Home / Berita / Reklamasi Perparah Degradasi Lingkungan Teluk Benoa

Reklamasi Perparah Degradasi Lingkungan Teluk Benoa

Penelitian terbaru menunjukkan terjadi pelambatan arus di Teluk Benoa, Bali sejak reklamasi Pulau Serangan dan pembangunan jalan tol. Rencana reklamasi di kawasan ini akan memperparah degradasi lingkungan di kawasan ini.

Studi ini dilakukan oleh para peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan dipublikasikan di jurnal internasional Regional Studies in Marine Science (2018). Para peneliti yang terlibat yaitu Ulung J. Wisha, Try Al Tanto, Widodo S.Pranowo, dan Semeidi Husrin.

“Penelitian kami ini mengkaji sirkulasi arus di Teluk Benoa pada tahun 1995 sebelum reklamasi Pulau Serangan, lalu 2016 setelah ada jalan tol, dan skenario ketiga setelah dibangun pulau-pulau reklamasi baru. Ada tiga titik di mulut teluk yang diamati,” kata Semeidi Husrin, di Jakarta (19/3).

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI–Ratusan warga 39 desa adat yang tergabung Pasubayan Desa Adat demo di halaman Kantor DPRD Bali, Kota Denpasar, Kamis (13/10/2016). Mereka terus berlanjut menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa dan mendesak DPRD dan Pemerintah Provinsi Bali bersikap tegas agar Presiden mengembalikannya menjadi kawasan konservasi.

Analisis tim peneliti ini menemukan, kecepatan arus di Teluk Benoa pada tahun 1995 dibandingkan tahun 2016 mengalami pelambatan sekitar empat persen. Pelambatan arus ini diduga akibat terjadi perubahan lahan di sekitar kawasan ini, terutama dari dampak reklamasi Pulau Serangan dan pembangunan jalan tol yang membelah Teluk Benoa.

–Perubahan kecepatan arus di Teluk Benoa, Bali pada tahun 19995, 2016, dan 2018. Penelitian ini menunjukkan, kualitas lingkungan di Teluk Benoa, Bali terus menurun dibandingkan tahun 1995 akibat pembangunan Pulau Serangan dan Pelabuhan Benoa. Rencana reklamasi di kawasan ini akan memperparah degradasi lingkungan di kawasan ini, ditandai dengan pelambatan arus laut pada tahun 2018. (Sumber: Ulung J. Wisha, dkk. Dalam: Regional Studies in Marine Science (2018))

Sementara simulasi arus pada tahun 2018 dengan menempatkan pulau-pulau kecil reklamasi di Teluk Benoa tersebut, kecepatan arus menurun signifikan hingga 15 persen dibandingkan sebelumnya. “Pelambatan arus akan memicu terjadinya sedimentasi dan pendangkalan,” kata Semeidi.

Pelambatan signifikan, menurut Semeidi, dengan asumsi proyek reklamasi tidak melakukan apa-apa. “Pelambatan bisa dikurangi jika misalnya dipasang pompa dan pintu air, tetapi biayanya pasti akan mahal,” kata Semeidi.

KOMPAS/COKORDA YUDISTIRA–Warga dari sejumlah desa pakraman (adat) di Kota Denpasar menggelar aksi damai menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Bali, di ruas Jalan Pelabuhan Benoa, Pesanggaran, Denpasar Selatan, Minggu (28/2/2016).

Kepala Laboratorium Data Laut dan Pesisir Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Laut dan Pesisir KKP, Widodo Pranowo mengatakan, Teluk Benoa merupakan perairan semi tertutup yang dipengaruhi pasang surut dan sangat dangkal. Ketika surut bisa menjadi daratan dengan genangan beberapa kolam air.

Namun, saat kondisi surut merupakan momen bagi biji atau tunas mangrove muda untuk bernafas. Pada saat itu, juga burung-burung turun mencari makan sehingga secara alami kawasan ini selama ini menjadi salah satu transit burung-burung yang bermigrasi dari bumi bagian utara ke bumi bagian selatan atau sebaliknya.

Sementara pada saat air pasang, sirkulasi air laut dari laut lepas memberikan oksigen terlarut kepada perairan sekitarnya. Dengan terjadinya pelambatan arus, sirkulasi air yang biasanya sebagai media pertukaran oksigen akan terganggu. “Kalau sirkulasi air laut terhambat, sebagian spesies mangrove juga terancam mati,” kata Widodo.

Selain itu, reklamasi akan mengganggu habitat organisme yan biasa mencari makan di kawasan ini. “Jelas bahwa, reklamasi akan semakin memperburuk kondisi lingkungan di Teluk Benoa dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Padahal yang dijual sebagai wisata di Bali selama ini adalah ekowisata bahari,” kata dia.

Hasil studi itu menyimpulkan, reklamasi akan memicu degradasi lingkungan secara drastis, dari aspek fisik, kimia, dan biologi.

Warga dari sejumlah desa pakraman (adat) di Kota Denpasar menggelar aksi damai menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Bali, di ruas Jalan Pelabuhan Benoa, Pesanggaran, Denpasar Selatan, Minggu (28/2/2016). (Kompas/Cokorda Yudistira)

Hati-hati
Widodo mengatakan, kajian juga menjadi peringatan bagi reklamasi di berbagai daerah lain yang saat ini gencar di lakukan. “Pengalaman bergabung di World Harbour Project, kami telah mempelajari reklamasi di beberapa kota besar sejumlah negara. Secara umum, reklamasi pasti berdampak,” kata dia.

Menurut Widodo, reklamasi hampir selalu menyebabkan abrasi dan sedimentasi pada sisi-sisi pantai yang berlawanan. Dengan demikian, perlu disimulasikan secara pemodelan hidrodinamika arus, gelombang dan angkutan sedimen. “Berdasarkan hasil pemodelan tersebut dapat diketahui wilayah-wilayah mana sajakah yang dapat terdampak,” kata dia.

Selain di Teluk Benoa, dari pemodelan yang pernah dilakukan Widodo di Teluk Jakarta, rencana reklamasi di kawasan ini juga berpotensi memicu terjadinya pelambatan arus secara signifikan. Padahal, Teluk Jakarta menjadi muara 13 sungai yang tingkat pencemarannya sangat tinggi.

Sekalipun sebagian besar reklamasi berdampak negatif, ada juga reklamasi yang memberi dampak positif, yaitu di Pulau Nipah di Kepulauan Riau. Pulau tersebut pernah terancam abrasi kuat, padahal itu salah satu titik ikat batas laut teritorial Indonesia dengan Singapura. “Dengan mereklamasi Pulau Nipah, ancaman mundurnya batas laut Indonesia bisa dihidari,” ujarnya.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 20 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: