Satelit Atmosfer

- Editor

Rabu, 9 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Satu langkah sangat penting dengan satelit Lapan A2/Orari yang tidak hanya sukses mengantariksa adalah mampu melewati masa krisis. Satelit yang diluncurkan dengan wahana roket India itu makin mempertebal rasa percaya diri dan bukti kemampuan merancang benda antariksa.

Fungsi utama satelit yang mengorbit ekuatorial ini hampir semuanya bisa dijalankan, seperti pemantauan lalu lintas kapal laut dengan automatic identification system (AIS), sebagai stasiun repeater radio amatir Orari dan visualisasi permukaan Bumi. Tentu masih ada segudang tantangan untuk menjalankan fungsi penginderaan jarak jauh secara komplet.

Bagaimanapun, jarak 650 kilometer (km) dari Bumi itu merupakan kendala untuk bisa membuat visualisasi secara detail. Perlu kamera berkekuatan besar yang tentu akan menambah bobot. Oleh karena itu, sulit sekali menjejali banyak fungsi pada satelit yang beratnya hanya 76 kilogram (kg) ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Satu peristiwa penting yang baru saja dilewati, kebakaran hutan, yang membuat kalang kabut karena asapnya mengganggu masyarakat dan negara tetangga, seharusnya bisa diantisipasi dengan satelit ini. Artinya, ke depan harus dipikirkan perangkat penjejak panas sebagai sarana peringatan dini.

Sangat ideal jika satelit berikutnya bisa berkolaborasi dengan wahana lain, semisal wahana tanpa awak yang bisa melayang di atmosfer Bumi atau lebih dikenal dengan drone. Berarti antara satelit di antariksa dan wahana dirgantara lain itu harus bisa berkomunikasi.

Penggunaan drone ini mengingatkan gagasan awal Presiden Joko Widodo yang bermimpi menggunakan drone untuk melindungi wilayah RI. Drone tidak hanya bisa untuk mendekati wilayah laut, tetapi juga mendeteksi lebih cepat kawasan hutan yang terbakar dan selanjutnya bisa dikembangkan sebagai sarana peringatan dini.

Memang bukan sembarang drone bisa digunakan untuk menjelajah wilayah republik yang amat luas ini. Antara satelit dan drone merupakan pasangan saling melengkapi. Satelit bergerak tetap pada lintasan orbitnya, sedangkan drone lebih dekat dengan muka Bumi dan bisa digerakkan ke arah obyek yang dikehendaki. Selanjutnya, pengendali di bawah yang akan mengeksekusi.

Belum lama ini, tiga operator seluler besar menandatangani proyek Loon dari Google yang intinya akan menggunakan balon terbang milik raksasa dunia informatika itu sebagai base transceiver station (BTS) di daerah terpencil. Cakupan balon yang melayang sekitar 20 km di atas Bumi ini sekitar 100 kali cakupan BTS di darat.

Google menyebut balon ini sebagai satelit atmosfer dan ini ke depan akan kian meramaikan lapisan stratosfer Bumi yang bebas dari lalu lintas penerbangan. Satu lagi senjata yang kini diuji adalah drone bertenaga surya yang bisa berada di ketinggian 20 km selama lima tahun tanpa harus mendarat untuk mengisi bahan bakar seperti drone kebanyakan.

Drone yang semula dikembangkan Titan Aerospace ini setidaknya memiliki dua tipe, Solara 50 yang mampu membawa muatan sekitar 30 kg dan Solara 60 yang bisa membawa lebih dari 100 kg. Raksasa media sosial Facebook juga siap terbang dengan gagasan serupa, yang menanti jadwal uji coba akhir tahun ini.

Hal menarik dari drone satelit yang dikembangkan dua raksasa ini adalah bisa dikembangkan untuk tujuan lain selain komunikasi. Itu bisa menjadi inspirasi Lapan yang sekarang gencar mengembangkan drone dan nantinya bisa menutupi kelemahan pada satelit yang posisinya berjarak 650 km dari Bumi.

Salah satu fungsi penting adalah upaya menangani kebakaran hutan yang sangat sulit dipadamkan. Dengan sensor panasnya, pesawat drone atmosfer akan mampu melihat lebih detail dibandingkan satelit yang hanya sekadar melihat titik-titik panas dari antariksa.

Selain sebagai upaya peringatan dini, drone juga bisa melihat luasan yang terbakar. Bagi pilot pemadam kebakaran, informasi koordinat dan data luas api ini sangat penting untuk menebarkan air secara tepat dalam upaya pemadaman. Apalagi, api di lahan gambut sering tidak terlihat, selain terhalang asap.–AW SUBARKAH
——————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Desember 2015, di halaman 14 dengan judul “Satelit Atmosfer”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 0 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB