Remaja agar Bijaksana Bergawai

- Editor

Jumat, 22 Maret 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siswa sekolah dengan rentang kelahiran 1995-2010, yang disebut generasi Z, diyakini akrab bahkan cenderung menggantungkan banyak aktivitas dengan gawai. Padahal, produk teknologi informasi melalui gawai khususnya media sosial memiliki dua sisi, yaitu sisi baik dan buruk. Untuk itu, generasi Z yang dalam sedasawarsa mendatang memulai peran menentukan arah bangsa diharapkan bijaksana memanfaatkan perangkat telekomunikasi dalam berinteraksi.

Menurut Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani ketika membuka Jambore Pandu Sekolah Model, Rabu (20/3/2019), di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, generasi Z nantinya akan membawa bangsa Indonesia menjadi baik atau malah sebaliknya.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Generasi Z saat ini hidup dengan maraknya informasi bohong dan hoaks yang disebarluaskan melalui media sosial. Tanpa bimbingan dan arahan, generasi Z yang aktif di media sosial melalui gawai akan rentan terpapar hoaks dalam banyak hal. Misalnya, kecenderungan intoleransi dalam diri anak dan remaja saat ini karena informasi di media sosial yang diterima mereka.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mengutip hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah pada Oktober 2018, mengatakan, ada kecenderungan intoleran dan radikal dalam guru-guru di jenjang pendidikan TK/RA sampai SLTA. Menurut survei dari sampel 2.237 guru, lebih dari 50 persen guru memiliki opini intoleran dan 46 persen memiliki opini radikal terhadap orang atau kelompok masyarakat selain yang beragama Islam.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Rabu (20/3/2019), mendengarkan penyampaian Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Padahal, guru adalah salah satu yang berperan dalam perkembangan hidup generasi Z saat ini. Guru juga menjadi tempat anak dan remaja kini bertanya tentang kehidupan. Jika terpapar intoleransi dan radikalisme, sedangkan tidak ada pengawasan apalagi pencegahan dalam keluarga, ke depan generasi yang akan membawa arah bangsa ini kehilangan prinsip menghormati keberagaman dan perbedaan.

”Dalam konteks sederhana, seperti meme di Instagram, saya hafal para Youtuber dan pemain drama korea, tetapi tidak hafal Pancasila, tuman!” ujar Khofifah disambut tawa peserta jambore. Tuman berarti gandrung atau kesukaan yang berkonotasi negatif.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019).

Puan mengingatkan, generasi Z, termasuk peserta jambore dari siswa SD-SLTA model se-Jatim, untuk bijaksana dalam bergawai. Nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara yang dibangun sejak Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia diharapkan tetap terpelihara. Yang dimaksud adalah menerima keniscayaan bahwa bangsa ini terdiri dari beragam suku, agama, ras, dan antargolongan, tetapi mau hidup bersama dalam rumah bernama NKRI, menerima Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup, dan UUD 1945 sebagai konstitusi.

Bertentangan
Menurut Puan, intoleransi apalagi radikalisme bertentangan dengan Pancasila. Pandangan hidup intoleran dan radikal perlu dipahami sebagai hal yang tidak baik sehingga perlu disingkirkan. Selama bergawai dalam media sosial, generasi Z diimbau cermat dan bijaksana untuk tidak memberi ruang terhadap pandangan intoleran dan radikal.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Salah satu stan peserta Jambore Pandu Sekolah Model di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019).

Dalam konteks menghargai keberagaman itulah, lanjut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, kegiatan berwujud jambore di LPMP menjadi penting. Di sinilah siswa SD-SLTA bertemu dengan sesamanya dari luar daerah yang berlatar belakang berbeda. Jambore yang bertema penguatan pendidikan karakter dan ekspresi kebudayaan menjadi tepat dan perlu digaungkan.

Jambore diharapkan menjadi sarana peserta untuk berbagi dan berteman. Dengan demikian diharapkan terjalin persahabatan abadi yang didukung rasa saling menghormati dan menerima keberagaman. Selain itu, nilai-nilai kehidupan praktis menurut Pancasila, antara lain nasionalisme dan cinta kebudayaan Nusantara, dapat terjaga.–AMBROSIUS HARTO

Editor AGNES PANDIA

Sumber: Kompas, 20 Maret 2019

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 16 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB