Promosi Doktor; Barter Jadi Jaring Pengaman Sosial

- Editor

Selasa, 29 Juni 2010

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Model ekonomi dengan konteks sosial budaya menjadi penting. Sistem barter yang bertahan di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu contohnya. Dalam menghadapi alam Nusa Tenggara Timur yang sering tidak ramah dan keras, barter menjadi jaring pengaman sosial yang efektif.

Demikian, antara lain, pokok pikiran disertasi promosi doktor program studi Sosiologi yang disampaikan Jacobus Belida Blikololong, Senin (28/6) di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Disertasi bertajuk ”Du-Hope (Barter) di Tengah Penetrasi Ekonomi; Sebuah kajian Sosiologis terhadap Sistem Barter di Lamalera, Nusa Tenggara Timur (NTT)” itu berhasil dipertahankan dalam sidang terbuka senat akademik Universitas Indonesia dengan predikat sangat memuaskan. Selaku promotor, Prof Dr Robert MZ Lawang dalam sambutannya mengatakan, para penguji sepakat, Jacobus sebetulnya berhak atas predikat cum laude, tetapi disertasi itu lambat diselesaikan.

Jacobus mengungkapkan, kesejahteraan sebagai tujuan usaha pembangunan perlu dibangun dalam konteks sosial budaya lokal dan bukan merupakan universalisasi model pembangunan Barat, seperti yang sedang terjadi di pelosok-pelosok Indonesia. Fenomena berdampingannya barter (pra-kapitalisme) dan uang (kapitalisme) di Lamalera di Pulau Lembata menegaskan bahwa sebuah sistem ekonomi akan menjadi andal kalau berbasis budaya lokal (kontekstual).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di sejumlah tempat, seperti Adonara, Lembata, Alor, dan Pantar, barter masih bertahan dan terbukti menjadi jaring pengaman sosial yang mampu berdampingan bersama uang. ”Sebagai contoh, orang pegunungan biasa membawa jagung dan menukarkannya dengan ikan atau komoditas lain. Ketika terjadi gagal panen dan uang tidak ada, orang masih bisa barter dengan menggunakan barang yang ada,” ujarnya.

Di Lamalera, du-hope (barter) masih bertahan secara utuh, hanya berubah penampilannya. Daerah Lama Holot tercatat sebagai wilayah barter yang paling bertahan. Di Lamalera barter tetap bertahan nyaris utuh karena faktor tena (teknologi barter), kotekelema (komoditas utama), dan prefo (simpul jaringan barter). Keempat unsur itu dapat disebut sebagai spirit of barter dengan adat sebagai semangat utamanya.

Sebaliknya, universalisasi justru menggerus sistem berkonteks sosial budaya yang ada. Dia mencontohkan, penetrasi ekonomi uang bersamaan dengan gencarnya pembangunan membuat sistem barter di sejumlah tempat di NTT, yang sampai tahun 1970-an sangat diandalkan sebagai bagian dari ekonomi subsistensi, menghilang di sejumlah tempat.

Tidak tanam jagung

Penyeragaman justru berbahaya. Dia mencontohkan, pembagian beras untuk rakyat miskin (raskin) di masyarakat yang semula bertanam dan memakan produk lain akan bersifat merusak. ”Di daerah yang mengandalkan jagung, misalnya, begitu ada pembagian beras, orang menjadi terbiasa dengan beras dan menyingkirkan jagung. Ketika terjadi krisis, orang tidak mempunyai uang untuk membeli beras, sedangkan jagung tidak ditanam lagi. Kelaparan besar terjadi,” ujarnya.

Program-program pembangunan selama ini merupakan mono cropping, penerapan dari model tunggal yang diterapkan di dunia Barat yang kapitalistik. Model ekonomi liberal yang digerakkan prinsip kapitalisme tidak cocok dengan Indonesia. Kasus resiliensi barter di Lamalera membuktikan kapitalisme dengan model ekonomi liberal hanya cocok di negara industri maju. Dalam sejarahnya, ekonomi kapitalistik sebetulnya bersifat kontekstual lokal masyarakat industri. Ekonomi komunitas yang menekankan pemberdayaan komunitas dan solidaritas kolektif perlu dikembangkan. (INE)

Sumber: Kompas, Selasa, 29 Juni 2010 | 05:12 WIB

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru