Pestisida Kloropirifos, Petani Rentan Alami Gangguan pada Tiroid

- Editor

Selasa, 12 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petani Indonesia rentan mengalami gangguan kesehatan akibat pemakaian pestisida, termasuk klorpirifos. Kandungan kimia klorpirifos bisa mengganggu produksi hormon yang memicu gangguan pada tiroid.

Demikian paparan disertasi Hasnawati Amqam saat promosi doktor kesehatan masyarakat di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Jumat (8/4). Disertasinya berjudul “Pengaruh Pajanan Insektisida Klorpirifos terhadap Kadar Thyroid Stimulating Hormone dan Hormon-hormon Tiroid pada Petani Sayur: Tinjauan Aspek Genetik Populasi”. Tujuh penguji yang diketuai Guru Besar Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Kusharisupeni Djokosujono meluluskan Hasnawati sebagai doktor dengan predikat sangat memuaskan.

“Petani itu ujung tombak pertanian. Mereka berproduksi menggunakan pestisida, terutama klorpirifos yang diminati. Padahal, bisa berakibat buruk pada hormon tiroid,” ujar Hasnawati, dosen di Universitas Hasanuddin, Makassar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Klorpirifos adalah jenis pestisida yang dijual umum, berbentuk padatan kristal putih, berbau tajam, dan tidak larut dengan baik di dalam air. Klorpirifos untuk membunuh hama dengan menyerang sistem saraf.

Terpapar klorpirifos secara intensif bisa memberi efek buruk terhadap petani. Besar kecilnya dampak tergantung dosis dan tingkat penetrasi pengaruh klorpirifos. Klorpirifos membuat hormon thyroid stimulating hormone (TSH) meningkat dan menurunkan hormon FT3.

Peningkatan hormon TSH dan penurunan FT3 membuat petani rentan penyakit hipotiroid atau gondong. Tidak hanya itu, gangguan hormon itu bisa memicu penyakit lain, seperti parkinson, stroke, dan kardiovaskular.

Penelitian Hasnawati melibatkan 273 petani sayur dataran tinggi di Cianjur (Jawa Barat), Brebes (Jawa Tengah), dan Makassar (Sulawesi Selatan). Untuk meneliti tingkat kerentanan petani terhadap klorpirifos, ia meneliti komposisi gen paraoxonase1 (PON1), gen pendetoksifikasi racun, pada petani-petani itu.

Adapun jenis gen PON1 yang paling kuat menahan paparan klorpirifos adalah RR. Lalu, QR (cukup rentan) dan QQ (paling rentan). Penelitian Hasnawati menunjukkan, petani di Makassar memiliki gen QQ, Brebes QQ, dan Cianjur QR. “Artinya, petani-petani itu rentan terganggu kesehatannya,” ucapnya.

Langkah pencegahan yang bisa dilakukan adalah beralih ke pestisida alami. Langkah lain, mengenakan alat pelindung diri, seperti sarung tangan, masker, penutup wajah, dan baju lengan panjang. “Terkadang, petani malas karena panas dan ribet. Jika ingin sehat, mereka harus mulai mengenakan,” ujarnya.

Promotor disertasi, Guru Besar Kesehatan Lingkungan Umar Fahmi Achmadi mengatakan, penelitian itu penting. Indonesia timur memerlukan tenaga ahli genetika dan kesehatan lingkungan. “Agar di sana semakin kuat risetnya,” katanya.

Meski bukan penelitian pertama soal klorpirifos, topik yang diambil Hasnawati menarik. Sebab, menggabungkan ilmu hortikultura dengan ilmu genetik dan ilmu kesehatan lingkungan.(C11)
————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 April 2016, di halaman 14 dengan judul “Petani Rentan Alami Gangguan pada Tiroid”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB