Reinfeksi Covid-19 untuk Pertama Kalinya Ditemukan di Hong Kong

- Editor

Rabu, 26 Agustus 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kasus perulangan infeksi virus SARS-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, terekam ilmuwan di Hong Kong. Individu tersebut terinfeksi kembali setelah mengalami kasus yang sama 4,5 bulan lalu.

Ilmuwan di Hong Kong melaporkan kasus seorang pria berusia sekitar 30 tahun yang terinfeksi kembali dengan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. Infeksi ini terjadi setelah empat setengah bulan sejak serangan pertamanya. Ini menjadi kasus pertama infeksi kembali yang terbukti secara saintifik.

Informasi tentang adanya infeksi ulang atau reinfeksi SARS-CoV-2 ini dilaporkan tim peneliti dari Departemen Kedokteran Universitas Hong Kong pada Senin (25/8/2020). Hasil penelitian sudah diterima di jurnal Clinical Infectious Diseases, tetapi belum belum dipublikasikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pasien yang sebelumnya sehat itu pertama kali didiagnosis Covid-19 pada 26 Maret. Pada infeksi pertama ia mengalami gejala ringan, antara lain batuk, radang tenggorokan, sakit kepala, dan demam selama beberapa hari. Meskipun gejalanya mereda, dia dirawat di rumah sakit pada 29 Maret dan dipulangkan pada 14 April setelah dites negatif dua kali.

Empat setengah bulan kemudian, pasien kembali ke Hong Kong dari Spanyol melalui Inggris dan dites positif terkena virus dalam pemeriksaan di bandara Hong Kong pada 15 Agustus. Dia kembali dirawat di rumah sakit, tetapi tidak menunjukkan gejala apa pun.

Itu mungkin berarti bahwa orang tersebut tidak terus ”menumpahkan” virus yang sama beberapa bulan setelah terinfeksi, menurut penelitian yang baru saja diterima, tetapi belum dipublikasikan, dalam jurnal Clinical Infectious Diseases.

Konfirmasi tentang infeksi kembali atau reinefksi ini dibuktikan dengan pengurutan genom dari dua virus yang menginfeksinya. Hasilnya, kedua virus korona baru yang menginfeksi pasien ini memiliki 24 nukleotida, atau blok bangunan, yang berbeda dalam urutan gennya.

Sekalipun ini merupakan kasus pertama, sejumlah ilmuwan memperingatkan untuk tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan kasus satu pasien. Dibutuhkan riset lebih mendalam untuk mengetahui implikasi dari infeksi ulang ini.

”Ini bukan alasan untuk khawatir, ini adalah contoh buku teks tentang bagaimana kekebalan harus bekerja,” tulis Akiko Iwasaki, profesor imunobiologi dan biologi molekuler di Yale School of Medicine, dalam pernyataannya di Twitter.

Menurut dia, meskipun kekebalan tidak cukup untuk memblokir infeksi ulang, antibodi yang terbentuk selama infeksi pertama melindungi orang dari penyakit. Ini membuat pasien tidak mengembangkan gejala yang lebih parah.

”Ini adalah contoh infeksi ulang yang sangat langka,” kata Brendan Wren, profesor patogenesis mikroba, di London School of Hygiene and Tropical Medicine, seperti dilaporkan BBC.

Sekalipun kasus ini akan menjadi tantangan besar dalam pengembangan vaksin ke depan, Brendan mengatakan, hal ini seharusnya tidak meniadakan dorongan global untuk mengembangkan vaksin Covid-19.

Jeffrey Barrett, konsultan ilmiah senior untuk proyek genom Covid-19 di Wellcome Sanger Institute, mengatakan, ”Mengingat jumlah infeksi global hingga saat ini, melihat satu kasus infeksi ulang tidak terlalu mengejutkan meskipun itu kejadian yang sangat langka.”

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 25 Agustus 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 11 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru