, julukan bagi karyawan AirAsia, bekerja secara optimal.

Perseroan memiliki total 157 rute yang telah disetujui dalam surat izin angkutan udara niaga berjadwal dengan 85 rute penerbangan domestik dan 72 rute penerbangan internasional. Pada tahun 2017, perseroan telah mengoperasikan 9 rute domestik dan 21 rute internasional yang dioperasikan melalui 4 hub, yaitu di Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya. Pada kuartal I-2018, IAA mencatat jumlah penumpang menjadi 1,121 juta orang dengan tingkat keterisian pesawat sebesar 80 persen.

Adapun Grup AirAsia yang berpusat di kota Kuala Lumpur, Malaysia, melayani jaringan penerbangan ke 135 destinasi yang tersebar di 25 market. Grup AirAsia mengoperasikan 321 rute domestik dan internasional, termasuk 97 rute unik di dalamnya, yang dioperasikan melalui 22 hub, yaitu Malaysia 5 hub, Thailand 6 hub, Indonesia 4 hub, India 3 hub, Filipina 3 hub, dan Jepang 1 hub. Grup AirAsia memiliki 4.983 penerbangan mingguan di seluruh market. Grup AirAsia memiliki jumlah karyawan sejumlah 19.953 Allstar, julukan bagi karyawan AirAsia.

Chairwoman AirAsia X Tan Sri Rafidah Aziz menyampaikan, keberhasilan dan pencapaian Grup AirAsia dan Grup AirAsia X merupakan kontribusi langsung dan jerih payah dari setiap Allstar. ”Oleh karena itu, tingkat kompetensi, efisiensi, dan kinerja harus terus didorong dan ditingkatkan agar perusahaan dapat mempertahankan kualitas kelas dunia dalam industri penerbangan regional dan global yang sangat kompetitif. Setiap orang harus berusaha untuk menjadi aset terbaik bagi Grup AirAsia dan Grup AirAsia X,” katanya.

”Face recognition”
CEO Group AirAsia Indonesia Dendy Kurniawan menambahkan, maskapai penerbangan AirAsia juga menyiapkan layanan pengenalan wajah atau biometric face recognition untuk mempermudah proses boarding. Pemanfaatan teknologi dioptimalkan guna meningkatkan pelayanan kepada penumpang sekaligus demi keamanan.

”Nanti saat boarding juga memakai face recognation sehingga bisa betul-betul membuat zero error kalau misalnya ada paspornya palsu, atau ada orang yang sepatutnya tidak terbang, tapi terbang,” kata Dendy. Saat ini masih diujicobakan di Bandara Internasional Senai di Johor Bahru, Malaysia.

Menurut Dendy, inovasi itu juga menjadi salah satu terobosan untuk menjaga kesetiaan pelanggan serta mewujudkan komitmen atas penghargaan Maskapai Berbiaya Hemat Terbaik di Dunia untuk yang kesepuluh kalinya yang diterima dalam ajang Skytrax World Airline Awards 2018 di London. ”Kami mengedepankan pelayanan. Pengalaman itu tidak hanya pada saat penerbangan, tapi betul-betul pada saat mereka mau mulai booking, kemudian check in, lalu boarding, hingga mereka sampai ke destinasi. Itu akan menjadi tujuan utama kami. Inovasi-inovasi akan tetap dilakukan untuk mengarah ke sana,” katanya.

Dendy juga menyampaikan, tantangan pengembangan bisnis penerbangan di Indonesia antara lain ketersediaan slot penerbangan, perlunya terminal khusus untuk maskapai berbiaya murah, ketidakstabilan harga bahan bakar, serta infrastruktur terintegrasi dari dan menuju bandara. ”Tantangan terbesar ada di slot penerbangan. Harus dipikirkan bagaimana supaya bandara jauh lebih efisien. Sekarang ini masih banyak penerbangan menumpuk di golden time. Di jam-jam tertentu bandara itu sibuk apakah mungkin itu bisa di-separate (dipisah). Bandara yang beroperasi 24 jam juga tidak banyak. Misalnya, Yogyakarta, Bandung, Surabaya tidak 24 jam. Itu tentunya menyulitkan konektivitas kami,” katanya.

Terkait infrastruktur, lanjut Dendy, misalnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati perlu dilengkapi dengan fasilitas kereta api, tidak hanya jalan tol. ”Kertajati untuk sementara (AirAsia) belum masuk, masih di Bandung. Masalahnya Kertajati ini jaraknya hampir 80 kilometer dari Bandung. Memang pemerintah masih menyiapkan jalan tol, tapi tetap diperlukan transportasi kereta untuk menghubungkan Bandung-Kertajati. Contohnya seperti di Kuala Lumpur ini, dari bandara KLIA 1 dan 2 ke pusat kota Kuala Lumpur hampir sekitar 70 km, tapi ada layanan kereta sekitar 30 menit,” katanya.

Indonesia dengan kekayaan destinasi wisata yang tersebar dari Sabang hingga Merauke memerlukan konektivitas untuk dapat menjangkaunya. Kiranya segala pembangunan infrastruktur di dalam negeri dan konsistensi AirAsia saling berpadu memajukan Indonesia.

Sumber: Kompas, 5 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: