Home / Berita / Penanggulangan DBD Semakin Sulit

Penanggulangan DBD Semakin Sulit

Genetika Nyamuk “Aedes aegypti” Bermutasi
Nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penularan demam berdarah dengue kian sulit diberantas. Sebab, nyamuk itu tidak hanya menularkan penyakit itu setelah menggigit manusia yang terinfeksi virus dengue, tetapi juga dapat menurunkan virus dengue hingga lima generasi.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoar Penyakit (B2P2VR) Salatiga Vivi Lisdawati, Jumat (5/2), di Salatiga, Jawa Tengah, menjelaskan, genetika nyamuk Aedes aegypti bermutasi sehingga virus menurun melalui transovarial. Virus dengue bisa diturunkan pada telurnya. Penyebab mutasi kompleks, antara lain kondisi lingkungan, seperti iklim, bahan kimia, dan perubahan pola hidup masyarakat.

Riset mekanisme transovarial pada nyamuk Aedes aegypti dilakukan sejak 2012 di Kota Salatiga. Ditemukan nyamuk yang terkandung virus dengue meski belum menggigit manusia yang terinfeksi virus. Hal itu juga terjadi di sejumlah daerah di Indonesia dan menyebabkan kasus DBD meningkat pesat.

Dengan kian banyak kemungkinan nyamuk terinfeksi virus dengue, kasus DBD akan meningkat jika tak dicegah secara efektif. Karena itu, cara paling efektif ialah mencegah perkembangbiakannya, yakni memberantas sarang nyamuk dengan menutup tempat penampungan air, mengubur barang bekas yang bisa menampung air, menguras bak penampungan air, dan menyikat tempat penampungan air.

Vivi menjelaskan, menyikat bak mandi atau tempat penampungan air diperlukan untuk menghilangkan telur nyamuk yang tidak terlihat. Telur nyamuk menempel di dinding penampung air dan bisa bertahan lama dalam kondisi kering.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengungkapkan, satu nyamuk Aedes aegypti bisa bertelur hingga 200 butir. “Satu-satunya cara menghindarinya ialah mencegah perkembangbiakan nyamuk dan melindungi diri dari gigitan nyamuk. Daerah-daerah endemis yang kasusnya tinggi biasanya di dataran rendah,” kata Yulianto.

Langkah pengasapan juga dinilai tak efektif karena hanya membunuh nyamuk dewasa. Telur nyamuk yang mengandung virus dengue tak ikut mati. Pengasapan juga membuat nyamuk kelamaan jadi kebal insektisida.

Virus tak bermutasi
Kepala Unit Dengue Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Tedjo Sasmono, di Jakarta, kemarin, mengatakan, dari aspek virologi, tak ada perubahan ataupun mutasi virus dengue di Indonesia. Jadi, merebaknya kasus DBD tak terkait perubahan atau mutasi virusnya, tetapi lebih soal perubahan cuaca dan manajemen penanganan penyakit yang harus dibenahi.

Hingga kini, virus dengue yang ada di Indonesia terdiri dari empat jenis serotipe, yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Tiap tipe memiliki subtipe atau strain hingga ratusan. “Dari virusnya, tak ada perbedaan klinis meski DEN-2 lebih kerap menyebabkan keparahan penyakit,” ucapnya.

Banyaknya variasi strain itu mempersulit upaya menemukan vaksin dengue terbaik. Orang yang kebal satu jenis virus dengue belum tentu kebal tipe lain. Kini, vaksin dengue dalam tahap izin di Kementerian Kesehatan. Meski nantinya vaksin bisa beredar, itu tak menjamin penyebaran dengue bisa diatasi karena rantai virus dan vektornya tak putus.

79aa696752f54cc39e8eb621bbc151d1Mayoritas orang dewasa yang tinggal di daerah endemik DBD bisa kebal penyakit itu karena pernah digigit nyamuk yang terinfeksi empat tipe virus itu. Namun, begitu nyamuk Aedes aegypti menggigit orang yang terinfeksi virus itu lalu menggigit orang lain yang belum terinfeksi, terutama anak-anak, penularan ke orang baru terjadi.

Dengan melihat karakter virus dengue itu, Tedjo menyarankan, cara mengatasinya harus terintegrasi dari aspek manusia, nyamuk, dan lingkungan. Dari aspek manusia, begitu ada gejala demam, terutama di daerah endemik, sebaiknya langsung diperiksa darahnya di laboratorium.

Hal itu karena dampak serangan virus itu ke setiap orang berbeda. Ada yang menyebabkan demam tinggi, ada yang tak terlalu panas sehingga dianggap flu biasa. Kini, mayoritas laboratorium punya kemampuan mendeteksi virus dengue. Jika dikenali sejak awal, pasien bisa diselamatkan.

Dari aspek nyamuknya, perlu ada upaya agar tak digigit nyamuk, terutama anak-anak dan ibu hamil, yang daya tahan tubuhnya rendah. Dari aspek lingkungan, perlu pengasapan atau pembersihan tempat perkembangbiakan nyamuk untuk memutus siklus hidupnya.(UTI/AIK/ADH)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Februari 2016, di halaman 14 dengan judul “Penanggulangan DBD Semakin Sulit”.
———
Sistem Surveilans Epidemiologi Indonesia Lemah

Indonesia dinilai tidak memiliki sistem surveilans penyakit yang andal untuk memetakan dan mendeteksi penyakit menular yang berpotensi menjadi wabah di Indonesia. Meski Zika pernah teridentifikasi di Indonesia pada tahun 1980-an, virus ini tidak dipetakan keberadaannya hingga merebak di Pasifik tahun 2014 dan Amerika Latin saat ini.

16bc1030add1432eaa7b105f1510371ePadahal, sebagai negara yang berada di daerah tropis, Indonesia menjadi tempat berkembang yang baik berbagai penyakit menular.

Hal itu disampaikan Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler dari Universitas Airlangga, Surabaya, Chairul Anwar Nidom, Jumat (5/2/2016), ketika dihubungi dari Jakarta.

Nidom mengatakan, setelah menutup lembaga penelitian kerja sama dengan Amerika Serikat, Naval Medical Research Unit No 2 (NAMRU-2), Indonesia tidak pernah membangun sistem surveilans yang baik untuk penyakit pada hewan ataupun manusia.

Akibatnya, Indonesia menjadi sangat rentan terhadap munculnya wabah penyakit menular. Kewajiban membangun sistem surveilans yang baik ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga parlemen yang menetapkan anggaran. “Surveilans itu kerjanya seperti intelijen. Kalau tidak dikerjakan secara sistematis, bisa-bisa terjadi ledakan penyakit yang tidak terperkirakan sebelumnya,” kata Nidom.

Rikhus Vektora
Kepala Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (P2B2VRP) Salatiga, Vivi Lisdawati, mengatakan, selama Riset Khusus Vektor dan Reservoir Penyakit (Rikhus Vektora) tahap I dilakukan tahun 2015 di empat provinsi, virus Zika tidak dipetakan. Saat itu, kejadian infeksi virus asal Uganda itu belum marak seperti sekarang.

Hasil pemeriksaan atas 50 jenis lebih nyamuk teridentifikasi berbagai penyakit, yakni malaria, dengue, chikungunya, filariasis, dan Japanese Encephalities (JE).

Setelah infeksi virus Zika merebak di Brasil dan negara lain di Amerika Selatan, P2B2VRP akan memeriksa ribuan sampel nyamuk yang diperoleh dari Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Tengah, dan Papua selama Rikhus Vektora tahap I untuk mengetahui ada tidaknya virus Zika.

Vivi menyampaikan, ada lebih dari 50 jenis nyamuk yang diperiksa. Pemeriksaan diprioritaskan pada nyamuk Aedes karena berdasarkan berbagai laporan ilmiah, virus Zika ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti. “Pemeriksaan kemungkinan akan selesai 1-2 bulan. Meski begitu, ketika pemeriksaan satu provinsi sudah selesai akan segera kami laporkan,” kata Vivi.

Rikhus Vektora adalah riset yang dilakukan secara bertahap selama tiga tahun dimulai tahun 2015 untuk memetakan penyakit tular-vektor dari nyamuk, tikus, dan kelelawar di Indonesia. Riset ini menjadi bagian dari surveilans dan pencegahan penyakit. Semua informasi yang diperoleh dari riset ini akan disampaikan kepada Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah. Harapannya, hasil riset ini menjadi bahan pengambilan kebijakan dalam penyakit menular.

Pada tahun 2015, ribuan sampel nyamuk, tikus, dan kelelawar dari empat provinsi sudah diperiksa. Selain nyamuk Aedes, nyamuk yang banyak didapat pada Rikhus Vektora I ialah nyamuk Anopeheles, Culex, Armigeres, dan Mansonia.

ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas Siang | 5 Februari 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: