Home / Berita / Posisi Indonesia di Antara Tiga Lempeng Lithosfer

Posisi Indonesia di Antara Tiga Lempeng Lithosfer

Mengapa Gempa Bumi Selalu Terjadi di Sini?

Pendahuluan
Banyak orang yang tidak menyadari bahwa terjadinya gempa bumi, letusan gunung api, dislokasi dan sebagainya diakibatkan karena bumi kita mengadakan gerakan-gerakan keseimbangan (stabilisasi) untuk penyesuaian diri. Bahkan ada sebagian orang terjadinya gempa bumi banyak menghubungkan dengan suatu takhayul.

Apabila kita melihat peta kepulauan Indonesia nampak P Sumatra, P Jawa, P. Bali, P. Lombok, P. Sumba, P. Sumbawa dan P.Timor berangkaian satu sama lain membentuk suatu busur kepulauan. Nampak juga barisan gunung api yang berurutan dari ujung utara P Sumatra, P Jawa, P. Bali dan terus ke timur yang juga membentuk suatu busur gunung api. Disamping itu juga mengapa P. Sulawesi seolah-olah membentuk huruf K.

Semua yang diuraikan di atas tadi merupakan contoh-contoh gejala geologi yang muncul di permukaan bumi Indonesia. Untuk mengungkap dibalik rahasia yang menyebabkan kejadian tersebut, maka penulis perlu mengutarakan hakekat bumi itu, baik mengenai susunan bumi, gerakan gerakan yang muncul dibagikan kulit bumi maupun teori-teori yang mendukung kejadian tersebut.

Susunan Bumi
Beberapa ahli geologi dan geofisik menyelidiki bumi, dari semua penyelidikan yang mereka lakukan, mereka menyatakan bahwa bumi merupakan suatu benda yang berlapis-lapis. Susunan bumi dibagi menjadi 4 bagian:

  1. Kerak, merupakan kulit bumi yang bersifat padat dan kaku berketebalan rata-rata 35 km atau biasa disebut Sial (silisium aluminium). Kerak ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu: a. Kerak benua, merupakan benda padat yang terdiri dari batuan beku granit pada bagian atasnya dan batuan beku basalt pada bawahnya. Kerak ini yang menempati sebagai benua. b. Kerak samudra, merupakan benda padat yang terdiri dari endapan di laut pada bagian atas, kemudian dibawahnya batuan batuan vulkanik dan yang paling bawah tersusun dari batuan beku gabro dan peridotit. Kerak ini menempati sebagai samudra.
  2. Selubung bumi bagian luar (upper mantle), merupakan bahan yang bersifat elastis dan mempunyai ketebalan rata-rata 65 km. Selubung bumi bagian luar ini sering disebut Sima (silisium magnesium) dan bersama dengan kerak yang ada di atasnya disebut sebagai lithosfer.
  3. Asthenosfer (mantle) merupakan bahan cair bersuhu tinggi dan pijar dengan ketebalan ± 2.800 km
  4. Inti bumi, merupakan bahan padat yang tersusun oleh unsur besi dan nikel dengan jari-jari ± 3500 km.

Prinsip-prinsip Pergeseran Lempeng Lithosfer
Dengan makin berkembangnya ilmu geologi maka rahasia mengenai bumi semakin terungkap, dari tahun 1920-an tokoh Alfred Wagener yang melahirkan teori pergeseran benua sampai tahun 1960-an yang melahirkan teori tektonik lempeng, dimana sampai sekarang teori tersebut merupakan teori yang dapat mengungkapkan semua fenomena geologi yang ada di bumi.

Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa lithosfer yang tipis berada di atas asthenosfer yang bersifat cair (plastis), hal ini dapat disamakan remasan kerupuk di atas bubur panas saja layaknya.

Menurut para ahli geologi lithosfer tersebut terkoyak-koyak disana-sini sehingga terpecah-pecah membentuk suatu kepingan yang disebut lempeng lithosfer dan bergerak akibat adanya arus konveksi di asthenosfer. Jadi tanah yang kita injak sebetulnya bergerak sejauh 1-10 cm per tahun (Morgan 1968, Hamilton 1970). Dengan adanya gerakan tersebut maka lempeng lithosfer saling berdesakan dan bertumbukkan, maka timbul prinsip-prinsip pergeseran lempeng lithosfer yaitu:

  1. Lempeng lithosfer saling bertumbukkan (divergensi), dimana salah satunya sampai menyusup di bawah lempeng lithosfer lainnya.
  2. Lempeng lithosfer saling memisah (konvergensi), dimana membentuk punggungan di tengah samudra.
  3. Lempeng lithosfer saling berpapasan, dimana membentuk sesar mendatar.

Pergerakan Lempeng Lithosfer di Indonesia
Pada jaman akhir Kapur sampai permulaan Tersier (± 65 juta tahun yang lalu) lempeng lithosfer Hindia-Australia bergerak ke utara dan lempeng lithosfer Pasifik bergerak ke barat barat laut bersama-sama menabrak lempeng lithosfer Asia Tenggara (lihat gambar 1). Jadi posisi Indonesia dalam keadaan terjepit di antara gerakan gerakan lempeng lithosfer tersebut. Tentunya apabila suatu masa yang sangat besar seperti lempeng lithosfer bertabrakan dengan lempeng lithosfer lainnya maka akibat yang terjadi akan hebat pula, walaupun gerakan lempeng lithosfer hanya 1-10 cm per tahun.

photo_2016-06-15_09-35-21Pada proses tumbukan lempeng lithosfer yang berkembang baik seperti di Indonesia akan membentuk suatu bentang alam yang berupa sistem “palungbusur” (arc trench system). Sistem tersebut dicirikan dengan terdapatnya palung laut dalam (trench), rumpang antara palung dan busur magmatik (arc trench gap), busur magmatik (magmatic arc; volkanic arc) dan cekungan muka daratan (foreland basin) atau buritan busur (back arc) (lihat gambar 2).

Konsekwensi yang Terjadi di Indonesia
Dengan adanya tumbukan lempeng Iithosfer di Indonesia, maka kepulauan Indonesia merupakan daerah batasan yang luas/ lebar yang harus mengimbangi gerak-gerak dari ketiga lempeng lithosfer yang saling bertumbukan. Sehingga keadaan geologi di Indonesia sangat rumit dan bahkan para ahli menyatakan bahwa di Indonesia merupakan salah satu daerah di dunia yang keadaan geologinya sangat rumit.

Sifat dari wilayah ini dicirikan oleh perubahan-perubahan yang menerus dari susunan-susunan kepingan lempeng lithosfer, jalur penekukan, sesar (patahan) mendatar dan busur yang bergeser. Tempat dimana terjadi pertumbukan lempeng lithosfer akan merupakan jalur dengan kegiatan orogen, yang meliputi gejala-gejala konsumsi lempeng lithosfer tempat pertumbuhan benua, pengerutan lapisan, penebalan kerak bumi, pembumbungan isostasi yang diikuti kegiatan magmatik dan gejala metamorfisma. Dari hal tersebut di atas, maka akan memberi beberapa ciri khas yang mewarnai wilayah Indonesia yaitu:

1 . Fisiografi
Wilayah Indonesia mempunyai perbedaan menyolok antara Indonesia bagian barat dan timur. Batas antara kedua bagian ini adalah garis Wallace, dimana garis tersebut membujur dari utara ke selatan melalui Selat Makasar dan Selat Lombok dan merupakan garis pemisah antara fauna flora Asia dengan Australia. Perbedaan menyolok tersebut memperlihatkan keadaan fisiografi yang berbeda mengenai geologi dan strukturnya, maka sudah dapat ditafsirkan bahwa perkembangan teknologi antara Indonesia bagian barat yang terdiri dari pulau-pulau besar (P. Sumatera, P. Jawa, P. Bali) dan laut yang dangkal mempunyai tataan tektonik yang lebih sederhana dari pada Indonesia bagian timur yang terdiri dari pulau-pulau kecil berbentuk busur (P.Timor, P. Sumbawa; P. Sumba) serta perbedaan relief yang menonjol antara palung-palung yang dalam dan pegunungan yang tinggi.

2. Kegempaan
Indonesia merupakan daerah yang rawan terhadap gempa. Gempa besar dan gempa kecil sering terjadi, bahkan gempa besar sampai berkekuatan lebih dari 8 skala Richter yang terjadi terutama pada pusat pusat gempa yang terletak di sepanjang jalur penekukan lempeng lithosfer, sepanjang sesar mendatar dan wilayah dengan gejala kompresi. Perlu diketahui dengan adanya lempeng lithosfer menyusup lempeng lithosfer lainnya, maka akan membentuk jalur bergempa yang arahnya condong dan mempunyai sudut kemiringan yang beragam. Jalur bergempa ini disebut sebagai Jalur Benioff (lihat gambar 2), seperti di sebelah selatan P. Sumatra, P. Jawa-Banda. Oleh sebab itu walaupun sering terjadi gempa besar di Indonesia namun tak begitu merusak bangunan bangunan dikarenakan episentrum (pusat gempa dipermukaan) terletak di laut, bahkan ada Juga pulau yang bebas dari gempa yaitu P. Kalimantan, karena letaknya jauh dari jalur penekukan lempeng lithosfer.

3. Kegunung-apian
Jumlah gunung-api di Indonesia 400 buah, dimana ± 128 buah diantaranya masih memperlihatkan kegiatannya. Gunung api tersebut berjajar membentuk busur mulai dari ujung utara P. Sumatra P. Jawa P. Bali terus ke timur dan sejajar dengan jalur penekukan lempeng lithosfer yang terletak di selatannya. Busur tersebut dikenal sebagai busur magmatik.

4. Pembentukan Pegunungan
Dari akibat bergeraknya lempeng lithosfer Australia Hindia ke utara dan bertumbukan dengan lempeng lithosfer Asia Tenggara menimbulkan morfologi yang cembung dan memanjang yaitu pegunungan, seperti Pegunungan Kendeng, Pegunungan Serayu, Pegunungan Selatan dan sebagainya. Bahkan gerak yang menyebabkan terbentuknya pegunungan dapat diamati terutama di Indonesia timur. Munculnya endapan batu gamping koral yang berumur resen (sekarang) sehingga mencapai ketinggian beberapa puluh hingga ratusan meter di atas permukaan air laut (misal di P. Timor sampai 130 M).

Kesimpulan dan Saran
Setelah kita mengetahui keadaan struktur geologi (tektonik) yang ada di Indonesia, maka dapat digunakan dalam 1 pengembangan ilmu, baik mengenai pengembangan teori tektonik lempeng itu sendiri, maupun sebagai landasan untuk menyusun peta tektonik Indonesia. Demikian juga dengan adanya Indonesia mempunyai kondisi seperti itu, maka perlu dimanfaatkan, karena daerah demikian akan kaya endapan hidrokarbon, kaya akan bahan-bahan mineral baik logam maupun non logam. Dan agar tak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, maka perlu dikaji secara detail mengenai daerah daerah mana yang sekiranya rawan terhadap gempa, tanah longsor maupun letusan gunung-api. Dengan cara begitu, maka segala yang diakibatkan adanya posisi lndonesia diantara 3 lempeng lithosfer bukan menjadi problem yang menakutkan, melainkan justru memberikan hasil-hasil yang dapat dimanfaatkan untuk menopang pembangunan yang baru dilaksanakan guna menyambut era tinggal landas nantinya. (Herlambang M)

Sumber: Koran (Cempaka) Minggu Ini, Desember 1987

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: