Home / Berita / Nikmat Kopi Liberika Lahan Gambut

Nikmat Kopi Liberika Lahan Gambut

Beragam inovasi pengolahan lahan gambut tanpa membakar bisa meningkatkan kesejahteraan warga. Salah satunya adalah budidaya kopi liberika. Hal itu sekaligus menjaga ekosistem gambut agar tidak dilanda kebakaran hebat.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Transmigran di Desa Gandang Baru, Kabupaten Pulang Pisau, sudah mengolah kopi di tanah gambut sejak mereka datang pada 1982. Kopi liberika menjadi salah satu jenis yang paling banyak ditanam meski saat ini sebagian besar diganti karet dan sawit oleh generasi penerusnya.

Kopi liberika (Coffea liberica) sempat menjadi komoditas yang populer puluhan tahun lalu di lahan gambut di Kalimantan Tengah yang ditinggalkan karena sulitnya mengolah lahan tersebut. Komoditas itu dihidupkan kembali dengan cara pengolahan tanpa membakar.

Salah satu sosok yang menghidupkan kembali adalah Sujarno (75), warga Gandang Barat, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah (Kalteng). Ia generasi pertama warga kampung transmigran di kabupaten itu yang datang bersama ratusan keluarga lain pada 1982.

Pria lanjut usia itu mengingat saat pertama kali menginjakkan kaki di Borneo. Mereka menghadapi lahan gambut, bentukan sisa tumbuhan ribuan tahun lalu, yang setengah membusuk dengan kandungan asam tinggi. ”Sampai sini kaget, ini tanah apa, ya, kok ditanam ini-itu mati semua. Saya hampir menangis setiap hari tidak bisa makin nasi karena tidak dapat nanam padi,” tuturnya.

Ingatan Sujarno terlempar ke masa silam, 30 tahun lalu, saat ia mulai menanam kopi liberika, bibit yang dibawanya dan banyak warga asal Malang, Jawa Timur, ke Kalteng. Tanaman itu kuat menahan asam tanah gambut.

Ia menggiling kopi liberika dengan alat penggiling buatannya. Alat itu sudah usang, tetapi masih kuat. Gagang berupa kayu dengan panjang 1 meter kian perkasa dari hari ke hari. Tempat penggilingan merupakan wadah yang dibuat dari semen, lalu ditambahi bola-bola besi bekas setang sepeda agar gilingan semen itu bisa berputar sambil berbenturan.

Lalu, terdapat corong untuk memasukkan buah kopi ke dalam. Sebelum dgiling, kopi dijemur terlebih dulu. ”Kalau sudah dibungkus, saya jual dari rumah ke rumah. Itu menjadi modal buat membeli singkong atau sayuran,” kata Sujarno.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Transmigran di Desa Gandang Baru, Kabupaten Pulang Pisau, sudah mengolah kopi di tanah gambut sejak mereka datang pada 1982. Kopi liberika menjadi salah satu jenis yang paling banyak ditanam meski saat ini sebagian besar diganti karet dan sawit oleh generasi penerusnya.

Untuk penghasilan sampingan, ia menanam 100 pohon kopi di lahan yang dibagikan kepada para transmigran seluas 2,5 hektar. Hingga kini, 38 tahun setelah kedatangan mereka ke Pulang Pisau, generasi pertama transmigran itu bertahan dengan menanam kopi. Harganya kini Rp 20.000 per kilogram.

Sujarno tidak sendiri. Desanya masuk dalam program pendampingan Badan Restorasi Gambut (BRG) karena setiap tahun terbakar. Ia dan beberapa kelompok generasi lawas lainnya didampingi BRG melalui Kemitraan.

Kurnia (29) yang menjadi fasilitator desa di Gandang Barat, desa yang jaraknya 132 kilometer dari Kota Palangkaraya, ibu kota Kalteng, misalnya, mendampingi satu kelompok perempuan beranggotakan enam orang yang memproduksi kopi dari kebun seperti milik Sujarno dan warga lainnya.

Dalam proses pembuatan produk kopi, menurut Kurnia, biji kopi disortir untuk memisahkan kulitnya dengan biji kopi. Pembersihan biji kopi tidak hanya memisahkan kulitnya dengan biji kopi, tetapi juga membuang biji kopi yang hitam atau kondisinya rusak.

Setelah biji kopi dibersihkan dengan air bersih, lalu dijemur. Kemudian, biji kopi digoreng menggunakan alat sangrai. Selama penggorengan biji kopi alat sangrai terus diputar perlahan agar biji kopi dapat matang secara merata dengan menggunakan api sedang.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Transmigran di Desa Gandang Baru, Kabupaten Pulang Pisau, sudah mengolah kopi di tanah gambut sejak mereka datang pada 1982.

Biji kopi digoreng selama lebih kurang dua jam dengan kapasitas 3 kilogram. Penggorengan dilakukan sampai biji kopi berwarna coklat kehitaman, setelah itu biji kopi dikeluarkan dari alat sangrai, kemudian didinginkan. Lalu, bubuk kopi dikemas dengan berat isi 65 gram, 150 gram, dan 200 gram. ”Kami sudah memiliki nama, yakni Kopi Sahep Gadabbar,” kata Kurnia.

Bencana asap
Sujarno mengenang, setelah tujuh tahun, mereka baru bisa beradaptasi dengan lahan gambut. Mereka membuat parit, menampung air hujan, lalu membakar sisa rumput liar. Padi pun tumbuh, kawasan transmigran itu menjadi salah satu lumbung padi Kalteng.
Menjadi lumbung padi dengan sistem pertanian yang tidak ramah lingkungan menimbulkan dampak negatif. Bencana asap terjadi hampir setiap tahun, paling parah pada 2015.

Menurut data satuan tugas kebakaran hutan dan lahan, luas total kebakaran hutan dan lahan di Pulang Pisau mencapai 83.965,3 hektar. Total luas lahan yang terbakar di Kalteng mencapai 402.799 hektar, mayoritas merupakan lahan gambut. Pulang Pisau termasuk kabupaten dengan kebakaran terluas dan terbanyak.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Bupati Pulang Pisau Edy Pratowo (dua dari kiri) melihat produk-produk olahan dari lahan gambut milik sejumlah desa peduli gambut (DPG) di Desa Garantung, Kabupaten Pulang Pisau, Kamis (13/2/2020).

Seusai kebakaran hebat itu, pemerintah melarang membuka dan menggarap lahan dengan cara membakar. Di Desa Sidodadi, selama 2015-2017 tak ada petani berladang karena takut ditangkap aparat. Itu terjadi di hampir seluruh wilayah di Kalteng. Petani bertahan dengan hasil panen tahun sebelumnya.

”Setelah larangan itu, kami termotivasi untuk mencari potensi lain yang bisa dikembangkan untuk menghasilkan uang,” kata Kepala Desa Sidodadi, Kecamatan Maliku, Pulang Pisau, Ali Usni. Larangan bakar lahan membuat sejumlah warga meninggalkan lokasi. Di Desa Paduran Jaya, Kecamatan Sebangau Kuala, dari 180 keluarga kini tinggal 150 keluarga bertahan.

Setelah larangan itu, kami termotivasi untuk mencari potensi lain yang bisa dikembangkan untuk menghasilkan uang.

Pada kondisi demikian, generasi pertama transmigran bertahan menanam kopi dan singkong. Generasi berikutnya galau karena pada saat sama harga komoditas karet dan kelapa sawit jatuh.

Revitalisasi ekonomi
Berdasarkan data Kemitraan, sedikitnya terdapat 48 produk yang dihasilkan dari lahan gambut yang ada di 46 desa peduli gambut di Kalteng, termasuk Kopi Sahep Gadabbar. Sebagian besar lahan gambut tersebut pernah terbakar.

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut Myrna Safitri mengungkapkan, program pendampingan bagi masyarakat merupakan bentuk revitalisasi ekonomi. Hasilnya diharapkan bisa untuk memelihara atau mengoperasikan infrastruktur pencegahan kebakaran lahan gambut, seperti sumur bor dan sekat kanal yang sudah dibangun.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Bupati Pulang Pisau Edy Pratowo (kanan); Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) Myrna Safitri; serta Program Manajer Kemitraan-Partnership Hasantoha melakukan panen perdana jagung hibrida di Desa Garantung, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Rabu (12/2/2020). BUMDes Garantung Makmur merupakan kelompok binaan BRG bersama Kemitraan.

Dampak lain, gambut terjaga karena mengurangi aktivitas mengolah lahan tanpa bakar. Pola ini membuat kegiatan restorasi lebih baik dan gambut terjaga. ”Jika dimanfaatkan dengan bijak, gambut menjadi lahan yang sangat produktif. Dengan revitalisasi ekonomi, masyarakat dapat untung, gambut juga terjaga,” kata Myrna.

Beragam inovasi pengolahan lahan gambut tanpa membakar berujung pada pemenuhan biaya hidup sehari-hari masyarakat, seperti sekolah anak dan biaya kesehatan. Dengan inovasi, lingkungan gambut juga terjaga.

Oleh DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Sumber: Kompas, 1 April 2020

Editor: EVY RACHMAWATI

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: