Home / Berita / Perguruan Tinggi Indonesia Didorong ke Tingkat Dunia

Perguruan Tinggi Indonesia Didorong ke Tingkat Dunia

Saat ini baru tiga perguruan tinggi negeri Indonesia yang tercatat dalam peringkat 500 perguruan tinggi top dunia versi Quacquarelli Symonds atau QS World University Ranking 2019. Potensi perguruan tinggi lain menuju perguruan tinggi berkelas dunia juga terus didorong.

Berdasarkan peringkat QS World University Ranking 2019 yang dirilis pada Kamis (7/6/2018), dari lebih 1.000 perguruan tinggi (PT) top dunia, ada 9 PT dari Indonesia yang masuk dalam daftar. Yang masuk dalam 500 top dunia adalah Universitas Indonesia (292), Institut Teknologi Bandung (359), dan Universitas Gadjah Mada (391).

KOMPAS/ESTER LINCE NAPITUPULU–Menristek dan Dikti Mohamad Nasir mendorong potensi perguruan tinggi di Indonesia menuju perguruan tinggi berkelas dunia, sebagaimana yang telah dicapai Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada.

Adapun yang lainnya adalah Universitas Padjadjaran di ranking 651-700, Institut Pertanian Bogor (701-750), dan Universitas Airlangga (751-800). Ada tiga lagi yang masuk di ranking 801-1.000 yakni Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Brawijaya.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengatakan, daya saing PT Indonesia menuju kelas dunia atau world class university (WCU) harus terus ditingkatkan, baik dari ranking maupun jumlah PT. Ada tim WCU yang dibentuk Kemristek dan Dikti yang melibatkan sejumlah tokoh senior dan muda yang punya prestasi di tingkat internasional dari sejumlah perguruan tinggi.

”Ada sebelas PT yang didampingi. Kami harap supaya yang sudah masuk dalam 500 top dunia bisa tembus ke 200 besar. Adapun yang lain bisa masuk ke 500 besar dunia,” kata Nasir.

Jejaring luar negeri
Menurut Nasir, daya saing PT di tingkat internasional ini penting untuk meningkatkan mutu PT Indonesia yang diakui hingga luar negeri. Para dosen yang potensial diberi kesempatan berjejaring dengan para dosen dari perguruan tinggi luar negeri ternama, terutama dalam memacu publikasi ilmiah internasional.

Secara terpisah, Rektor IPB Arif Satria mengatakan, mengejar ranking dunia bermakna mengejar reputasi IPB di mata PT dunia. Sebab, banyak PT dunia yang mensyaratkan ranking dalam menerima tawaran kerja sama. ”Saat ini, IPB termasuk 100 top dunia versi QS by subject untuk agriculture and forestry,” jelas Arif.

Dia menambahkan, dengan masuknya PT Indonesia di PT WCU, dapat menjadi daya tarik penting untuk mendapatkan mahasiswa asing. ”Mahasiswa asing penting bagi kita sebagai bagian dari diplomasi kita. Negara maju banyak menerima mahasiswa Indonesia bukan semata karena membantu, melainkan lebih dari itu, bagian dari diplomasi,” papar Arif.

–Lima mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, yang mengembangkan aplikasi APLISIN untuk mendeteksi keaslian vaksin.

Keuntungan lainnya, lanjut Arif, PT Indonesia bisa mendapatkan mahasiswa dengan kualitas terbaik. Selain itu, kesempatan memaksa dosen untuk meningkatkan publikasi dan mendorong mobilitas internasional.

Rektor UI Muhammad Anis mengatakan, dari tahun ke tahun, UI berupaya membawa lokomotif pendidikan bangsa yang mampu bersaing dengan PT terbaik lainnya di dalam peta pendidikan dunia internasional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pemenuhan indikator yang digunakan oleh lembaga pemeringkatan bergengsi dunia ini.

“Pemeringkatan ini menegaskan kembali akan expertise UI sebagai universitas terbaik bangsa pada bidang sosial humaniora, kesehatan, dan sains-teknologi,” ujar Anies.

Anis menambahkan, pada tahun 2018, UI semakin gencar meningkatan kualitas serta kuantitas riset dan pengabdian masyarakat. Selain itu, juga meningkatkan peran serta sivitas akademika UI di dalam menjawab permasalahan masyarakat melalui penelitian mutakhir dan inovatif.

Pada perhitungan yang dilakukan oleh tim QS, tahun ini UI mengalami peningkatan signifikan pada performa “International Faculty”. Indikator ini menunjukkan peningkatan jumlah dosen asing dan peneliti asing yang turut serta menjadi tenaga pendidik mahasiswa UI. Tercatat saat ini UI memiliki 617 dosen dan peneliti asing – yang didominasi dari Australia, Filipina, Jepang dan Malaysia.

–Pesawat Penjelajah Kawasan Bencana – Pesawat tanpa awak fixed wing yang digabung sistem empat rotor baling-baling untuk bergerak vertikal bernama Gatotkaca Ganesha menjadi salah satu karya yang dipamerkan dalam Pameran Produk Karya Mahasiswa Tehnik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) di Aula Barat, Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Senin (5/12/2016).

Peningkatan performa berikutnya terlihat pada indikator “Employer Reputation”. Indikator ini menunjukkan peningkatakan kepuasan para pimpinan perusahaan terhadap kinerja lulusan UI di perusahaan mereka.

Kepala Kantor Jaminan Mutu UGM Indra Wijaya Kusuma, menuturkan UGM terus meningkatkan kenaikan di indikator reputasi employer, rasio dosen dan mahasiswa, serta peningkatan jumlah dosen internasional. “Perhatian terhadap perankingan ini bukan saja bermanfaat bagi perguruan tinggi, tetapi juga pemerintah,” kata Indra.

Indra menambahkan beberapa negara, seperti Cina, Rusia, Jerman, Malaysia, dan Indonesia mendukung PT di negaranya untuk dapat masuk dalam daftar peringkat prestisius ini. Besarnya perhatian pemerintah Indonesia dalam hal ini terlihat dari besarnya anggaran yang disalurkan ke beberapa perguruan tinggi agar mampu menembus peringkat lebih baik.

Ada tim percepatan peningkatan reputasi ini agar peringkat PT Indonesia terus meningkat.Seperti diketahui, dalam perankingan QS ini UGM ada di peringkat 555 besar dunia. Setelah itu, peringkat 501 di tahun 2016, peringkat 402 di tahun 2017, dan peringkat 391 di tahun 2018.

QS University Ranking menggunakan enam indikator performa dalam pemeringkatan yaitu Academic reputation (40 persen – mengukur unsur akademik secara menyeluruh ; Employer reputation (10 persen – mengidentifikasi performa dan kualitas lulusan universitas di mata para pimpinan perusahaan; serta Faculty/student ratio (20 persen – mengukur komponen yang menunjang keberlangsungan kegiatan belajar mengajar di perguruan tinggi seperti jumlah tenaga pendidik berbanding dengan jumlah mahasiswa.

Selain itu, Citation per Faculty (20 persen) – mengukur jumlah kutipan (citation), jumlah publikasi ilmiah serta dampak penelitian yang dihasilkan para sivitas akademika perguruan tinggi terhadap masyarakat ; International Faculty (5 persen) – mengukur jumlah ekspatriat/tenaga pendidik asing di fakultas/perguruan tinggi ; serta International Student (5 persen) – mengukur jumlah mahasiswa asing di fakultas/perguruan tinggi.–ESTER LINCE NAPITUPULU

Sumber: Kompas, 9 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: