Pelanggaran Etika; Dua Peneliti Universitas Jember Hadapi Sidang

- Editor

Rabu, 2 April 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua dosen dan peneliti dari Fakultas Pertanian dan Fakultas Ekonomi Universitas Jember, Jawa Timur, akan dikenai sanksi setelah menghadapi sidang etik. Mereka diduga melakukan penelitian tanpa prosedur yang benar. Selain itu, kedua dosen itu dituding melakukan pelanggaran etika karena menggunakan nama lembaga penelitian tanpa pemberitahuan kepada pimpinan universitas atau pimpinan lembaga penelitian itu.

Menurut Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jember (Lemlit Unej) Achmad Subagyo, di Kampus Unej, Tegalboto, Jember, Selasa (1/4), komisi etik universitas segera bersidang dan memanggil kedua peneliti itu, yaitu RH dan Sis. Hasil kajian dari penelitian yang dilakukan kedua dosen itu mengatasnamakan Lemlit Unej.

”Apa yang dilakukan dua dosen itu merupakan bentuk pelanggaran berat sehingga akan dikenai sanksi,” kata Achmad Subagyo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kasus ini berawal dari niat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember yang ngotot ingin menjual aset dua bidang tanah senilai sekitar Rp 27,6 miliar. Untuk menyetujui penjualan aset itu, Komisi A DPRD Jember memerlukan kajian.

Hasil kajian kedua dosen itu, yaitu RH dan Sis, menyatakan, aset milik Pemkab Jember yang berada di Kelurahan Bintoro dan Kelurahan Sumbersari layak untuk dijual tanpa pertimbangan lain. Artinya, hasil kajian kedua peneliti itu tidak menawarkan opsi atau pertimbangan lain, kecuali untuk dijual.

Ketua Komisi A DPRD Jember M Jufriadi menambahkan, saat menerima hasil kajian dari Lemlit Unej, ia merasa curiga karena tidak ada tanda tangan penanggung jawab. Untuk memastikan apakah hasil kajian itu dari lembaga penelitian, pihaknya akan mengundang ketua Lemlit Unej pada rapat dengar pendapat.

”Anehnya lagi, hasil kajian Lemlit Unej yang diserahkan kepada kami secara resmi sekarang diambil lagi oleh pemkab melalui pendamping Komisi,” kata Jufriadi.

Achmad Subagyo menambahkan, permohonan penelitian kepada Lemlit Unej pasti melalui penawaran kontrak. ”Kami nanti menugaskan dosen peneliti untuk melakukan penelitian,” ujarnya.

Akan tetapi, apa yang dilakukan pemerintah kabupaten dan kedua peneliti itu tanpa pemberitahuan atau penawaran kepada Lemlit Unej. Mereka mengabaikan prosedur pembuatan penelitian. (sir)

————

Penelitian Pelepasan Aset Langgar Prosedur dan Etika Lemlit Unej

Penelitian yang menjadi dasar rekomendasi pelepasan dua aset tanah Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, ternyata melanggar prosedur dan etika. Penelitian ini terancam dimulai dari nol kembali.

Adanya pelanggaran etika dan prosedur ini dikemukakan Ketua Lembaga Penelitian Universitas Jember, Prof. Dr. Achmad Subagyo, Selasa (1/4/2014) malam. Penelitian ini dikerjakan dua dosen, yakni Rudi Hartadi dan Siswoyo. “Penelitian itu dilakukan Maret kemarin,” kata Subagyo.

Pemerintah Kabupaten Jember meminta agar ada penelitian mengenai perlunya pelepasan dua aset, yakni eks tanah bengkok Kelurahan Bintoro dan eks tanah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Sukorejo. Pemkab sudah mengalokasikan pemasukan Rp 27 miliar dari penjualan dua aset itu untuk pendapatan asli daerah 2014.

Secara prosedural, menurut Subagyo, seharusnya Pemkab Jember melayangkan penawaran terlebih dulu kepada Lemlit. Dari situ, Lemlit menugaskan beberapa dosen untuk melakukan penelitian sebagaimana kebutuhan Pemkab Jember.

Pemkab Jember bisa saja memberikan tugas kepada dosen secara individu. “Itu boleh sebagai bagian dari kebebasan akademik, di mana dosen bisa melakukan penelitian,” kata Subagyo. Namun dalam pelaporannya, dosen bersangkutan tak boleh menggunakan nama institusi Lemlit atau Unej.

Prosedur ini yang tidak dilakukan oleh Pemkab Jember. Tidak ada penawaran atau pengajuan kerjasama yang masuk. Ini berujung pada pelanggaran etika. Dosen yang melakukan penelitian tidak memberikan laporan terlebih dulu kepada Subagyo sebagai ketua Lemlit Unej.

Lemlit Unej lantas meminta kepada Pemkab Jember untuk mengikuti prosedur yang ada. “Janjinya hari ini mereka menyelesaikan (ketentuan prosedur),” kata Subagyo.

Selanjutnya, Lemlit akan melakukan kajian atas penelitian yang sudah dilakukan. Jika memang dirasakan tim kajian Lemlit ada yang kurang dari hasil penelitian tersebut, maka penelitian bisa diulang dari awal.

Sejauh ini, Subagyo melihat ada kekurangan dalam penelitian tersebut. “Hasil penelitiannya terkesan saklek, bahwa aset layak dilepas,” katanya.

Padahal, menurut Subagyo, dalam laporan hasil penelitian, peneliti harus memberikan opsi-opsi berikut implikasi yang muncul jika opsi itu diambil. “Misalkan, kalau aset ini disewakan, apa implikasi positif dan negatifnya. Begitu juga kalau misalkan aset ini dijual, apa implikasinya. Dengan begitu itu bisa menjadi dasar pertimbangan Pemkab Jember dalam mengambil keputusan,” katanya. [wir]

Reporter : Oryza A. Wirawan

Jember (beritajatim.com) – Selasa, 01 April 2014 22:58:05

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 31 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB