Home / Berita / Plastik “Oxo” di Persimpangan Jalan

Plastik “Oxo” di Persimpangan Jalan

Kalau plastik oxo bisa didaur ulang, mengapa kantong plastik jenis ini masih banyak berserakan di jalan dan menumpuk di tempat pembuangan? Mengapa juga tak ada pemulung yang mau mengambilnya?

Begitulah beberapa pertanyaan yang muncul ketika Kompas menerbitkan artikel berjudul “Plastik Oxodegradable Bisa Didaur Ulang” pada 14 Februari 2017.

Plastik jenis oxodegradable (atau disingkat oxo) ini terbuat dari jenis polimer termoplastik. Jenis plastik ini seperti mentega, yang akan lumer ketika terkena panas dan mengeras kembali dalam proses pendinginan. Ini membedakannya dari plastik jenis termoset yang tak bisa dicairkan lagi saat mengeras.

Dengan sifat plastik pada umumnya, yang baru bisa terdegradasi pada usia 500-1.000 tahun atau sekitar 17 generasi manusia, pengetahuan dan teknologi berupaya mengutak-atik sifat panjang umur plastik menjadi lebih rendah. Umur plastik yang berasal dari hidrokarbon alias minyak bumi berpolimer atau jutaan rantai karbon ini diperpendek dengan memasukkan zat aditif. Inilah yang disebut plastik oxodegradable.

Ada beberapa ramuan senyawaaditif yang bisa memutus rantai panjang hidrokarbon ini, seperti milik Greenhope yang memegang merek dagang Oxium.

Saat sosialisasi Standar Nasional Indonesia 7188.7:2016 kriteria Ekolabel-Bagian 7:Kategori Produk Tas Belanja Plastik dan Biolastik Mudah Terurai, 13 Februari 2017, Pemimpin Greenhope Sugianto Tandio menjelaskan, senyawa pemercepat penguraian atau prodegradant miliknya diklaim mampu membuat tas plastik terurai dalam dua tahun.

Penerapan teknologi ini pun “hanya” meningkatkan harga kantong plastik sekitar 20 persen dari plastik biasa atau jauh lebih murah jika dibandingkan bioplastik (yang terbuat dari tepung nabati) yang berharga 2-5 kali lipat dibandingkan plastik biasa.

Tak heran, berbondong-bondong peritel sedang dan besar menjadi klien utama plastik jenis oxo. Peritel mulai sadar, kebiasaan memberikan kantong belanja plastik kepada konsumen menyebabkan dampak buruk bagi lingkungan.

Namun, meski telah melalui uji kualitas di lembaga resmi pemerintah, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, toh seperti pertanyaan di paragraf pertama, pemandangan tumpukan sampah plastik oxo ini mudah ditemukan. Kantong-kantong plastik menumpuk di tempat pembuangan akhir ataupun tempat pembuangan liar, bahkan di lingkungan alam.

Mengapa bisa demikian? Pihak produsen plastik ini mengklaim plastik oxo buatannya bisa terdegradasi sempurna di alam setelah mencapai akhir masa pakainya (end of life).

Namun, di sisi lain, organisasi PBB untuk lingkungan, UNEP, yang kini sudah berganti nama menjadi UN Environment, dalam publikasinya tahun 2015 menyebutkan, plastik oxodegradable hanya terfragmen, bukan terurai.

Terfragmen berarti molekul penyusun plastik itu hanya terpecah secara fisik menjadi microplastic (berukuran kurang dari 5 mm). Sementara terurai berarti molekul tersebut terpecah secara kimia dan fisika menjadi bentuk lain.

Masuk rantai makanan
Dampak buruk plastik yang hanya terfragmen tanpa terurai ini bagi lingkungan ditemukan dalam berbagai riset. Microplastic yang oleh satwa air dikira plankton akan masuk ke saluran pencernaan ikan. Rantai makanan itu pun berlanjut sampai ke manusia. Yang berbahaya, microplastic ini bersifat hidrofobik (tidak larut dalam air) dan akan mengikat senyawa pentaklorofenol (PCP) yang bersifat persisten dan berbahaya bagi makhluk hidup.

Dalam publikasi UNEP tersebut dinyatakan, plastik oxodegradable hanya bisa terurai sempurna dengan suhu lebih dari 50 derajat celsius dan terpapar sinar ultraviolet. Di kedalaman laut, suhu yang dingin dan keterbatasan sinar matahari membuat kondisi ideal ini tak terjadi. Tak heran, skenario membuat masa hidup plastik menjadi hanya 2-5 tahun tak terwujud.

Diolah tersendiri
Meski demikian, tak berarti kemudian teknologi oxo ini yang bersalah. Perilaku manusia yang luput, lalai, dan jorok membiarkan sampahnya tak tertangani menjadi masalah di lapangan. Padahal, jika plastik oxo ini dikumpulkan tersendiri, kata Edi Rivai, Wakil Ketua Asosiasi Industri Plastik Indonesia, plastik itu bisa didaur ulang hingga beberapa kali.

Plastik yang tidak bisa diapa-apakan lagi setelah berulang kali didaur ulang kemudian bisa diproses secara pirolisis untuk mengembalikannya menjadi bentuk minyak. “Kami melihat sampah plastik itu material yang terbuang, bukan sampah. Bisa menjadi uang kalau diperlakukan dengan benar,” katanya.

Namun, lanjutnya, plastik oxo harus diolah tersendiri karena biasanya mengandung kalsium yang sengaja ditambahkan bersama zat aditif utama. Berat jenis kapur kalsium yang lebih dari 1 ini bercampur dengan plastik polipropilena (PP) berberat jenis lebih rendah, menyebabkan rendemen plastik rendah dan merusak kualitas plastik murni.

Dengan karakter seperti ini, plastik oxo membutuhkan perlakuan khusus.

Mengambil kembali
Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) R Sudirman berancang-ancang meniadakan kantong belanja berbahan termoplastik pada 2020. “Apakah plastik dari termoplastik termasuk yang sudah di-SNI (mengandung oxodegradable dan campuran bioplastik-termoplastik) bisa terurai di alam? Ini harus dimantapkan risetnya,” ujarnya.

Ia mengatakan, pihaknya pun merancang Peraturan Menteri LHK untuk membatasi penggunaan kantong belanja. Tahun 2018, katanya, setiap peritel wajib mengambil kembali kantong belanja plastik yang diberikan/dijual kepada konsumen.

“Bisa dengan menyediakan sarana take-back di toko atau bekerja sama dengan kelompok masyarakat. Akan ketahuan plastik dari mana karena ada logonya,” ujarnya. Langkah progresif yang direncanakan ini mengamini prinsip kehati-hatian yang wajib dipakai dalam menerapkan kebijakan terkait lingkungan hidup.

KLHK kemudian mendorong pemakaian bioplastik yang berasal dari tepung nabati. Plastik ini diklaim mudah terurai ketika berada di lingkungan tertentu. Seperti Enviplas yang mengklaim bioplastiknya terurai di lingkungan perairan dan Ecoplast yang mengklaim mudah terurai di lingkungan apa pun yang mengandung mikroba.

Jenis bioplastik ini pun bisa didaur ulang, selama tidak dicampur dengan plastik oxo atau plastik virgin (plastik murni). Bioplastik bisa didaur ulang dengan kertas karena sama-sama berbasis serat tumbuhan.

Setiap temuan teknologi membawa konsekuensi dan perubahan perilaku manusia yang beradaptasi dengannya. Jadi, sehebat apa pun teknologi yang digunakan, perilaku manusialah yang menentukan nasib sampah plastik, apakah akan menjadi barang berbahaya atau bermanfaat.

Masalah kantong belanja plastik ini pun hanya bagian kecil dari masalah sampah di seluruh Indonesia. Jangan lupa, tiga tahun lagi, negara kita jatuh tempo target Bersih Sampah 2020. (ICHWAN SUSANTO)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Februari 2017, di halaman 14 dengan judul “Plastik “Oxo” di Persimpangan Jalan”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: