Home / Berita / pelacuran anak; ”Sweetie” Menjaring Paedofil

pelacuran anak; ”Sweetie” Menjaring Paedofil

NAMANYA Sweetie. Usianya 10 tahun. Gadis berwajah sendu dari Filipina ini berhasil menjaring 1.000 orang dari 71 negara yang diduga keras sebagai predator seks daring. Namun, sebenarnya Sweetie tak pernah ada.

Sweetie adalah sosok animasi komputer yang sangat canggih, diciptakan satu tim dari Terre des Hommes (TDH). Ia menjadi bagian kampanye penyadaran masyarakat akan seriusnya masalah wisata seks anak melalui webcam (WCST).

Sweetie digunakan untuk menjaring predator WCST, yang terbiasa mencari anak-anak melalui jaringan media sosial dan ruang obrol di dunia maya (chat room). Mereka sering menggunakan nama lain secara daring untuk meminta anak-anak melakukan pertunjukan seks melalui webcam.

Selama 10 minggu beroperasi, tim riset menemukan lebih dari 20.000 predator mengontak Sweetie dari 19 ruang obrol, 1.000 di antaranya menawari uang untuk pertunjukan seks melalui webcam. Tim merekam detail seluruh pembicaraan antara calon klien dan Sweetie dari suatu tempat di pojok kota Amsterdam.

Dari Indonesia
204f6b630ea24b859b070fb9f6326f0dSelama mereka mengobrol dengan ’gadis kecil’ itu, tim peneliti dengan menggunakan media sosial berhasil mendapatkan nama, alamat IP (Internet Protocol) komputer, dan detail kontak daring dari 999 laki-laki—termasuk ayah dua anak dari Atlanta, Georgia, AS, musisi, arsitek—dan satu perempuan.

Menurut Leonarda AI Kling, Perwakilan Regional TDH di Jakarta, Rabu (15/1), detail identitas itu diserahkan ke Interpol, FBI, Europol, dan lembaga-lembaga kepolisian lokal. Tim juga menjelaskan seluruh prosesnya. ”Tiga dari 1.000 itu terdeteksi dari Indonesia,” ujar Kling.

Seperti diamati Dr Irwanto dari Pusat Kajian Perlindungan Anak Universitas Indonesia, Indonesia merupakan salah satu pengunggah pornografi di internet tertinggi di dunia. ”Tujuh kali lebih tinggi dibandingkan China,” ujar dia.

Potensi WCST di Indonesia cukup besar. Riset TDH di Jakarta, Bandung, dan Surabaya tentang anak yang dilacurkan menunjukkan, hampir semua korban yang diwawancara mendapatkan klien secara langsung melalui media sosial atau telepon pintar, atau melalui germo, yang juga menggunakan media sosial untuk mencarikan klien.

Polri serius
Pihak Kepolisian Negara RI, menurut Komisaris Besar Rachmad Wibowo, Kasubdit Cyber Crime Mabes Polri, masih melakukan penelusuran atas informasi TDH. ”Kami sudah menghubungi Terre des Hommes Asia dan sudah menghubungi Interpol. Kami sedang menanyakan IP-nya,” ujar Wibowo.

Kendati demikian, mengetahui IP saat seseorang membuka internet, bukan berarti bisa langsung menangkap pelaku, karena, ”Jika seseorang menggunakan proksi, ia bisa menggunakan IP orang lain atau organisasi. Dunia internet ini dunia maya, dunia anonymous. Orang bisa memalsu dirinya.”

Namun, pemalsuan tak selalu berhasil. Pekan lalu polisi Belanda menangkap seorang laki-laki yang terbukti menggunakan webcam untuk pertunjukan seks anak. ”Di ruang obrol, ia berlaku seperti anak 13 tahun,” ungkap Kling. ”Lebih dari 100 anak jadi korbannya.”

Polisi menemukan pelaku dari laporan orangtua seorang anak laki-laki usia 12 tahun. Anak itu mengobrol dengan ”anak perempuan usia 13 tahun” di ruang obrol dan terkejut karena obrolan itu mengarah ke pornografi. Polisi kemudian masuk ke ruang obrol dan menyelidiki lebih lanjut. Dari situ polisi menemukan rumah pria tersebut dan menggeledahnya. Di sana, mereka mendapatkan banyak materi pornografi di komputer.

”Di Belanda, kepemilikan barang pornografi yang melibatkan anak adalah pelanggaran. Hanya paedofil atau predator seks yang melakukannya,” sambung Kling.

Polri juga menanggapi serius persoalan itu. Menurut Wibowo, pelaku bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Husni Amiruddin, Communication Officer TDH, menambahkan, kepemilikan barang pornografi bisa dijerat dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2012 tentang Protokol Opsional Konvensi Hak Anak mengenai Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak.

”Bisnis keluarga”
Gagasan tentang Sweetie dimulai tahun 2012 ketika TDH melakukan riset mengenai para korban pornografi anak secara daring di Filipina. Riset dituangkan dalam 65 lembar laporan yang mengungkap latar belakang dan konsekuensi psikologis korban WCST di Filipina. TDH berdiri tahun 1965, bekerja untuk hak anak, dan 20 tahun terakhir melawan kejahatan kriminal anak yang dilacurkan di Asia Tenggara.

Bukti pertama korban WCST ditemukan pertengahan tahun 2012. ”Di banyak tempat di Filipina, WCST seperti ’cottage industry’, untuk tambahan pendapatan keluarga. Seluruh keluarga, bahkan komunitas, terlibat di dalamnya,” ujar Kling.

Untuk membayar pelayanan yang akan didapatkan, predator menggunakan jasa lembaga keuangan non-bank internasional yang tak mudah dideteksi. Pertunjukan seks melalui webcam baru dilakukan setelah bukti pembayaran dikirim lewat internet.

Salah satu responden dalam penelitian yang dilakukan TDH di Cebu, Full Screen on View (2013), adalah Maria (13), yang tinggal di kawasan kumuh di Ibabao di Distrik Cordoba, Cebu. Bertindak sebagai mucikari adalah orangtuanya.

”Lama-lama, anak merasa menjadi gadis yang baik, karena melakukan itu untuk menyelamatkan keluarganya. Ini lebih sulit merehabilitasinya,” ujar Kling.

Predator seks yang dijaring Sweetie hanya yang berbahasa Inggris. ”Bagaimana dengan yang berbahasa Korea, Jepang, China, dan lain-lain?” kata Kling. ”Persoalan sebenarnya jauh lebih besar dari yang kita duga.” (*) Oleh: Maria Hartiningsih dan Brigitta Isworo L

Sumber: Kompas, Januari 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: