Riset Geokimia; Hidup Diduga Bermula 4,1 Miliar Tahun Lalu

- Editor

Senin, 26 Oktober 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kehidupan di muka Bumi kemungkinan bermula 4,1 miliar tahun lalu, lebih awal dari perkiraan dalam hasil riset sebelumnya. Itu merupakan hasil riset sejumlah peneliti asal Amerika Serikat, dengan mempelajari mineral zirkon yang digali di wilayah Australia bagian barat.

Peneliti dari Stanford University dan University of California, Los Angeles (UCLA), mengatakan, mereka baru-baru ini mengumpulkan sekitar 10.000 zirkon berusia miliaran tahun, yang terbentuk dari batu yang mencair, di Jack Hills, Australia. Zirkon adalah mineral berat dan tahan lama serta terkait zirkonia kubik, bahan tiruan berlian.

Dari zirkon-zirkon itu, peneliti menyebut kehidupan mungkin bermula sejak 4,1 miliar tahun lalu atau 270 tahun lebih awal dibandingkan dengan perkiraan peneliti sebelumnya yang menyatakan kehidupan mulai ada 3,83 miliar tahun lalu. Dari perhitungan itu, kehidupan juga berarti berawal hanya sekitar 440 juta tahun setelah Bumi terbentuk lebih kurang 4,54 miliar tahun lalu. Temuan diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Senin (19/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kehidupan di muka Bumi tampaknya berawal secara hampir instan,” kata anggota tim peneliti yang juga ahli geokimia pada UCLA, Mark Harrison. Dengan komponen-komponen tepat, kehidupan sepertinya terbentuk amat cepat.

imagesZirkon berperan sebagai kapsul waktu. Selama pembentukan, zirkon menangkap dan menyimpan material dari lingkungan pada tiap masa. Dari 10.000- an zirkon itu, para peneliti lalu mengidentifikasi 656 zirkon yang punya bintik-bintik gelap. Mereka berfokus pada 79 zirkon yang berdasarkan penampakannya diduga mengandung grafit, yang terbuat dari karbon murni. Karbon merupakan komponen kunci kehidupan di Bumi.

Kehidupan dipengaruhi isotop-isotop tertentu karbon. Isotop ialah atom-atom elemen dengan jumlah neutron berbeda-beda. Dengan demikian, menganalisis tingkat isotop karbon pada grafit purba bisa memberi informasi apakah di suatu masa ada kehidupan.

Dari 79 zirkon itu, peneliti menemukan grafit hanya pada salah satunya. “Ini benar-benar memberi tekanan. Kami harus mendapat kandungan grafit dari fragmen zirkon yang amat kecil, sekitar setengah dari lebar rambut kita,” ucap Harrison.

Rasio isotop uranium terhadap timah dalam zirkon menunjukkan, usianya sudah 4,1 miliar tahun. Zirkon itu kaya karbon-12 dan karbon-13. Ini menandakan karbon itu berasal dari sumber hayati, dari kehidupan yang menjalankan fotosintesis. Proses fotosintesis mengubah karbon dioksida jadi gula lewat pemanfaatan energi surya.

Para peneliti menyebut, zirkon yang mereka temukan betul-betul padat, bebas dari retak, dan tak terkontaminasi proses geologi yang terjadi belakangan. Artinya, zirkon itu secara amat meyakinkan jadi bukti asal-muasal kehidupan.

Harrison mengatakan, hasil riset menunjukkan, kehidupan di alam semesta besar kemungkinan amat banyak. Di atas Bumi, organisme sederhana tampaknya terbentuk cepat, tetapi butuh waktu jutaan tahun dari bentuk kehidupan sederhana untuk berevolusi jadi organisme yang mampu berfotosintesis.

Ia menambahkan, Bumi awalnya bukan planet yang kering dan penuh letupan panas seperti neraka. Tak ada bukti yang mengarah ke pandangan itu. Planet Bumi di masa itu lebih kurang sama seperti yang kita lihat hari ini.

Riset dipimpin Elizabeth Bell, akademisi postdoctoral di laboratorium Harrison. “Kita perlu berpikir berbeda tentang Bumi di masa permulaan,” ujarnya.(LIVESCIENCE/UCLA/ REUTERS/JOG)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 26 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Hidup Diduga Bermula 4,1 Miliar Tahun Lalu”.

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB