Penapisan Hipotiroid Bawaan Perlu Dikaji Dulu

- Editor

Rabu, 11 Maret 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Untuk bisa memasukkan penapisan hipotiroid kongenital, yakni gangguan bawaan berupa rendahnya hormon tiroid pada bayi baru lahir, ke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional, Kementerian Kesehatan perlu mengkaji dulu kebutuhan tersebut bersama sejumlah pihak. Saat ini, penapisan yang masuk program JKN baru penapisan kanker leher rahim, diabetes melitus, dan hipertensi alias tekanan darah tinggi.

Kepala Departemen Humas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Irfan Humaidi mengatakan, Kemenkes perlu mempertimbangkan mana saja indikasi medis yang mengharuskan ada jaminan. “Tercakupnya penapisan kanker leher rahim, diabetes melitus, dan tekanan darah tinggi merupakan hasil usulan Kemenkes,” kata Irfan, yang dihubungi pada Selasa (10/3) di Jakarta.

Ia menuturkan, BPJS Kesehatan mengelola dana untuk JKN hanya berdasarkan peraturan yang ada, antara lain besaran tarif dan jenis dalam Indonesia Case Based Groups (INA-CBG) serta indikasi-indikasi medis pada pasien. Jika penapisan hipotiroid kongenital sangat dibutuhkan, BPJS Kesehatan butuh masukan dari Kemenkes selaku regulator.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

acc7ff30962449648ef95cb51cd27497Jika ada usulan dari kalangan profesi kesehatan bahwa penapisan hipotiroid kongenital perlu masuk, angka tarifnya kemungkinan besar dan bisa memengaruhi anggaran kesehatan mendatang, Kemenkes perlu membicarakan dulu dengan semua pihak. “Perlu analisis mendalam, apakah semua bayi harus melewati penapisan,” ujar Irfan.

Hambatan pertumbuhan
Hipotiroid kongenital adalah kelainan bawaan pada bayi baru lahir akibat penurunan hormon tiroid. Hormon yang terdiri dari tri-iodotironin (T3) dan tetra-iodotironin (T4) tersebut diproduksi kelenjar tiroid atau kelenjar gondok. Fungsi hormon tiroid adalah mengatur panas tubuh, metabolisme, pertumbuhan tulang, kerja jantung dan saraf, serta pertumbuhan dan perkembangan otak. Jika seorang anak mengalami hipotiroid kongenital, fungsi metabolisme serta kerja jantung dan saraf melambat, tubuh pendek, kemampuan intelegensianya rendah, bahkan bisa menyebabkan keterbelakangan mental.

Sebanyak 95 persen bayi dengan hipotiroid kongenital tidak menunjukkan gejala saat lahir. Gejala mulai tampak saat umur 3-6 bulan. Saat itu sudah terlambat karena bayi biasanya telanjur mengalami keterbelakangan mental. Satu-satunya jalan untuk mendeteksi dini hal itu adalah lewat penapisan pada semua bayi baru lahir, termasuk bayi yang lahir sehat.

Kemarin, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman B Pulungan mengatakan, tanpa upaya memperluas jangkauan penapisan, negara berpotensi menderita kerugian karena bertambahnya sumber daya manusia yang tidak mandiri. Dengan asumsi terdapat 1 bayi dengan hipotiroid kongenital pada tiap 3.000 kelahiran per tahun di dunia, di Indonesia kemungkinan terdapat 1.575 bayi menderita kelainan tersebut. Asumsinya, ada 4.725.000 kelahiran per tahun di Indonesia.

Sementara itu, untuk pendidikan anak dengan keterbelakangan mental, satu kelas di sekolah luar biasa (SLB) idealnya menampung 10 siswa. Perbandingan guru terhadap murid di SLB sebaiknya 1:5. “Jika seperti itu, berapa banyak SLB harus dibangun,” kata Aman.

Nancy Dian Anggraeni, Kepala Subdirektorat Bina Kewaspadaan Penanganan Balita Berisiko Kemenkes, menambahkan, pihaknya pernah mengusulkan penapisan hipotiroid kongenital masuk sebagai salah satu manfaat Kartu Indonesia Sehat untuk JKN. “Kami belum mendapatkan informasi, mengapa belum masuk,” ujarnya.

Saat ini, kata Nancy, Kemenkes mengupayakan pembiayaan penapisan lewat pengusulan dana dekonsentrasi, yakni dana dari pusat untuk kegiatan pemerintah provinsi. Tahun lalu, ada dana dekonsentrasi untuk kegiatan penapisan di 14 provinsi, jatahnya 1.000 sampel per provinsi. Tahun ini, Kemenkes mengusulkan untuk 18 provinsi.

J Galuh Bimantara

Sumber: Kompas Siang | 10 Maret 2015

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 26 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB