Home / Berita / Pemerintah Terus Dorong Penggunaan Teknologi Pendidikan

Pemerintah Terus Dorong Penggunaan Teknologi Pendidikan

Pemerintah terus mendorong akses pendidikan dan penggunaan teknologi di seluruh daerah agar siswa Indonesia semakin melek teknologi. Pemahaman teknologi dibutuhkan guna meningkatkan daya saing dan memperluas kesempatan dalam berbagai bidang kehidupan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, di sela acara Kampanye Kepedulian terhadap Pendidikan dan Teknologi “Edukasi Awal Inspirasi” oleh Samsung, di Jakarta, Selasa (20/3), menyatakan, siswa di Indonesia memiliki kesenjangan pemahaman teknologi dalam pendidikan yang cukup besar.

Secara keseluruhan, ujarnya, baru sekitar 70 persen siswa mengetahui memahami penggunaan teknologi rendah, 50 persen teknologi menengah, dan 25 persen teknologi tinggi. Pemerintah saat ini tidak bisa mengategorikan siswa Indonesia sebagai generasi milenial yang melek teknologi digital.

ELSA EMIRIA LEBA UNTUK KOMPAS–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (kedua dari kiri) ketika mengunjungi Samsung Smart Learning Class (SSLC) di SMA Pangudi Luhur, Jakarta, Selasa (20/3)

“Seluruh anak Indonesia memiliki hak untuk memeroleh pendidikan yang sama dengan yang di tempat lain,” kata Muhadjir. Apalagi, keterampilan yang dibutuhkan pada abad ke-21 ini adalah 5C, yakni critical thinking, creativity and innovation, collaboration, communication skill, dan confident.

Teknologi pendidikan adalah peratalamn yang digunakan untuk mengembangkan pengalaman belajar (AJ Romiszowski, Designing Instructional Systems).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dinyatakan tidak dapat bekerja sendiri dalam mendorong pendidikan siswa di daerah terpencil. Kemendikbud harus bersinergi dengan berbagai kementerian, seperti Kementerian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (KemenPUPR), Kementerian Pertaninan, serta Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Selain berkoordinasi antarkementerian, Kemendikbud juga berkoordinasi dengan sektor swasta. Ia menegaskan, sektor swasta diharapkan juga membantu memajukan sekolah yang berada di daerah 3T, yaitu tertinggal, terdepan dan terluar.
“Masalah yang pemerintah hadapi saat ini adalah mempercepat penggunaan teknologi di sekolah yang masih tertinggal,” tutur Muhadjir. Ia mencontohkan, sebuah sekolah di Pulau Seram, Maluku, baru dapat diakses setelah melalui delapan jam perjalanan dengan perahu.

Kemudahan mengakses fasilitas pendidikan masih belum merata di berbagai daerah, apalagi terhadap teknologi. Siswa-siswa di daerah terpencil dinilai harus bekerja dua kali lipat lebih keras untuk mengejar ketertinggalan mereka di bidang teknologi pendidikan dengan siswa di perkotaan.

Beberapa kolaborasi telah dilakukano pemerintah dengan swasta adalah misalnya dengan Samsung Electronics Indonesia yang meluncurkan kelas berbasis teknologi, dengan nama Samsung Smart Learning Class (SSLC).

Peluncuran tersebut dilakukan di empat sekolah, yaitu SMA Pangudi Luhur Jakarta, Brawijaya Smart School Malang, SMA Plus Negeri 17 Palembang, dan SMA Islam Al-Azhar 12 Makassar. Peluncuran itu merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial (CSR) Samsung.

President Samsung Electronics Indonesia Jae Hoon Kwon menyatakan, penggunaan teknologi dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dapat membantu guru menyampaikan materi secara interaktif dan menarik. Sedangkan siswa dapat memahami pelajaran dengan lebih baik dan menyenangkan.

Adapun fasilitas yang diberikan adalah ruang kelas bervasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK), 31 unit Samsung Galaxy Tab A dengan S Pen, 2 unit Samsung Smart TV 55 inci, perangkat Gear VR, dan koneksi internet. Kelas tersebut juga akan mengadakan ekstrakurikuler Coding Class untuk memberikan keterampilan coding sejak SMA.

ELSA EMIRIA LEBA UNTUK KOMPAS–Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (kiri) dan President Samsung Electronics Indonesia Jae Hoon Kwon (kanan) dalam acara Kampanye Kepedulian terhadap Pendidikan dan Teknologi “Edukasi Awal Inspirasi” oleh Samsung, di Jakarta, Selasa (20/3)

Vice President Samsung Electronics Indonesia Kang Hyun Lee menambahkan, Samsung juga memasang fitur tambahan, yaitu penyaring konten dan situs yang berbahaya jika diakses siswa. Namun, pengaturan jenis konten dan waktu akses diserahkan seluruhnya kepada sekolah yang bersangkutan.

“Samsung mungkin akan membangun SSLC di 40-50 kota, setidaknya di setiap kota memiliki satu contoh SSLC,” kata Kang. Pemilihan sekolah dilakukan berdasarkan antusiasme dan program sekolah yang keberlanjutan, yaitu program jangka panjang yang meningkatkan mutu pendidikan siswa.

Pendekatan belajar berubah, tetapi guru kebanyakan dibesarkan tanpa teknologi sehingga ada gap pengetahuan mengenai teknologi

Sekolah yang memiliki SSLC juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lainnya dan sumber informasi bagi komunitas sekitar mengenai penggunaan teknologi untuk kegiatan belajar mengajar.

Kepala Kantor Yayasan Pangudi Luhur (YPL) Pusat Bruder Gregorius Bambang Nugroho menyebutkan, penggunaan teknologi untuk pembelajaran harus menjunjung nilai-nilai kehidupan. Dengan kata lain, guru dan murid harus memiliki kematangan emosional dan kebijaksanaan dalam menggunakannya.

“Teknologi harus digunakan untuk memecahkan masalah dan menjalin relasi yang bermakna. Kami sebagai pendidik berupaya mengutamakan pendidikan karakter dan komunikasi untuk membangun anak bangsa yang berbudi, beriman dan beramal,” tuturnya.

Guru tidak tergantikan
Kepala Sekolah SMA Pangudi Luhur Jakarta Bruder Albertus Suwarto mengatakan, siswa saat ini merupakan generasi Y dan Z yang lahir ketika teknologi telah maju. Sedangkan, guru kebanyakan merupakan generasi yang lebih lama.
“Pendekatan belajar berubah, tetapi guru kebanyakan dibesarkan tanpa teknologi sehingga ada gap pengetahuan mengenai teknologi,” katanya. Sekolah-sekolah masih beradaptasi untuk menemukan metodologi mengajar yang tepat agar guru tidak gagap saat mengajar.

Vice President Samsung Electronics Indonesia Kang Hyun Lee mengatakan, dalam meningkatkan mutu guru Indonesia, Samsung telah memberikan pelatihan kepada 10.000 guru dan menargetkan mencapai 50.000 guru pada tahun ini.
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas Kemendikbud Purwadi Sutanto menambahkan, kendati demikian, peran guru tidak akan bisa digantikan oleh teknologi dalam hal mendidik anak untuk memiliki karakter yang baik. (DD13)

Sumber: Kompas, 20 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

NASA Luncurkan Wahana Pencari Tanda Kehidupan di Mars

Mars kini menjadi tujuan eksplorasi sejumlah negara dalam beberapa waktu terakhir. Setelah UEA dan China, ...

%d blogger menyukai ini: