Home / Berita / Pendekatan Keagamaan Tingkatkan Kepedulian

Pendekatan Keagamaan Tingkatkan Kepedulian

Pendekatan keagamaan dinilai efektif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan di kawasan gambut. Namun, hal itu perlu disertai dengan sosialisasi mengenai pengelolaan lahan tanpa menggunakan cara membakar.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Salah satu warga Desa Sebangau Mulya menunjukkan hasil panen padinya yang dikelola dari lahan tanpa bakar, Kamis (6/3/2019). Pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB) mulai digerakkan untuk menjaga gambut menjadi lebih baik.

Pendekatan keagamaan dinilai efektif dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Pendekatan yang sedang dilakukan Badan Restorasi Gambut dalam dua tahun terakhir ini akan ditingkatkan tidak hanya pada ranah dakwah lisan, tetapi juga memperbanyak praktik di lapangan yang bisa dicontoh masyarakat.

Kepala Kelompok Kerja Edukasi dan Sosialisasi Badan Restorasi Gambut (BRG), Suwignya Utama, Jumat (24/4/2020), dalam diskusi virtual yang diadakan BRG, menjelaskan, pendekatan keagamaan dilatarbelakangi hasil riset yang menunjukkan berbagai kerusakan lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan lahan, memiliki akar masalah pada perilaku manusia.

”Oleh karena itu, penanggulangan masalah dalam pengelolaan sumber daya alam khususnya di lahan gambut perlu diperkuat pendekatan moral keagamaan, yaitu menyentuh aspek terdalam hati manusia yaitu value (nilai) dan belief (keyakinan),” ungkapnya.

Sejak 2018, Badan Restorasi Gambut telah melatih 257 dai peduli gambut dan 104 pendeta peduli gambut di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Mereka berasal dari desa-desa peduli gambut yang didampingi BRG dan mitranya yang jumlahnya per akhir tahun 2019 mencapai 394 desa.

PRESENTASI BRG–Badan Restorasi Gambut menggunakan pendekatan keagamaan untuk menyosialisasikan perlindungan dan restorasi gambut tanpa membakar. Tampak jumlah dai dan pendeta peduli gambut yang telah dilatih BRG. Sumber dari paparan Badan Restorasi Gambut saat diskusi virtual, Jumat (24/4/2020).

Mereka mendapatkan pengetahuan dan informasi terkait pengelolaan gambut ataupun bekal-bekal khotbah untuk disampaikan kepada masyarakat. Sebagai contoh, salah satu inti materi kotban, yaitu Fatawa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 30 tahun 2016 yang intinya menyatakan, haram pembakaran hutan dan lahan yang memicu kerusakan lingkungan dan kesehatan.

”Mereka (dai dan pendeta) mendapat wawasan baru. Soal lingkungan ini tidak populer meski ada ayatnya ada fatwanya, tapi kalau tidak dibumikan tidak sampai ke masyarakat,” ungkapnya.

Tantangan selanjutnya, lanjut Suwignya, masyarakat meminta solusi kepada pemuka agama tersebut terkait pengolahan gambut tanpa membakar. Karena itu, para dai dan pendeta ini pada masa mendatang tidak hanya dibekali materi dakwah atau khotbah, tetapi juga pengetahuan dan teknik pengolahan lahan tanpa bakar.

Langkah itu, antara lain, dengan mengintegrasikan dalam program sekolah lapang. Hal itu bertujuan memberi contoh kepada masyarakat melalui demplot-demplot. ”Harapan kami, dai tidak hanya lisan ,tetapi juga memberi contoh. Masyarakat bisa adopsi cepat kalau diberi contoh-contoh,” katanya.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN–Petani Desa Mandala Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, mengelola gambut tanpa bakar. Budidaya jahe merah yang telah dimulai setahun terakhir ternyata menguntungkan petani karena harga jual yang melesat seiring terjadinya pandemi Covid-19. Gambar diambil pada tanggal 11 Maret 2020.

Fakhruddin Mangunjaya, dari Pusat Pengajian Islam di Universitas Nasional Jakarta, menyampaikan hasil evaluasi melalui survei pada empat desa yang memiliki dai peduli gambut di Kalimantan Barat dan Riau. Hasil survei itu menunjukkan 62,1 persen responden menyatakan dai sering berdakwah terkait gambut dan 32,1 persen responden menyatakan dai selalu berdakwah terkait gambut.

Terkait fatwa haram pembakaran lahan, sejumlah 56,3 persen responden menyatakan, dai sering berdakwah dan 29,6 persen dai selalu berdakwah terkait hal tersebut. ”Artinya informasi dan dakwah sudah sampai kepada masyarakat,” ujarnya.

Namun, saat ditanya lebih lanjut, sebagian masyarakat mengaku masih mempraktikkan pembukaan lahan dengan cara membakar. Dengan kata lain, dakwah saja tidak bisa langsung menyadarkan masyarakat tanpa dibarengi dengan alternatif atau solusi.

Meski demikian, kehadiran dai peduli gambut ini menjadikan masyarakat memahami arti penting lahan gambut. Pengetahuan itu terkait, antara lain, dampak pembakaran terhadap kesehatan masyarakat dan perubahan iklim.

Hal senada diutarakan Sekretaris Eksekutif bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaaan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Jimmy M Immanuel Sormin. Ia mengatakan, warga juga membutuhkan hal-hal praktis yang bisa dilakukan terkait pemanfaatan lahan ramah lingkungan. ”Ini yang kami harap kerja sama selanjutnya PGI dan BRG,” katanya.

Laporan sementara ini, lanjut Jimmy, khotbah-khotbah para pendeta peduli gambut tersebut memiliki dampak bagi umat di gereja. Ia mencontohkan umat tersebut kini menjadi kritis ketika ada pihak-pihak yang melakukan pembakaran gambut.

Oleh ICHWAN SUSANTO

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 24 April 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: