Home / Berita / Raksasa Itu Pun Tak Ingin Roboh

Raksasa Itu Pun Tak Ingin Roboh

Memang tidak mudah memprediksi masa depan sebuah perusahaan, sekalipun itu sudah sekaliber raksasa dunia. Apalagi, dalam dinamika teknologi informasi yang perubahannya berlangsung sangat cepat, sangat menuntut perhatian seagresif kecepatan perkembangannya.

Sebuah evolusi yang revolusif memang mampu membuat yang muskil menjadi nyata. Namun, bagi yang gagal mengikuti tren bisa menjadi tragedi. Sejarah baru saja membuktikan, vendor raksasa ponsel Nokia harus menyerah kepada Microsoft.

Sebaliknya bagi Microsoft, langkah yang ditempuh merupakan upaya menutupi kekurangan untuk bisa mengikuti perubahan. Sekalipun raksasa yang moncer pada era Bill Gates itu pernah mengusai lebih dari 90 persen sistem operasi komputer pribadi, pengaruhnya berkurang ketika tren mengarah ke perangkat bergerak.

Tidak mudah mengatasi ketertinggalan dari para pesaingnya, apakah itu Google yang memelopori sistem operasi Android atau Apple yang berjaya dengan tablet atau sabak iPad. Tren baru mengarah pada sabak elektronik (tablet), smartphone, dan turunannya seperti phablet (smartphone berlayar besar).

19c9baae52e44da8b3966e5541c4a6bbYang sebenarnya patut disayangkan sepertinya adalah Nokia yang justru menolak kehadiran sabak, padahal kalau diperhatikan raksasa dari Finlandia itu pernah harum namanya dengan komputer saku seri Communicator, generasi sebelum sabak. Sudah sangat terlambat ketika belakangan ini baru akan meluncurkan sabak.

Nasib serupa hampir dialami BlackBerry yang ragu dengan tablet, menyusul ketidakberhasilannya dalam memasarkan Playbook, tablet besutannya. Akankah perusahaan dari Kanada ini mampu mendapatkan pemilik baru yang mampu memperbaiki kinerjanya, itu masih dalam penantian.

Sementara Microsoft tampaknya tidak ingin mengalami hal serupa. Berbagai upaya sedang dan terus dilakukan untuk menyambut era mobile. Salah satu yang mencolok adalah peluncuran sistem operasi Windows 8.1 pada 18 Oktober lalu. Ini merupakan versi perbaikan Windows 8.0 yang baru diluncurkan kurang dari setahun sebelumnya.

Raksasa peranti lunak ini sedang mempertaruhkan masa depannya dan tidak ingin gagal dalam upayanya masuk ke dunia mobile. Windows 8 sangat berbeda dengan sistem operasi sebelumnya, salah satunya kemampuan menangani layar sentuh, sebuah fitur yang umum digunakan pada perangkat sabak ataupun ponsel pintar saat ini.

Pengguna Windows 8 yang sekarang tersebar di 230 negara dalam 37 bahasa ini sudah dapat mengunduh update ini secara gratis melalui Windows Store. Selain itu, Windows 8.1 juga akan tersedia di beragam perangkat baru serta dalam kemasan boks ritel di berbagai lokasi di seluruh dunia.

Office 365
Harus diakui, mahalnya harga peranti lunak telah menyuburkan pembajakan produk Microsoft selama ini. Secara finansial, pembajakan merugikan, tetapi sebenarnya kebiasaan orang menggunakan program Microsoft itu merupakan modal yang tidak kelihatan bagi raksasa yang tengah terjepit persaingan ini.

Ada semangat baru pada diri Microsoft, persaingan yang semakin keras bagaimanapun harus dilakukan strategi yang berbeda untuk bisa bertahan.

”Dengan Officce 365 benar- benar akan mengubah cara orang bekerja dan belajar selama ini,” kata Jean-Phillippe Courtois, President Microsoft International dalam wawancara khusus dengan beberapa wartawan di Jakarta, beberapa waktu lalu. Jean-Phillippe memimpin penjualan, marketing, dan layanan Microsoft di luar wilayah Amerika Serikat dan Kanada.

Produk Office 365 merupakan produk paket solusi peranti lunak Microsoft yang baru, baik untuk bekerja, di sekolah, maupun di rumah. ”Baik dengan ponsel, tablet, laptop, maupun desktop pengguna akan mendapatkan pengalaman yang sama dan sangat memudahkan untuk digunakan,” katanya.

Dalam setahun, paket solusi itu bahkan telah diunduh hingga 1,5 miliar. Ini merupakan sebuah pertumbuhan tercepat dari produk Microsoft selama ini. Bukan hanya dalam bidang usaha, melainkan juga kalangan pendidikan memanfaatkan ini, termasuk Universitas Terbuka yang menggunakan jasa internet untuk menjalankan aktivitas perkuliahan para mahasiswanya.

”Sebenarnya ada poin bagus dari 365 ini adalah bisa mencegah mahasiswa menggunakan produk bajakan. Dengan layanan melalui cloud, para mahasiswa kami bisa menggunakan program Microsoft secara gratis,” kata Tian Belawati, Rektor Universitas Terbuka, yang ikut dalam wawancara itu.

Bagaimanapun, kesan selama ini terhadap produk Microsoft dirasakan serba harus membayar, apalagi untuk ukuran saku mahasiswa atau pelajar di negeri ini yang sebagian besar pasti akan keberatan. Banyak upaya selain menggunakan produk bajakan, seperti mengembangkan sistem operasi Linux. Dan, semangat ini kemudian dimanfaatkan Google untuk membuat sistem operasi open source Android yang berbasis Linux.

Apa yang dikatakan Rektor UT ini cukup melegakan walaupun juga diakui, bagi mahasiswa yang ingin menginstal program pada komputer masing-masing tetap harus membeli. Hanya memang bedanya, jika dahulu satu peranti lunak hanya untuk satu orang, sekarang bisa sampai tiga atau lima pengguna pribadi.

Jean-Phillippe juga menegaskan, bagi ekonomi Indonesia yang ditopang sekitar 90 persen perusahaan kecil dan menengah penawaran pihaknya akan sangat mendukung. Banyak gagasan bagus yang akan terdukung, perusahaan juga tidak perlu harus berinvestasi besar untuk kebutuhan IT sebelum waktunya dibutuhkan.

Satu strategi baru semakin memperkuat upaya kembalinya Microsoft untuk bersaing dengan para kompetitornya. Meski demikian, persaingan masih akan tetap keras. Banyak hal-hal yang harus dilakukan Microsoft, seperti pengembangan dalam perangkat keras yang selama ini masih mengandalkan mitra bisnisnya.

Langkah memasuki dunia sabak dengan OS Windows 8 sangat menggembirakan pengguna Microsoft. Namun, jangan lupa, kompetitor mereka seperti Apple juga tidak berhenti berinovasi. Bahkan, dalam peluncuran produk barunya belum lama ini di San Fransisco, AS, memperlihatkan bagaimana tablet iPad Mini Retina Display dan iPad Air yang tipis sudah dibekali dengan prosesor 64-bit.

Mungkin prosesor 64-bit yang digunakan pada iPhone 5S belum banyak manfaatnya karena sedikit jumlah aplikasi 64-bit yang tersedia. Namun, jangan terlena, perkembangan dalam dunia informatika sangat cepat, akan tertinggal jika tidak siap. (AWE)

Sumber: Kompas, 6 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: