Home / Berita / Reinfeksi Covid-19 untuk Pertama Kalinya Ditemukan di Hong Kong

Reinfeksi Covid-19 untuk Pertama Kalinya Ditemukan di Hong Kong

Kasus perulangan infeksi virus SARS-CoV-2, penyebab pandemi Covid-19, terekam ilmuwan di Hong Kong. Individu tersebut terinfeksi kembali setelah mengalami kasus yang sama 4,5 bulan lalu.

Ilmuwan di Hong Kong melaporkan kasus seorang pria berusia sekitar 30 tahun yang terinfeksi kembali dengan SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19. Infeksi ini terjadi setelah empat setengah bulan sejak serangan pertamanya. Ini menjadi kasus pertama infeksi kembali yang terbukti secara saintifik.

Informasi tentang adanya infeksi ulang atau reinfeksi SARS-CoV-2 ini dilaporkan tim peneliti dari Departemen Kedokteran Universitas Hong Kong pada Senin (25/8/2020). Hasil penelitian sudah diterima di jurnal Clinical Infectious Diseases, tetapi belum belum dipublikasikan.

Pasien yang sebelumnya sehat itu pertama kali didiagnosis Covid-19 pada 26 Maret. Pada infeksi pertama ia mengalami gejala ringan, antara lain batuk, radang tenggorokan, sakit kepala, dan demam selama beberapa hari. Meskipun gejalanya mereda, dia dirawat di rumah sakit pada 29 Maret dan dipulangkan pada 14 April setelah dites negatif dua kali.

Empat setengah bulan kemudian, pasien kembali ke Hong Kong dari Spanyol melalui Inggris dan dites positif terkena virus dalam pemeriksaan di bandara Hong Kong pada 15 Agustus. Dia kembali dirawat di rumah sakit, tetapi tidak menunjukkan gejala apa pun.

Itu mungkin berarti bahwa orang tersebut tidak terus ”menumpahkan” virus yang sama beberapa bulan setelah terinfeksi, menurut penelitian yang baru saja diterima, tetapi belum dipublikasikan, dalam jurnal Clinical Infectious Diseases.

Konfirmasi tentang infeksi kembali atau reinefksi ini dibuktikan dengan pengurutan genom dari dua virus yang menginfeksinya. Hasilnya, kedua virus korona baru yang menginfeksi pasien ini memiliki 24 nukleotida, atau blok bangunan, yang berbeda dalam urutan gennya.

Sekalipun ini merupakan kasus pertama, sejumlah ilmuwan memperingatkan untuk tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan kasus satu pasien. Dibutuhkan riset lebih mendalam untuk mengetahui implikasi dari infeksi ulang ini.

”Ini bukan alasan untuk khawatir, ini adalah contoh buku teks tentang bagaimana kekebalan harus bekerja,” tulis Akiko Iwasaki, profesor imunobiologi dan biologi molekuler di Yale School of Medicine, dalam pernyataannya di Twitter.

Menurut dia, meskipun kekebalan tidak cukup untuk memblokir infeksi ulang, antibodi yang terbentuk selama infeksi pertama melindungi orang dari penyakit. Ini membuat pasien tidak mengembangkan gejala yang lebih parah.

”Ini adalah contoh infeksi ulang yang sangat langka,” kata Brendan Wren, profesor patogenesis mikroba, di London School of Hygiene and Tropical Medicine, seperti dilaporkan BBC.

Sekalipun kasus ini akan menjadi tantangan besar dalam pengembangan vaksin ke depan, Brendan mengatakan, hal ini seharusnya tidak meniadakan dorongan global untuk mengembangkan vaksin Covid-19.

Jeffrey Barrett, konsultan ilmiah senior untuk proyek genom Covid-19 di Wellcome Sanger Institute, mengatakan, ”Mengingat jumlah infeksi global hingga saat ini, melihat satu kasus infeksi ulang tidak terlalu mengejutkan meskipun itu kejadian yang sangat langka.”

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 25 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: