Resistensi Antibiotik Diteliti

- Editor

Kamis, 13 Oktober 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penyakit Infeksi Semakin Sulit Diobati
Penggunaan obat antibiotik sejak setengah abad lalu untuk mengatasi penyakit infeksi menimbulkan resistensi pada sejumlah bakteri pemicunya. Masalah itu dihadapi hampir semua negara, termasuk Indonesia, dan menyebabkan penyakit kian sulit disembuhkan.

Riset yang dilakukan selama ini menunjukkan, sejumlah bakteri kebal pada obat antibiotik tertentu. Untuk mendapat data kuantitatif terkait pencemaran bahan antibiotik ke lingkungan dan gen mikroba penyebab resistensi obat itu, riset lebih lanjut akan dilakukan dengan melibatkan peneliti dari Finlandia, Amerika Serikat, dan Jepang.

Hal itu diungkapkan Eniya Listiani Dewi, Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Rabu (12/10), di Jakarta. Kerja sama itu dilakukan Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT bersama University of Helsinki Finlandia selama 5 tahun, dengan dukungan dana dari Academy of Finland.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemitraan itu, menurut Kepala BPPT Unggul Priyanto, adalah penerapan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI dengan Kementerian Pendidikan dan Telekomunikasi Finlandia. Nota kesepahaman itu ditandatangani di Helsinki, 26 April 2015.

Riset akan dilaksanakan hingga tahun 2019 di daerah aliran sungai (DAS) yang melewati usaha peternakan, instalasi rumah sakit, dan usaha budidaya perikanan. Salah satu lokasi riset adalah Sungai Cisadane.

Riset itu akan dimulai dari peternakan di sekitar DAS itu, yang disinyalir tak memakai antibiotik secara terkontrol. “Bakteri yang kebal akan diidentifikasi, dipetakan, dan diisolasi DNA (asam dioksiribonukleat)-nya. Selanjutnya, DNA gen bakteri yang resisten pada antibiotik dianalisis,” ucapnya.

Kerja sama riset itu diharapkan menghasilkan rekomendasi komprehensif bagi semua pemangku kepentingan. Rekomendasi itu terkait peta kejadian resistensi bakteri pada antibiotik.

Ruang lingkup
Untuk mencapai keberhasilan kegiatan riset bersama itu, menurut Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika BPPT Imam Paryanto, tim peneliti BPPT dan University of Helsinki menyertakan periset dari Michigan State University, AS, untuk menganalisis dan memetakan secara kuantitatif gen pengode resistensi antibiotik. Adapun peran peneliti dari Ehime University, Jepang, dan Pusat Studi Lingkungan Universitas Gadjah Mada terkait kegiatan sampling di lapangan.

Pelatihan peneliti BPPT pun digelar demi menguatkan kapasitas dan kompetensi pemetaan gen pengode resistensi antibiotik di University of Helsinki. Kegiatan lain adalah mengadakan publikasi ilmiah bersama.

Menurut Eniya, selama satu dekade terakhir, hampir setiap jenis bakteri jadi lebih kuat dan kurang responsif terhadap pengobatan antibiotik. Penyebaran bakteri resisten itu mengancam kesehatan masyarakat sehingga rantai penyakit menular lebih sulit disembuhkan dan biaya pengobatannya kian mahal.

Karena bakteri dan mikroba lain tak responsif terhadap antibiotik, kondisi itu disebut sebagai bakteri kebal terhadap antibiotik. Pada kondisi itu, bakteri bisa bertahan hidup dan berkembang biak sehingga menyebabkan kerusakan lebih parah pada tubuh manusia.

Merujuk Laporan Kementerian Kesehatan, terjadi resistensi mikroba Staphylococcus aureus (SA), Streptococcus pneumoniae (SP), ataupun Escherichia coli (EC) terhadap beberapa jenis antibiotik di fasilitas rumah sakit. Laporan resistensi mikroba itu terjadi di banyak negara.

Saat ini beberapa jenis mikroba telah resisten terhadap antibiotik, antara lain resistensi bakteri Staphylococcus aureus yang kerap ada di kulit manusia terhadap methicillin (MRSA). Selain itu,terjadi resistensi bakteri enterococci yang kerap ada di usus dan bagian genital perempuan terhadap obat Vancomycin (VRE), resistensi bakteri pneumococci penyebab infeksi paru terhadap obat penicillin,dan resistensi kuman tuberkulosis terhadap beberapa jenis obat TB atau Multiresistant Mycobacterium tubercolusis.

Hasil riset resistensi antimikroba di Indonesia menunjukkan, ada resistensi mikroba pada antibiotik Kloramfenikol, Ampisilin, Kotrimoksazol, Siprofloksasin, dan Gentamisin. (YUN)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Oktober 2016, di halaman 13 dengan judul “Resistensi Antibiotik Diteliti”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 25 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB