Home / Berita / “Safira” dan “Zaky” yang Bikin Pusing

“Safira” dan “Zaky” yang Bikin Pusing

Ujian nasional mata pelajaran Matematika tingkat SMA memunculkan berbagai keluh kesah dari siswa, yang ditumpahkan di akun media sosial Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Soal-soal penalaran yang membutuhkan cara berpikir canggih dituding sebagai penyebab kepusingan berjamaah yang bahkan tingkat kesulitannya diasosiasikan bagaikan ujian kehidupan.

Salah satu soal yang paling diributkan siswa saat Ujian Nasional tingkat SMA adalah mengenai Safira dan Zaky yang harus membuat kata sandi untuk surel mereka. Setiap kata sandi terdiri dari delapan karakter yang di dalamnya mengandung nama dan angka. Soal ini merupakan salah satu soal berpikir canggih (high order thinking skills/HOTS).

“Susah banget! Sebelumnya enggak pernah belajar soal seperti itu,” kata Annisa Rizkiyah, siswi kelas XII-IPA SMAN 10 Tangerang Selatan, Banten ketika ditemui di sekolahnya pada Kamis (4/4/2019). Ia mengaku menghabiskan waktu hampir 20 menit untuk mencari jawaban pertanyaan tersebut.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Suasana Ujian Nasional Berbasis Komputer di SMAN 10 Tangerang Selatan, Banten pada hari Kamis (4/4/2019).

Nadera Arfida yang juga siswi kelas XII-IPA SMAN 10 Tangerang Selatan mengatakan, bentuk pertanyaan soal HOTS yang berupa paragraf juga membuat bingung karena dirinya harus menerjemahkan informasi dari cerita. Jenis soal tersebut sangat berbeda dengan soal Matematika yang biasa ia hadapi. Lazimnya, soal Matematika langsung memberi tahu rumus dan siswa bisa langsung menghitung.

Berbagai curhatan siswa pun tumpah ruah di akun instagram @kemdikbud.ri. Akun @naufalnazh misalnya menulis “Safira yang buat password, saya yang pusing”. Bahkan, akun @alisiinaga menulis “Pak, saya tahu dosa saya banyak, tapi saya enggak tahu kalau Allah menguji saya seperti ini”.

INSTAGRAM KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN–Tangkapan layar akun instagram milik Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berisikan keluhan para siswa. Diakses pada Sabtu (6/4/2019).

Sebelum UN, sekolah menyiapkan siswa dengan cara belajar dan berlatih menggunakan kisi-kisi. Permasalahannya, soal HOTS tidak pernah ada di kisi-kisi sehingga tidak ada yang bisa memperkirakan bentuk yang akan muncul di UN.

Pembelajaran HOTS merupakan tantangan bagi para guru. Mereka beralasan target capaian kurikulum dan jumlah siswa di kelas menghambat guru bisa benar-benar menjelaskan konsep secara mendalam. Akibatnya, guru lebih memilih langsung memberi siswa rumus.

“Memang idealnya adalah di awal setiap materi baru memberi siswa kebebasan untuk mencari rumus sendiri, tetapi tidak akan ada waktu untuk menerapkannya karena jumlah pertemuan terbatas,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kehumasan SMAN 10 Tangsel Santoso.

Dosen Matematika Universitas Negeri Jakarta Anton Noornia yang dihubungi di Jakarta, Sabtu (6/4/2019), mengatakan, banyak kesalahpahaman bahwa soal HOTS Matematika adalah pertanyaan dengan banyak angka dan pecahan. Padahal, soal HOTS merupakan penalaran dari masalah yang terlihat sederhana.

“Pembelajaran Matematika selama ini fokus kepada aljabar, yaitu dengan hafalan rumus dan operasional hitung karena UN tahun-tahun lalu soalnya seperti itu dan guru menjadikannya patokan. Siswa tidak diajarkan bahwa mereka bermatematika untuk kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Soal Safira dan Zaky membuat sandi surel misalnya, adalah penerapan dari mencari kemungkinan atau frekuensi nisbi. Selama ini, materi frekuensi nisbi diajarkan dengan menggunakan contoh dadu dan uang logam. Variasi soal adalah dari jumlah lemparannya seperti mencari junlah kemungkinan muncul sisi dadu dengan enam titik di dalam sepuluh kali pelemparan.

Anton mengatakan, ketika cara penyampaian soal diganti, meskipun konsep yang ditanyakan sama, siswa kebingungan. “Kita tidak menyadari bahwa ketika kita membuat alamat surel, membuat kata sandinya, berbelanja, atau pun berkegiatan rutin di dalamnya adalah proses matematis. Matematika selama ini ditampilkan sangat jauh dan abstrak dengan rumus saklek sehingga terkesan bukan bagian dari kehidupan,” ujarnya.

Ia menyarankan agar guru-guru mulai membaca soal-soal olimpiade dari tingkat SD hingga SMA. Soal-soal itu menunjukkan Matematika tidak kaku karena sejatinya adalah ilmu untuk mengembangkan kreativitas. Langkah pertama yang harus diambil adalah mengubah falsafah pembelajaran dari demi mengejar nilai UN menjadi mengembangkan nalar siswa. Semestinya, dengan UN tidak menjadi syarat kelulusan berpengaruh kepada persepsi warga sekolah untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan sekaligus merangsang pembangunan nalar.

Tidak pakai kisi-kisi
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud Totok Suprayitno mengatakan, soal-soal HOTS memang tidak pernah masuk ke dalam kisi-kisi UN. “Soal ini sangat cair dan setiap tahun berubah. Namun yang pasti bentuk soal ini sangat dekat dengan permasalahan sehari-hari sehingga semestinya bisa dipecahkan apabila logika siswa terbangun kuat dan memiliki pemahaman konsep yang baik,” ucapnya.

Terkait UN secara umum, ia mengatakan, semua materi pelajaran yang keluar adalah materi di dalam kurikulum. Apabila siswa asing terhadap materi soal di luar HOTS, ada dua kemungkinan, yaitu materi tersebut karena suatu alasan belum sempat diajarkan di kelas atau cara pengajarannya tidak efektif sehingga siswa tidak paham.

Kandungan soal HOTS di setiap mata pelajaran adalah 10 persen dari keseluruhan soal. Tingkat kesulitan beragam, mulai dari mudah hingga sulit. Satu hal yang bisa dipastikan adalah soal ini banyak berupa cerita sehingga siswa harus mendeduksi inti permasalahannya.

Pada tahun-tahun sebelumnya masyarakat mengeluhkan soal HOTS yang mengagetkan guru, siswa, dan orangtua. Kunci keberhasilan pada pembelajaran HOTS adalah kemampuan membaca, memahami, menganalisa, dan mengembangkan diskursus. Berdasarkan Program Asesmen Siswa Internasional, Indonesia sangat kurang di elemen-elemen ini.

“Soal HOTS tetap ada karena kami ingin melihat kemampuan sekolah membuat pembelajaran berbasis nalar, bukan menghafal. Dari hasil UN bisa disusun metode pembenahan yang sesuai dengan kapasitas tiap-tiap sekolah,” tuturnya.

Dari segi soal, Totok mengatakan, Kemdikbud memang mengeluarkan kisi-kisi ujian. Tujuannya agar bisa menjadi latihan untuk mengasah pengetahuan. Ia mengingatkan bahwa kisi-kisi tetap tidak menjamin kepastian bentuk soal tersebut akan keluar di UN. Hal ini karena untuk satu materi terdapat berbagai pendekatan dan jenis soal yang bisa dikembangkan. Oleh sebab itu, memastikan pemahaman konsep di semua mata pelajaran merupakan kunci kesuksesan belajar.

Oleh LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 7 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: