Home / Artikel / Pendidikan Indonesia 2045

Pendidikan Indonesia 2045

Meningkatkan modal manusia Indonesia merupakan agenda yang kompleks dan perlu pelaksanaan dalam jangka waktu yang panjang, yang harus menjadi inti dari strategi pembangunan pemerintah.

Tahun 1972 terbit sebuah laporan The Limits to Growth oleh kelompok Roma (The Club of Rome) yang menggambarkan bagaimana manusia dapat bertahan hidup dalam planet yang sangat sempit dan terbatas untuk kurun waktu 100 tahun ke depan.

Selanjutnya, 40 tahun kemudian, pada 2012, dilakukan evaluasi apa yang terjadi pada kurun waktu tersebut dan apakah ada perubahan terhadap kecenderungan atau fenomena yang diperkirakan sebelumnya.

Dengan penyesuaian yang telah dilakukan pada 2012, Jorgen Randers dalam bukunya, A Global Forecast for the Next Forty Years 2052, menyebutkan adanya lima isu besar menjelang tahun 2052 sebagai berikut: berakhirnya kapitalisme, berakhirnya pertumbuhan ekonomi, berakhirnya demokrasi yang lambat, berakhirnya keharmonisan antargenerasi, dan berakhirnya iklim yang stabil. Kelima isu besar tersebut mengemuka karena terbatasnya daya dukung bumi untuk dapat menghidupi penduduk dunia yang jumlahnya sangat banyak.

Membangun manusia
Berdasarkan hasil kajian Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) yang disajikan dalam buku SAINS45, persoalan yang diprakirakan akan dihadapi Indonesia pada tahun 2045 adalah sebagai berikut.

Pertama, identitas, keragaman, dan budaya bangsa. Apa yang menjadikan Indonesia ”Indonesia”? Bagaimana mewujudkan torang samua basudara, satu bangsa di tengah keberagaman? Nasionalisme di era transnasionalisme, bagaimana bisa bertahan? Bagaimana teknologi akan membentuk ulang kemanusiaan? Nusantara sebagai tapak perjalanan evolusi manusia. Bagaimana Indonesia menghadapi arsitektur sains yang berubah?

Kedua, kepulauan, kelautan, dan sumber daya hayati (megabiodiversitas). Bagaimana ”Bahtera Nuh” ini akan bertahan? Merawat keanekaragaman hayati laut adalah merawat masa depan. Di laut kita jaya? Pada lautan, bisakah kita sandarkan masa depan? Kemiskinan masyarakat pesisir adalah ironi dalam kelimpahan dan potensi laut dalam yang serba ekstrem.

Ketiga, kehidupan, kesehatan, dan gizi. Hal ini menyangkut apakah kita adalah apa yang kita makan? Juga, memahami interaksi kuman yang mengalir sampai jauh dengan hewan, manusia, dan lingkungan. Tantangan kini dan masa depan: bagaimana melawan infeksi secara cerdas? Pentingnya menyigi Nusantara untuk mencari obat. Bagaimana tetap sehat di usia tua. Bagaimana mengantisipasi penduduk yang akan menua. Setelah sel punca, apa lagi?

Keempat, air, pangan, dan energi. Bagaimana mengamankan dan menjamin air untuk semua? Bagaimana mewujudkan pertanian lebih pintar untuk pangan lebih banyak? Selain pangan, bisakah vaksin dan obat dipanen di ladang pertanian? Bagaimana mengembangkan panas bumi sebagai andalan energi?

Kelima, bumi, iklim, dan alam semesta. Bagaimana memahami pergolakan perut Bumi Pertiwi? Hutan tropis hanya ditebang, sampai kapan? Bagaimana menjadikan limbah sebagai berkah? Bagaimana memaknai benua maritim Indonesia? Terkait karbon dan perubahan iklim: dari bumi, bagaimana kembali ke bumi? Bagaimana dari katulistiwa kita meneropong semesta?

Keenam, bencana dan ketahanan masyarakat terhadap bencana. Ini menyangkut bagaimana hidup di atas bumi yang terus bergerak, menakar bencana laten di pesisir dan laut, dan hidup serumah dengan bencana.

Ketujuh, material dan sains komputasi. Ini menyangkut penginderaan bumi: menghitung kado alam, mencari teknologi hijau tambang dari alam hingga ladang dan menjaring energi matahari. Untuk industri strategis, desain material seperti apa yang diperlukan? Selain itu, menyangkut sains komputasi dan sistem yang kompleks bagi Indonesia.

Kedelapan, ekonomi, masyarakat, dan tata kelola. Satu nusa, satu bangsa, satu ekonomi, mungkinkah diwujudkan? Pentingnya dicari institusi yang menjamin dan mendorong kemakmuran. Apakah orang muda akan terus menulis sejarah Indonesia? Bagaimana bentuk baru kemiskinan dan ketimpangan masa depan? Bagaimana menapis banjir informasi? Bagaimana merumuskan kebijakan publik dan republik? Bagaimana mewujudkan pendidikan yang membangun manusia? Untuk manusia dan kemanusiaan, di mana hukum harus berdiri?

Saat ini dunia merupakan perkampungan global (global village) di mana tidak ada kendala dan kendali informasi, tidak ada kendala dan kendali mobilitas, jati diri dibedakan berdasarkan kinerja bukan karena suku-agama-kebangsaan-budaya, dan kinerja akan mewujudkan tingkat kesejahteraan. Eksistensi sebuah negara-masyarakat-kelompok ditentukan oleh besar kecilnya penguasaan pasar global.

Ukuran besar kecilnya negara-bangsa tidak dapat menentukan eksis tidaknya sebuah negara-bangsa. Secara transaksional negara maju (sebagai penyedia) akan menguasai negara yang belum maju (sebagai pengguna). Indonesia perlu mengembangkan industri bernilai tambah tinggi (inovatif) berbasis teknologi dan berdasarkan pengalaman di Eropa investasi di bidang inovasi akan meningkatkan produk domestik bruto (PDB) 10 kali lipat dalam waktu 25 tahun.

Untuk mencapai target peningkatan PDB ini, diperlukan modal manusia (human capital) yang mampu mengatasi tantangan revolusi industri 4.0 dan tantangan global menuju 2045.

Berdasarkan hasil kajian Bank Dunia tahun 2019, Indonesia masih terkendala oleh rendahnya modal manusia. Indonesia berada di peringkat ke-87 dari 157 negara dalam Human Capital Index (HCI) yang diterbitkan oleh Bank Dunia pada tahun 2018. Indeks ini menilai negara berdasarkan hasil pendidikan dan kesehatan serta dampaknya terhadap produktivitas.

KOMPAS/RIZA FATHONI—Siswa sekolah menyimak presentasi mengenai kinerja robot hidrolis dalam Indonesia Science Expo 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang, Banten, Sabtu (3/11/2018). Pameran tersebut menghadirkan beragam stan yang menyuguhkan hasil temuan penelitian dan ilmuwan dalam lomba karya ilmiah dan proyek teknologi di tingkat nasional dan internasional.

Meningkatkan modal manusia Indonesia merupakan agenda yang kompleks dan perlu pelaksanaan dalam jangka waktu yang panjang, yang harus menjadi inti dari strategi pembangunan pemerintah. Untuk itu, dibutuhkan peningkatan sistem pendidikan di seluruh jenjang, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi, serta kesempatan belajar seumur hidup.

Setiap tahun 4,2 juta orang Indonesia lulus dari sistem pendidikan (Susenas, 2018). Siswa lulus rata-rata pada usia 16 tahun dengan lama pendidikan 10,94 tahun. Namun, banyak dari lulusan pendidikan menengah yang tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja dan akhirnya menerima pekerjaan bergaji rendah.

Lebih dari 55 persen siswa tidak mencapai kompetensi minimum dalam literasi dan matematika. Oleh karena mereka berada dalam sistem pendidikan vokasi dan pendidikan tinggi, kurikulum yang cenderung tidak selaras dengan kebutuhan pasar saat ini atau yang disyaratkan industri 4.0.

Satryo Soemantri Brodjonegoro, Dirjen Dikti (1999-2007), Guru Besar Emeritus ITB, Ketua AIPI.

Sumber: Kompas, 13 Agustus 2020

Share
x

Check Also

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau ...

%d blogger menyukai ini: