Home / Berita / Saat Teknologi Berada di Titik Batas

Saat Teknologi Berada di Titik Batas

Hilangnya pesawat Airbus A320-200 QZ 8501 milik AirAsia Indonesia dalam penerbangan Surabaya- Singapura, Minggu (28/12), membuat kenangan pilu hilangnya MH 370 milik Malaysia Airlines, 8 Maret lalu, kembali membayang.

Seperti halnya ketika MH 370 hilang, sinyal darurat dari semua peralatan elektronik yang dijejalkan ke dalam tubuh pesawat berpenumpang 155 orang itu belum ditemukan. Wilayah perairan dan udara di Belitung timur, tempat terakhir kontak antara QZ 8501 dan menara kontrol Bandara Soekarno-Hatta, Banten, pun menyisakan pertanyaan.

Hingga 12 tahun lalu, sebagian besar pesawat perintis yang melayani rute Sentani ke sejumlah tujuan di pedalaman Papua masih mengandalkan terbang visual. Kondisi geografis yang didominasi pegunungan dan kondisi cuaca yang dengan cepat berubah membuat pilot-pilot tidak begitu saja mengandalkan informasi yang tersaji pada panel instrumen.

Bahkan, setelah semua pesawat itu dilengkapi aneka komponen baru, seperti sinyal penanda darurat (ELT) hingga radar cuaca, para penerbang di Papua tetap dituntut memperhatikan betul informasi visual dari lapangan dan yang langsung mereka amati.

Kemajuan sains melahirkan berbagai aplikasi, seperti enhanced ground proximity warning system (EGPWS) dan aircraft communications addressing and reporting system (ACARS), yang mampu mengirimkan data maskapai penerbangan atau pabrikan secara real time melengkapi pesawat sekelas Airbus 320-200 dan Boeing 777. Semua itu digunakan semata-mata untuk meningkatkan keamanan penerbangan dan menambah jaminan keselamatan.

Oleh karena itu, menjadi sangat membingungkan ketika Boeing 777-200 ER dengan nomor penerbangan MH 370 milik Malaysia Airlines hilang tak berbekas dalam penerbangan menuju Beijing. Aneka spekulasi terus mengikuti hingga saat ini ketika pesawat berpenumpang 239 termasuk awak itu hilang.

Kapal-kapal canggih yang dilengkapi dengan robot bawah air dari sejumlah negara, seperti Australia, terus berupaya mencari sinyal underwater locator beacon (ULB), tetapi hingga saat ini hasilnya masih belum memuaskan. Di tengah-tengah kepedulian dunia dan kerja sama antarnegara, seperti Australia, Tiongkok, Malaysia, Singapura, juga Indonesia, semua dihadapkan pada keterbatasan teknologi yang ada saat ini.

Ketika empat bulan kemudian MH17 rontok dari ketinggian jelajah akibat dugaan tertembak peluru kendali di Ukraina timur, ada dugaan faktor lain di luar faktor teknis. Rudal BUK 11 diduga dipicu oleh anggota kelompok separatis yang mampu menggunakan teknologi tersebut dengan maksimal.

Tapal batas teknologi
Anton Bakker dalam bukunya, Kosmologi dan Ekologi, Filsafat tentang Kosmos Sebagai Rumah Tangga Manusia, menulis, meski teknologi berkembang sedemikian cepat, bahkan seperti kilat, tetap saja dangkal. Bakker menyebut, semua hal duniawi menjadi alat. Mereka berpengaruh dengan efek langsung secara instrumentalistis.

Argumentasi itu merujuk, antara lain, pada gagasan Thomas Aquinas yang mengatakan alat di tangan manusia memiliki dua jenis daya. Daya alat itu sendiri yang bersifat natural serta daya yang ditambahkan oleh manusia. Contohnya tongkat kayu yang digunakan untuk memukul. Daya yang ditambahkan oleh manusia hanya bersifat sementara dan hilang setelah dipakai.

Lalu, apa relevansi kajian itu dengan kasus kecelakaan pesawat? Ketika semua alat di sekitar manusia direntang jauh dari diri manusia, alat-alat itu adalah entitas yang oleh ahli biologi Australia, Charles Birch, disebut sebagai organisme yang tak berkesadaran. Manusia, menurut Birch, merupakan entitas berkesadaran tinggi yang berperanan terhadap potensi yang dimiliki oleh alat-alat itu.

Oleh karena itu, ketika operator di ruang pengendali rudal BUK 11 tidak sepenuhnya sadar atas fungsi dan daya hancur yang dimiliki oleh senjata yang diawakinya, hasilnya fatal. Sebanyak 298 penumpang berikut awak pesawat tewas.

Demikian pula dalam kasus MH 370, ketika ada dugaan kemungkinan seseorang mematikan transponder atau memelencengkan arah terbang pesawat, ada unsur lain yang membuat faktor teknologi tidak sepenuhnya memainkan peranan. Pendek kata, meski berkembang pesat dan mengagumkan, manusia tetaplah tokoh utama.

Menurut sejumlah penerbang dan operator penerbangan perintis di Papua, ada banyak faktor yang harus diperhatikan selain faktor teknis. Seorang pilot kawakan di Associated Mission Aviation Papua mengatakan, beberapa rekannya mengalami kecelakaan fatal bukan karena kurang pengalaman atau pesawat tidak laik, melainkan karena terlalu percaya diri…. (B Josie Susilo Hardianto)

Sumber: Kompas, 30 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: