Home / Berita / PLTA Pantai, Karya Putra Indonesia

PLTA Pantai, Karya Putra Indonesia

Di balik kebutuhan listrik yang semakin meningkat, kini di tepi pantai Tulungagung Selatan sedang dibangun satu PLTA (pembangkit listrik tenaga air) yang modelnya lain dibanding PLTA-PLTA yang pernah ada. PLTA yang sedang dalam penggarapan ini selain unik, juga merupakan model baru dan belum pernah ada di Indonesia. Kalau sebelumnya, pembangkitan tenaga listrik menggunakan bendungan untuk menciptakan beda tinggi jatuhnya air, namun kali ini tidak. Melainkan memanfaatkan perbedaan tinggi jatuhnya air di tepi pantai dan karena itu PLTA yang satu ini disebut juga PLTA Pantai Tulungagung. Berikut laporan wartawan Jawa Pos, Wahas Shofyan dan M. Rukin Hidayat yang menelusuri terowongan PLTA Pantai Tulungagung sepanjang 1.400 meter itu.

BERLOKASI di Teluk Sidem, sekitar 30 km Selatan Kata Tulungagung, proyek PLTA Pantai Tulungagung ini merupakan bagian dari proyek pengembangan waduk induk Kali Brantas, di bagian hulu. Kalau bisa menjadi kenyataan, PLTA ini merupakan satu-satunya dan yang pertama kali di Indonesia.

“Selama ini memang belum pernah ada PLTA yang dibangun di pantai seperti di Tulungagung ini,” ujar Pimpro PLTA Pantai Tulunggung Ariadi Amin Soedarmo, ketika bersama Jawa Pos menelusuri terowongan yang sedang digarap.

Berbentuk ”tapal kuda” terowongan air (water way) sepanjang 1.400 meter ini menembus Bukit Tumpak Oyot, masuk Desa/Kecamatan Besuki, 30 km selatan Kota Tulungagung. Sesuai dengan rencana, terowongan ini berada di sebalah kanan (timur) dua terowongan yang dibangun sebelumnya.

Terowongan pertama yang menembus Bukit Tumpak Oyot yang dulu dikenal dengan istilah Terowongan Neyama direncanakan tahun 1944, di zaman pendudukan Jepang, melalui kerja rodi (paksa). Namun gagal, kemudian diteruskan dengan biaya hasil pampasan perang dan selesai pada 1961. Dengan terowongan yang mampu mengalirkan debit banjir 500 meter kubik/detik ini berhasil menyempitkan areal genangan banjir dari 28.000 ha menjadi 13.600 ha.

Karena dengan satu terowongan itu genangan banjir belum juga terusir secara tuntas, maka dibangunlah terowong Tulungagung Selatan II. Berdiamter 7,5 meter, terowong yang panjangnya 1.157 meter ini mampu mengalirkan debit air 500 meter kubik/detik. Penggarapan terowongan kedua ini dibarengi dengan pekerjaan berat. Yakni, menurunkan permukaan mulut terowongan pertama. Untuk pekerajaan ini, dana diperoleh dari APBN dan bantuan lunak (loan) dari Bank Pembangunan Asia (ADB=Asian Development Bank). Dengan dua terowongan –Tulungagung Selatan I dan II— yang diresmikan Presiden Soeharto pada 26 Juni 1986 Tulungagung benar-benar terbebas dari genangan banjir.

Untuk mengusir banjir yang selalu menggenangi hampir dua pertiga daerah Tulungagung sepanjang musim penghujan, selain membangun dua terowongan itu, Proyek Drainasi Tulungagung juga membangun dua buah parit. Parit Agung yang panjangnya sekitar 24 km, dari utara kota sampai depan mulut terowongan dan mampu mengalirkan banjir sekitar 466 meter kubik/detik.

Di depan mulut dua terowongan itu, aliran parit yang berkedalaman 50 meter itu bertemu dengan aliran Parit Raya yang menampung banjir dari arah Trenggalek. Setelah menyatu, debit banjir yang cukup besar ini kemudian digelontor ke Samudera lndonesia melalui Terowongan Tulungagung Selatan I dan II. Untuk menjaga elevasi air di sepanjang dua parit tadi, di depan kedua mulut terowongan itu dipasang pintu air.

“Debit banjir yang dibuang ke Samudera Indonesia melalui dua terowongan itu ternyata cukup besar,” ujar Ir Ariadi Amin yang didampingi Kabag Perencana Ir Mardiono ketika berada di depan mulut terowongan.

Selain debit yang cukup besar, kata Ariadi, ternyata masih ada keistimewaan lain dari dua terowongan itu, terutama di bagian outlet (mulut terowongan bagian belakang). Yakni, adanya perbedaan tinggi jatuhnya air yang mencapai lebih dari 70 meter.

Melalui sigi akhirnya diketahui bahwa perbedaan tinggi jatuhnya air (70 meter) dari outlet ke pantai ini dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. “Kami memanfaatkan air yang terbuang sia-sia ini untuk menggerakkan turbin hingga memperoleh aliran listrik,” ujar Ariadi Amin yang murah senyum ini.

Hasil jerih payah putra-putra Indonesia ini tak sia-sia. Bahkan, mendapatkan pengakuan bahwa PLTA yang dirancang ini bisa dikerjakan. Dengan “memanfaatkan air terbuang” ke pantai, tercipta model PLTA baru. Karena lokasinya di bibir pantai, maka PLTA ini disebut PLTA Pantai Tulungagung.

Dikerjakan dengan sistem swakelola oleh sekitar 30 orang tenaga ahli dan melibatkan Sekitar 1.400 tenaga. Pengawasan dilakukan PLN, dengan konsultan dari PPE (pusat pelayanan enjinering) PLN dan PT Indra Karya.

Ini merupakan satu kebanggaan. Karena PLTA Pantai Tulungagung ini merupakan yang pertama, sekaligus satu-satunya di Indonesia. Dan, mulai perencanaan sampai penggarapannya ditangani oleh putra-putra Indonesia yang sudah cukup terampil menangai proyek-proyek besar, terutama dalam upaya pengembangan wilayah sungai Kali Brantas yang dimulai pada 1961.

“Untuk PLTA-nya, kami tidak memanfaatkan terowongan lama, tapi membuat terowongan baru sejajar dengan dua terowongan sebelumnya,” ujar Ir Ariadi.

Pekerjaan utama proyek PLTA ini dibagi dalam dua bagian. Yakni, 40 persen pekerjaan sipil dan 60 persen bidang permesinan.

Sejak perencanaan sampai dapat difungsikan awal 1993 diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 85 miliar. Dana sebesar itu berasal dari anggaran PLN (Perusahaan Umum Listrik Negara) dan loan (bantuan lunak) dan pemerintah Austria yangmerupakan produsen peralatan mekaniknya.

”Untuk pekerjaan sipilnya, kira-kira sudah mencapai 60 persen,” ujar pimpinan produksi PLTA Pantai Tulungagung itu sambil mengamati bangunan di dalam terowongan yang sedang digarap. Dana yang sudah diserap sekitar Rp 12 milliar.

Terowongan air (waterway) ketiga yang menembus Bukit Tumpak Oyot ini panjangnya 1.400 meter. Untuk mempercepat pekerjaan, penggalian dilakukan dari dua arah, muka (in let) dan belakang (out let). Meskipun mengalami hambatan –tanah perbukitan yang berpasir— pembuatan terowongan sepanjang 1.400 meter ini selesai sesuai rencana.

Karena sifat bukit, terowongan ini terbagi menjadi tiga bagian. Terowongan depan, mulutnya sekitar 80 meter di depan mulut terowong Tulungagung Selatan I, panjangnya 1.100 meter. Di bagian out let terowong atas, disambung dengan pipa pesat (penstock) yang panjangnya 102 meter.

“Pemasangan pipa pesat ini perlu, karena berada pada bukit terbuka yang tak mungkin dibuat terowongan,” ujar Ariadi dan Mardiono menunjuk arah bukit terbuka.

Terbuat dari pipa baja berdiameter 4,2 meter, di samping pipa pesat dibangun surge tank. Fungsinya, mengurangi gelembung udara dalam pipa pesat. Sebab, besarnya gelembung udara bisa memungkinkan terjadinya kerusakan (pecahnya) pipa pesat yang berbentuk tapal kuda ini.

Dari pipa pesat yang dilapisi beton ini, sebelum masuk rumah pembangkit (power house), air menggelontor memasuki terowongan bawah yang panjangnya 108 meter. Di sini, di bibir pantai Teluk Sidem dibangun rumah pembangkit dengan konstruksi beton bertulang yang di dalamnya terdapat dua unit generator tipe vertikal berkapasitas 20.000 KVA (out put).

Jika proyek bertaraf nasional ini berfungsi, maka akan diperoleh pembangkitan tenaga listrik sebesar 184 juta KWH/tahun dengan daya terpasang 36 MW –dengan dua turbin berkapasitas 18 MW/ unit—. Dalam setiap tahunnya, PLTA pantai ini dioperasikan 7 bulan di musim penghujan dan hasilnya untuk memasok kebutuhan listrik di Jatim melalui sistem interkoneksi.
—————————————-
Biayanya Bisa Lebih Murah

TUJUAN utama pembangunan PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air) Pantai Tulunggagung ini adalah memanfaatkan seoptimal mungkin sumber daya alam. Terutama, sumber daya yang ada di wilayah DAS (daerah aliran sungai) Brantas. Sejak dimulainya pengembangan wilayah Kali Brantas 1961 silam, sudah cukup banyak manfaat yang bisa dirasakan masyarakat.

Selain itu, masih banyak yang sedang dikerjakan menuju penyelesaian. Satu di antaranya, PLTA Pantai Tulungagung yang kini sedang dikerjakan siang dan malam. Sekitar 30 tenaga ahli yang dibantu 1.400-an orang tenaga beketja keras dengan satu tujuan, April 1993 nanti proyek ini rampung dan dapat difungsikan.

Penggarapan sebuah rekayasa putra-putra Indonesia ini dilandasi beberapa pertimbangan. Selain manfaat untuk memenuhi kebutuhan listrik di Jatim, adalah pertimbangan biaya penggarapannya. “Biaya pembangunan PLTA ini lebih murah dibandingkan dengan pembangunan PLTA yang sudah jadi,” ujar Pimpro PLTA Pantai Tulungagung Ir Ariadi Amin Soedarmo.

Sebagaimana diungkapkan Dirut PLN Ir Ermansyah Jamin waktu mengunjungi proyek yang dimulai 1989 ini, hasil yang diramalkan hanya mencapai 180 juta KWH/tahun memang sedikit. Namun, hasil rekayasa baru ini besar artinya dalam upaya memanfaatkan seoptimal mungkin sumber daya yang ada.

Kelebihan lain PLTA Pantai Tulungagung ini, menurut Ariadi Amin, biaya pembuatannya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan pembangunan PLTA lainnya.

“Untuk membangun PLTA pantai ini, kita tidak perlu membangun bendungan seperti PLTA Sengguruh,” ujar Ariadi yang didampingi Ir Mardiono, kepala bagian perencanaannya.

Selain tak memerlukan bendungan besar, pembangunan PLTA Pantai ini tidak harus membebaskan tanah penduduk yang sering membuat ricuh itu. Mereka cukup memanfaatkan air genangan yang semula terbuang sia-sia ke Samudera Indonesia melalui Terowongan Tulungagung Selatan I dan II.

Untuk itu, dibuatlah sebuah terowongan lagi di sebelah timur dua terowongan sebelumnya menembus Bukit Tumpak Oyot masuk Desa/Kecamatam Besuki, sekitar 30 km selatan kota Tulungagung.

Pembangunan ini dikerjakan dengan sistem swakelola oleh Proyek Pengembangan Induk Wilayah Kali Brantas (Proyek Brantas). ”Kami juga memanfaatkan peralatan bekas milik Proyek Brantas, ”ujar Ariadi.

Untuk menggarap PLTA Pantai ini, seluruh sarananya –tenaga dan alat— milik Proyek Brantas.

Misalnya, peralatan besar diambil dari peralatan yang sudah selesai digunakan untuk membangun proyek PLTA Sengguruh atau proyek lain di lingkungan Proyek Brantas.

“Sebagian besar dananya untuk keperluan mekanik,” ujar Ariadi. Dia menambahkan, bagian elektro mekanikalnya tanggung jawab pemerintah Austria selaku produsen sekaligus pemberi loan (bantuan lunak) untuk proyek yang diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 85 milliar ini.

Pekerjaan sipil yang merupakan 40 persen dari seluruh pekerjaan dimulai 1989 dan diharapkan selesai akhir 1991 ini. Pekerjaan ini, misalnya pembuatan berowongan (waterway), pipa pesat (penstock), surge tank (pemecah gelembung udara dalam pipa pesat), rumah pembangkit (power house), saluran pembuang, dan jaringan transmisi. Seluruh pekerjaan ini –hidromikanikal dan elektro mikanical— dijadwalkan selesai dalam waktu 4 tahun.

Untuk membuat terowong ini, putra-putra Indonesia yang ,terampil tadi melengkapinya dengan besi-besi penyangga guna menghindari keruntuhan. Di bawah besi baja melengkung itu, dibangun saluran dengan konstruksi beton bertulang sepanjang terowongan. Lalu, antara beton dan besi penyangga diisi kembali tanah atau disuntik dengah sirtu (pasir dan batu) adonan semen.

Di bawah sana, di mulut belakang (out let) dibangun rumah pembangkit (power house) berukuran lebar 23 meter, panjang 28 meter, dan tinggi 30 meter. Di dalam bangunan berkonstruksi beton bertulang inilah disimpan dua unit generator yang masing-masing berkapasitas 18 MW, serta turbin.

Untuk menjaga stabilitas air pada elevasi 77 di musim penghujan dan 79 di musim kemarau, maka di depan ketiga mulut terowongan itu dibangun pintu air. Dengan sistem ini, direncanakan PLTA pantai ini mampu beroperasi selama 7 bulan pada musim kemarau dengan hasil 180 juta KWH/tahun dengan daya terpasang 36 MW.

Dengan biaya yang murah ini, kata Ariadi dan Mardiono, bukan hanya energi listrik yang dihasilkan dari proyek PLTA pantai ini. Ada keuntungan ganda. Misalnya, menaikkan permukaan air tanah yang selama ini menurun drastis setelah berfungsinya terowongan Tulungagung Selatan I dan II.

“Sejak dua terowongan itu difungsikan, banjir yang biasanya menggenangi Tulungagung memang sirna,” ujar Bupati Tulungagung Drs H Jaefoedin Said.

Namun, katanya, di kalangan masyarakat bekas kawasan banjir muncul masalah baru. Yakni, sulitnya pengairan sawah karena terjadi penurunan pada permukaan air tanah. Ini disebabkan semua air digelontor ke Samudera Indonesia melalui kedua terowongan tersebut, melalui parit agung dan parit raya. Dasar kedua parit itu jauh di bawah permukaan sawah dan pekarangan penduduk.

Kesulitan bukan hanya menaikkan air tanah bagi persawahan. Sebagian penduduk juga mengaku kesulitan menaikkan air minum. Ini dirasakan setelah upaya penggalian mencapai kedalaman sekitar 6 meter, namun air masih sulit didapat. Terlebih di musim kemarau seperti sekarang ini. Ini merupakan dampak berfungsinya dua terowongan yang memang menguras banjir Tulungagung ke Samudera Indonesia.

Untuk mengatasi dampak berfungsinya dua terowongan tadi, kata Ariadi, dibuatlah pintu air di depan ketiga mulut terowongan itu.

Pada musim penghujan, ketiga pintu tadi ditutup untuk menciptakan genangan di sepanjanag parit agung dan parit raya.

“Pengeluarannya akan diatur melalui terowongan ketiga untuk PLTA, hingga nantinya permukaan air tanah akan naik kernbali,” ujar Ariadi.
————————————-
Yang Ini Memang Beda

ACUNGAN jempol layak diberikan kepada putra-putra Indonesia yang tergabung dalam Proyek Pengembangan Wilayah Kali Brantas (Proyek Brantas). Selain berhasil menjinakkan aliran sungai terpanjang di Jatim ini, mereka berhasil merekayasa dampak lingkungannya.

Contoh rekayasa mereka, pembangunan proyek PLTA pantai di Tulungagung. Memang sudah banyak proyek pembangkit listrik tenaga air dibangun. Namun, yang ini berbeda dengan yang lainnya karena tidak memerlukan bendungan guna menciptakan perbedaan tinggi jatuhnya air. Proyek ini cukup memanfaatkan air yang selama ini terbuang sia-sia.

“Ini karya besar putra-putra Indonesia,”ujar Bupati Tulungagung Drs H Jaefoedin Said saat meninjau proyek PLTA Pantai Tulungagung ini beberapa waktu lalu.

Meski energi yang dihasilkan cuma 184 juta Kwh/tahun, kata Jaefoedin Said, hasil rekayasa ini besar sekali maknanya bagi pembangunan, terutama dalam dunia PLTA. Sebab, baru di pantai selatan Tulungagung inilah berdiri PLTA pantai yang bisa dikembangkan di kawasan pantai lain yang memiliki kesamaan.

“Ini memang hasil renungan kami,” ujar Pimpro PLTA Pantai Tulungagung Ariadi Amin Soedarmo.

Menurut alunmus Fakultas Teknik Unibraw Malang itu, PLTA pantai yang kini penggarapannya mencapai sekitar 60 persen –untuk pekerjaan sipil— nya itu adalah hasil renungan para ahli di Proyek Brantas. Ini diperoleh setelah melihat debit banjir sekitar 1.000 meter kubik/detik terbuang sia-sia ke Samudera Indonesia setelah berfungsinya Terowongan Tulungagung Selatan I dan II.

Dengan melibatkan sekitar 30 orang tenaga ahli, disusunlah rencana pembangunan PLTA pantai ini. PLN sendiri, setelah melalukan penelitian, juga menyatakan setuju dengan meluncurkan dana melalui APBN dan menggiring pemerintah Austria memberikan loan. Maka, prayek PLTA ini dibangun dengan rencana biaya keseluruhan sekitar Rp 85 milliar.

Meski proyek ini terlaksana, para ahli yang menggarapnya tak berhenti merekayasanya. Mereka terus berupaya mencari dan menciptakan bentuk baru yang manfaatnya mengambil dari keberadaan PLTA pantai ini.

Menurut Ariadi, sedikitnya ada lima jenis manfaat baru di luar penemuan bentuk PLTA yang unik ini. Yaitu, (1) pembangkitan tenaga listrik 184 juta KWH/tahun itu sendiri, (2) menaikkan permukaan air tanah di sepanjang aliran parit agung dan parit raya, (3) mencegah erosi dan penurunan permukaan air tanah, (4) pengembangan perikanan darat, dan (5) pengembangan objek wisata.

“Di sebelah barat PLTA ini, pantainya sangat indah dan masih perawan,” ujar Mardiono.

Dibatasi Pantai Sidem, pemandangan di pantai sebelah barat ini juga mempesona. Selain keindahan panoramanya, di sini terdapat mata air tawar yang debitnya cukup besar. “Dari mata air itu, kita bisa membangun kolam ranang air tawar di pantai,” ujarnya.

Ide ini mendapat tanggapan positif dari Bupati Tulungagung Drs H Jaefoedin Said yang berjanji akan mengatur kelanjutannya setelah PLTA pantai ini berfungsi kelak. “Ini objek yang menarik dan dijadikan satu jalur dengan Pantai Popoh,” ujar bupati melalui Kahumasnya, Drs Endro Pramono, mengenai kemungkinan pengembangan objek wisata pantai ini.

Sumber: JAWA POS, SENIN LEGI, 26 AGUSTUS 1991

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: