Home / Berita / Perubahan Cuaca di Indonesia Dikhawatirkan Capai Titik Ekstrem

Perubahan Cuaca di Indonesia Dikhawatirkan Capai Titik Ekstrem

Kenaikan suhu beberapa hari di sejumlah daerah di Indonesia melampaui angka maksimum bulan September yang ditetapkan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG). Dari anomali tersebut, BMKG memprediksi bahwa hingga akhir bulan Oktober, musim kemarau masih akan berlangsung. Hal itu mengakibatkan, sedikitnya 68 persen daerah di sejumlah Indonesia akan mengalami musim hujan pada awal November 2018.

Kepala Subbidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Siswanto Kamis (13/9/2018) mengatakan, suhu di sejumlah daerah di Indonesia melampaui angka maksimum yang ditetapkan oleh BMKG. Suhu maksimum di siang hari pada bulan September yakni 33-35 derajat Celcius.

JOHANNES DE DEO CC UNTUK KOMPAS–Perkiraan Curah Hujan di Indonesia pada September 2018 hingga Februari 2019. Diprediksi 68 persen sejumlah daerah mengalami pergeseran musim hujan, karena El Nino yang menguat. Foto diambil Kamis (13/9/2018).

Pada (11/9/2018) di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten dan Makassar, Sulawesi Selatan mencapai 37 derajat Celcius. Bukan hanya dua daerah tersebut, tetapi pada Minggu, (9/9/2018) Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur mencapai suhu di angka 38 derajat Celcius dan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat suhunya hingga 37 derajat Celcius.

Menurut Siswanto, perubahan cuaca ini belum dapat dikatakan sebagai cuaca ekstrem. Menurut kajian BMKG, cuaca dapat disebut esktrem bila suhu di suatu daerah melebihi angka tiga derajat Celcius dari suhu maksimum dan terjadi selama tiga hari berturut-turut. Suhu di Makassar, Jatiwangi, dan Ciputat hanya mencapai pada angka 37 derajat Celcius. Angka tersebut belum melebihi angka maksimum yang ditetapkan oleh BMKG. Sedangkan, suhu Larantuka 38 derajat Celcius tidak terjadi selama tiga hari berturut-turut.

“Data ini adalah suhu maksimum yang menjadi patokan pada siang hari. Sedangkan rata-rata suhu di Pulau Jawa dan sekitarnya sekitar 34 derajat. Angka tersebut masih relatif aman. Kemungkinan besar suhu dengan angka yang tinggi kembali pada tanggal 30 September 2018,” kata Siswanto yang ditemui di kantor BMKG.

Musim hujan awal November 2018
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Deseminasi Informasi Iklim dan Kualitas Udara Joko Budi Utomo mengatakan, musim hujan akan diprediksi mulai pada awal November 2018. Sedikitnya ada 68 persen daerah di Indonesia akan mengalami hal tersebut. Hal ini diprediksi karena aktifnya El Nino yang menguat pada angka +0,5 hingga November. Peristiwa ini hampir sama dengan yang terjadi pada awal tahun 1997 atau 2006. Namun, BMKG masih akan mengkaji hal tersebut hingga akhir September ini.

“Pada bulan Oktober, ada 22 persen daerah yang akan mengalami musim hujan, daerah tersebut di luar pulau Jawa. Misalnya, di Papua, Sumatera dan Kalimantan. Untuk bagian selatan Indonesia akan diprediksi masuk musim hujan lebih lambat, seperti pulau Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Untuk Jakarta tetap mencapai puncak musim hujannya di Januari dan Februari,” kata Joko.

Pada musim kemarau, pada malam hari suhu di beberapa daerah sangat dingin. Di Ciumbuleuit, Bandung, Jawa Barat pada Selasa (11/9/2018) suhunya mencapai 14 derajat Celcius. Dalam kondisi tersebut, angin cukup kencang dan terasa sangat tidak seperti biasanya.

“Bandung pada malam hari sangat dingin, siangnya panas sekali. Kondisi ini tidak seperti biasa,” kata Gabriella, salah satu warga Ciumbuleuit, Bandung.

JOHANNES DE DEO CC UNTUK KOMPAS–Joko Budi Utono (kiri) dan Siswanto (kanan)

Antisipasi
Menurut Joko, antisipasi kebanjiran harus dilakukan sejak dini. Seperti tahun-tahun yang lalu, di Jakarta, curah hujannya tinggi sehingga terjadi kebanjiran. Curah hujan dapat dikatakan tinggi yaitu mencapai 300 milimeter per bulan atau lebih. Keadaan tersebut tidak dapat diprediksi waktunya dalam satu bulan. Bisa saja dalam satu bulan curah hujan di Jakarta berkali-kali mencapai 300 milimeter volumenya. Maka, kebanjiran akan kembali terjadi.

“Jakarta akan kebanjiran juga karena curah hujan di Bogor, Cisarua, dan Puncak, Cianjur. Sebab air dari bendungan Katulampa akan mengalir ke arah Jakarta,” kata Joko.

Dalam kesempatan yang berbeda, Staf Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Firdaus Ali mengatakan, antisipasi banjir di Jakarta juga telah dilakukan pembuatan bendungan Ciawi dan Sukamahi. Dua bendungan yang berada di Ciawi, Bogor, Jawa Barat ini diprediksi akan mengurangi kebanjiran 30 persen di Jakarta.

Rencananya, bendungan Ciawi ini memiliki volume tampung 6,45 juta kubik air atau bisa menampung 365 meter kubik air per detik. Sementara Bendungan Sukamahi memiliki volume tampung 1,68 juta meter kubik atau 56 meter kubik air per detik.

Firdaus mengatakan, pembangunan waduk ini masih dalam pembangunan. Pasalnya, pembebasan lahan belum sepenuhnya dilakukan di sekitar waduk. Kemungkinan besar, waduk dapat selesai pada Desember 2019 dan belum dapat digunakan untuk antisipasi banjir Januari hingga Februari 2019.

Firdaus berharap, Dinas Sumber Daya Air Pemerintah Provinsi DKI Jakarta segera mengambil tindakan untuk mengantisipasi kebanjiran. Hal yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan normalisasi kali, pembersihan kali, dan pembuatan tanggul.

“Langkah pembuatan waduk ini adalah yang dilakukan Kementerian PUPR. Harapannya, Dinas Sumber Daya Air segera mengambil tindakan yang signifikan untuk atasi banjir. Misalnya normalisasi di 13 sungai di Jakarta,” kata Firdaus saat dihubungi.

–Salah satu kali yang berada di Matraman, Jakarta Timur

Kali-kali di Jakarta masih banyak ditemukan sampah dan masih berwarnba hitam, kali-kali tersebut masih mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Banyak warga yang mengeluhkan keberadaan kali yang tidak layak untuk menjadi sumber air minum atau mandi. Namun, masih banyak juga warga yang berada di bantaran kali bertahan hidup di sana.

Krisis
Saat ini kondisi yang berada di kali di Jakarta masih belum laik untuk menjadi sumber air minum. Di antara 13 sungai di Jakarta, hanya Kali Krukut yang airnya yang dapat diolah, itu pun tidak begitu berkualitas. Hingga saat ini, sumber air bersih di Jakarta didapat dari Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat sebesar 81 persen, dari Sungai Cisadane, Tangerang, Banten sebanyak 16 persen, dan Kali Krukut sendiri sebanyak 3,5 persen.

JOHANNES DE DEO CC UNTUK KOMPAS–Kali Item, Cempaka Putih, Jakarta Pusat mulai kembali dialirkan

Krisis air juga terjadi di RT 003/RW 005 Cilangkap, Cipayung, Cibubur, Jakarta Timur, salah satu warga di tempat tersebut, Dimmas (33) menceritakan, pada musim kemarau ini air di rumahnya sering tidak mengalir. Ketika keran dinyalakan, hanya sedikit alirannya yang keluar. Oleh sebab itu, ia sering berpindah-pindah tempat dari rumah temannya di tempat yang lain.

“Sering seperti ini, karena saya pakai air perusahaan pemerintah, airnya selalu kering. Saya mandi di tempat orang lain,” kata Dimmas. (JOHANNES DE DEO CC)–ADHI KUSUMAPUTRA

Sumber: Kompas, 13 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: