Home / Berita / Obat Ebola Diuji Coba di Liberia

Obat Ebola Diuji Coba di Liberia

Obat bagi orang terinfeksi virus ebola diuji coba Dokter Lintas Batas (MSF) di Liberia, satu dari tiga negara dengan sebaran ebola terbanyak di Afrika Barat selain Guinea dan Sierra Leone. Antivirus brincidofovir ditargetkan diuji coba kepada 100 pasien sukarela.


Para ilmuwan Universitas Oxford, Inggris, yang memimpin riset berharap hasilnya diketahui beberapa bulan ke depan. Terapi sejenis menggunakan obat yang mirip, favipiravir, dimulai di Guinea Desember 2014. Upaya internasional yang melibatkan WHO, MSF, perusahaan obat, dan organisasi kesehatan bertujuan menemukan terapi yang pas bagi wabah ebola yang telah membunuh lebih dari 8.000 orang. ”Kami mencoba beberapa pendekatan berbeda secara simultan di tengah peluang singkat mengatasi virus selama kejadian luar biasa ini,” kata Prof Peter Horby, salah satu investigator utama dari Universitas Oxford, seperti dikutip BBC News, Rabu (7/1). Brincidofovir dipilih karena efektif melawan sel-sel yang terinfeksi ebola di laboratorium. (BBC/GSA)
——————
Kehamilan Tidak Diinginkan Menguat

Kasus kehamilan tidak diinginkan di Indonesia kian menguat. Kasus terbesar terjadi pada anak dengan usia rata-rata 17 tahun. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, jumlah kehamilan tidak diinginkan pada anak dengan rentang usia sekitar 10 tahun mencapai 240.000 kasus atau 4,8 persen dari 5 juta kelahiran per tahun. Kasus kebanyakan menimpa anak di jenjang pendidikan sekolah dasar. ”Tren kehamilan tidak diinginkan ini harus dilakukan antisipasi. Di dalamnya termasuk terjadinya kasus kehamilan yang disebabkan incest (termasuk oleh orangtua kandung terhadap anaknya),” ujar Khofifah saat berkunjung ke Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (7/1). Berdasarkan data Kemensos, kasus kehamilan tidak diinginkan terbanyak terjadi pada umur 17 tahun. Jumlahnya mencapai 2,09 juta atau sekitar 41,8 persen dari rata-rata jumlah kelahiran 5 juta per tahun di Indonesia. Kehamilan tidak diinginkan akan melahirkan anak yang tidak diinginkan. Anak-anak tersebut ditemukan di tempat-tempat tak seharusnya, seperti tempat sampah, saluran air, dan sebagian berakhir di panti asuhan yang dikelola pemerintah ataupun swasta. (NIK)

Sumber: Kompas, 9 Januari 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: