Home / Berita / Remaja agar Bijaksana Bergawai

Remaja agar Bijaksana Bergawai

Siswa sekolah dengan rentang kelahiran 1995-2010, yang disebut generasi Z, diyakini akrab bahkan cenderung menggantungkan banyak aktivitas dengan gawai. Padahal, produk teknologi informasi melalui gawai khususnya media sosial memiliki dua sisi, yaitu sisi baik dan buruk. Untuk itu, generasi Z yang dalam sedasawarsa mendatang memulai peran menentukan arah bangsa diharapkan bijaksana memanfaatkan perangkat telekomunikasi dalam berinteraksi.

Menurut Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani ketika membuka Jambore Pandu Sekolah Model, Rabu (20/3/2019), di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, generasi Z nantinya akan membawa bangsa Indonesia menjadi baik atau malah sebaliknya.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019).

Generasi Z saat ini hidup dengan maraknya informasi bohong dan hoaks yang disebarluaskan melalui media sosial. Tanpa bimbingan dan arahan, generasi Z yang aktif di media sosial melalui gawai akan rentan terpapar hoaks dalam banyak hal. Misalnya, kecenderungan intoleransi dalam diri anak dan remaja saat ini karena informasi di media sosial yang diterima mereka.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengutip hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada Oktober 2018, mengatakan, ada kecenderungan intoleran dan radikal dalam guru-guru di jenjang pendidikan TK/RA sampai SLTA. Menurut survei dari sampel 2.237 guru, lebih dari 50 persen guru memiliki opini intoleran dan 46 persen memiliki opini radikal terhadap orang atau kelompok masyarakat selain yang beragama Islam.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Rabu (20/3/2019), mendengarkan penyampaian Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Padahal, guru adalah salah satu yang berperan dalam perkembangan hidup generasi Z saat ini. Guru juga menjadi tempat anak dan remaja kini bertanya tentang kehidupan. Jika terpapar intoleransi dan radikalisme, sedangkan tidak ada pengawasan apalagi pencegahan dalam keluarga, ke depan generasi yang akan membawa arah bangsa ini kehilangan prinsip menghormati keberagaman dan perbedaan.

”Dalam konteks sederhana, seperti meme di Instagram, saya hafal para Youtuber dan pemain drama korea, tetapi tidak hafal Pancasila, tuman!” ujar Khofifah disambut tawa peserta jambore. Tuman berarti gandrung atau kesukaan yang berkonotasi negatif.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019).

Puan mengingatkan, generasi Z, termasuk peserta jambore dari siswa SD-SLTA model se-Jatim, untuk bijaksana dalam bergawai. Nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang dibangun sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diharapkan tetap terpelihara. Yang dimaksud adalah menerima keniscayaan bahwa bangsa ini terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan antargolongan, tetapi mau hidup bersama dalam rumah bernama NKRI, menerima Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup, dan UUD 1945 sebagai konstitusi.

Bertentangan
Menurut Puan, intoleransi apalagi radikalisme bertentangan dengan Pancasila. Pandangan hidup intoleran dan radikal perlu dipahami sebagai hal yang tidak baik sehingga perlu disingkirkan. Selama bergawai dalam media sosial, generasi Z diimbau cermat dan bijaksana untuk tidak memberi ruang terhadap pandangan intoleran dan radikal.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Salah satu stan peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019).

Dalam konteks menghargai keberagaman itulah, lanjut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, kegiatan berwujud jambore di LPMP menjadi penting. Di sinilah siswa SD-SLTA bertemu dengan sesamanya dari luar daerah yang berlatar belakang berbeda. Jambore yang bertema penguatan pendidikan karakter dan ekspresi kebudayaan menjadi tepat dan perlu digaungkan.

Jambore diharapkan menjadi sarana peserta untuk berbagi dan berteman. Dengan demikian diharapkan terjalin persahabatan abadi yang didukung rasa saling menghormati dan menerima keberagaman. Selain itu, nilai-nilai kehidupan praktis menurut Pancasila, antara lain nasionalisme dan cinta kebudayaan Nusantara, dapat terjaga.–AMBROSIUS HARTO

Editor AGNES PANDIA

Sumber: Kompas, 20 Maret 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: