Home / Berita / Riset Perguruan Tinggi Tak Sekadar Berhenti di Publikasi Ilmiah

Riset Perguruan Tinggi Tak Sekadar Berhenti di Publikasi Ilmiah

Agenda-agenda riset perguruan tinggi diharapkan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan di semua sektor.

Perguruan tinggi berperan penting mendukung riset yang menghasilkan beragam inovasi untuk mendukung kemandirian bangsa dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sejumlah perguruan tinggi telah memperkuat kemitraan riset dengan industri dan lembaga penelitian sehingga di masa pandemi dapat melahirkan inovasi yang penting untuk mengatasi pandemi Covid-19. Semangat ini meyakinkan pentingnya kolaborasi agar hasil riset tidak hanya berhenti di publikasi, tapi dapat dihilirisasi guna mendukung daya saing bangsa.

Menyambut Hari Kebangkitan Teknologi Nasional 2021, Universitas Indonesia (UI) menggelar Bulan Inovasi UI dari tanggal 9-13 Agustus 2021 secara daring. Kegiatan tersebut terdiri dari rangkaian webinar, diskusi kelompok terpumpun (FGD), gelar wicara (talkshow), dan pameran inovasi virtual dengan mengangkat berbagai topik, seperti tahap perkembangan riset dan inovasi para akademisi, pengelolaan kekayaan intelektual, hilirisasi produk riset dan inovasi melalui kerja sama lisensi komersialisasi atau membentuk start-up hingga pembahasan tentang pendanaan dan strategi menarik investor yang diperlukan bagi start-up.

Dukungan untuk mengatasi pandemi Covid-19, salah satunya menghasilkan ventilator yang kini masuk dalam katalog elektronik Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Tim Ventilator UI mengembangkan Ventilator Transport Lokal Rendah Biaya Berbasis Sistem Pneumatik yang aman dan fungsional bernama COVENT-20. Ventilator ini mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya berbentuk ringkas dan sederhana sehingga aman digunakan untuk perjalanan menuju ruang isolasi.

Selain itu, ventilator ini juga mudah dioperasikan dan hemat energi untuk penanganan pasien dalam pengawasan maupun pasien positif Covid-19. Biaya pembuatan COVENT-20 lebih rendah bila dibandingkan dengan tipe ventilator transport komersial yang tersedia saat ini. Ventilator ini juga dilengkapi positive end expiratory pressure (PEEP) serta menggunakan microchip untuk menyimpan program dan data. COVENT-20 sudah disalurkan ke 180 rumah sakit, baik rumah sakit rujukan Covid-19 maupun rumah sakit darurat di seluruh Indonesia.

“Di UI, prinsip bahwa inovasi harus memenuhi tuntutan pasar sudah bukan hanya jargon, tetapi sudah dilaksanakan dengan konsisten.” kata Direktur Inovasi dan Science Techno Park (DITSP) UI Ahmad Gamal, Rabu (11/8/2021) di Jakarta.

Menurut Gamal, DISTP membuat berbagai forum ideasi dengan mengundang stakeholder pemanfaat produk inovasi UI, seperti Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI), Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab), Persatuan Insinyur Indonesia (PII), bahkan perusahaan alat kesehatan internasional. Munculnya ventilator UI yang dalam waktu sangat singkat diinovasi sampai dengan muncul di LKPP merupakan salah satu contoh utama tanggapnya UI dalam menghasilkan produk inovasi yang diperlukan oleh masyarakat.

Sementara itu, Rektor UI Ari Kuncoro mengatakan, UI senantiasa berupaya menjadi pemberi solusi atas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa. Hal itu yang mendorong UI bertransformasi menuju entrepreneurial university. Berbagai aktivitas yang dilakukan UI, termasuk dalam bidang riset dan inovasi, tidak lagi bertujuan sekadar mendorong terciptanya reputasi akademik melalui publikasi dan jumlah hak kekayaan intelektual.

“Yang utama juga hal yang berdampak lebih besar dengan mendorong hilirisasi dan komersialisasi seluruh daya pikir dan berdaya cipta,” kata Ari.

Di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, potensi riset diarahkan untuk mendukung peningkatan ekonomi kemasyarakatan. Upaya ini salah satunya diwujudkan Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, UGM bersama Koperasi Nasional Kementerian Koperasi dan UKM yang memperkuat pengembangan Smart Coffee Enterprise Support System (SCESS) guna mendukung usaha kecil dan menengah.

Ketua Umum Koperasi Nasional Kementerian Koperasi dan UKM, Reza Fabianus menyampaikan apresiasi atas dukungan PT mengembangkan embrio SCESS.“Semoga dengan aplikasi sistem ini nantinya bisa meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Tanah Air,” kata Reza.

Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Eni Harmayani berharap, sistem ini dapat dikembangkan dan diimplementasikan lebih luas lagi.“Kerja sama ini penting dalam upaya membangun center of excellent di bidang smart agricultural system dan ini sejalan dengan visi FTP UGM sebagai center of excellent di bidang agroindustri,” kata Eni.

Embrio basis data SCESS pertama kali dikenalkan ke publik secara resmi pada agenda Penyaluran Kredit Usaha Rakyat dan Kemitraan yang diselenggarakan di Subak Abian, Semanik Sari, Desa Pelaga, Kecamatan Petang, Badung, Bali pada 9 April 2019. Lalu, pada pertengahan tahun 2021 aplikasi big data untuk penguatan UKM kopi ini akan dilanjutkan kembali dengan penambahan fitur dan perluasan jangkauan implementasi yakni penambahan Indikasi Geografis (IG) kopi untuk skala Nasional.

Secara terpisah, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi , Nizam, mengatakan, riset di perguruan tinggi didorong lebih gayut dengan kebutuhan sektor maupun dunia usaha/dunia industri (DUDI). Sinergi banyak pihak harus terjadi sejak awal, tidak hanya di ujung. Agenda-agenda riset dosen harus relevan dengan kebutuhan masyarakat, dan pembangunan di semua sektor, mengisi dan bersinergi dengan agenda sektor perindustrian, pertanian, pariwisata, perhubungan, kesehatan, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur.

Menurut Nizam, pendanaan riset dari pemerintah dipakai sebagai penarik industri untuk berinvestasi riset di PT matching fund. Karena kemajuan industri ke depan sangat bergantung pada kemampuan inovasi di dalam negeri. Ditekankan pula kerja sama multi stakeholders dan menyelaraskan dengan kebutuhan berbagai sektor.

“Kita juga akan dorong dan akselerasi produk-produk teknologi merah putih, seperti untuk alat-alat kesehatan, peralatan pendidikan, teknologi informasi, dan sebagainya,” kata Nizam.

Oleh ESTER LINCE NAPITUPULU

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 12 Agustus 2021

Share
%d blogger menyukai ini: