Home / Berita / Muhammad Firman Nuruddin, Kekuatan Daun untuk Energi Listrik

Muhammad Firman Nuruddin, Kekuatan Daun untuk Energi Listrik

Alam berikut dengan semua isi dan apa yang dihasilkannya memiliki kekuatan dahsyat untuk mendukung kehidupan manusia. Dengan keyakinan itulah, Muhammad Firman Nuruddin (17) tidak membiarkan dedaunan, yang telah mengering menjadi sampah dan limbah, hanya berakhir dengan dibakar atau dijadikan kompos. Dengan kreativitasnya, dia berhasil menunjukkan kekuatan lebih daun tersebut, yaitu dengan menjadikannya sebagai leaves solar cell.

Leaves solar cell adalah teknologi listrik tenaga surya dengan memakai bahan pewarna dari limbah dedaunan. Lewat inovasi tersebut, dia meraih medali emas dalam ajang International Conference of Young Scientists (ICYS) 2018 untuk kategori Environmental Science di Belgrade, Serbia, 19-25 April 2018.

ICYS diikuti sekitar 400 siswa dari 35 negara. Khusus untuk kategori Environmental Scince, Firman berhasil mengalahkan 60 peserta lain yang berasal dari 35 negara.

Limbah daun yang dipakainya adalah daun jati, daun rambutan, dan daun filicium. Tiga daun tersebut sengaja dipilih karena memiliki warna coklat kemerahan, warna tersebut adalah warna yang bisa menyerap sinar matahari secara maksimal.

Menurut Firman, warna terbaik yang dapat menyerap maksimal sinar matahari adalah warna hitam. Namun, karena sulit mencari daun dengan warna tersebut, dia memutuskan memakai daun lain yang dianggap memiliki warna gelap.

KOMPAS/ REGINA RUKMORINI–Muhammad Firman Nuruddin

Ide membuat leaves solar cell muncul dari pelajaran biologi. Dalam proses fotosintesis yang ada di daun, terjadi konversi dari energi cahaya menjadi energi kimia, yang berwujud karbohidrat. Proses tersebut kemudian ditelitinya lebih lanjut. Dari penelitian itu, diketahui bahwa paparan sinar matahari menimbulkan elektron-elektron pada daun berloncatan keluar dan menghasilkan energi listrik.

Dia senang bisa memanfaatkan limbah atau sampah berupa dedaunan kering. Sampah, menurut dia, sepatutnya dimanfaatkan karena masalah sampah, dengan volumenya yang berlebihan—sering kali menjadi masalah yang kerap dihadapi sejumlah kota di Indonesia.

Masih seputar sampah, Firman mengatakan, ke depan, dia pun ingin berinovasi memanfaatkan sampah plastik. Ide ini didapatkan karena berdasarkan hasil survei yang pernah dilakukan sebuah lembaga, Indonesia adalah penghasil sampah plastik ke-2 di dunia setelah China. Sampah plastik tersebut banyak mengotori lautan.

Firman adalah warga Dusun Karangrejo, Desa Kedungsari, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dia merupakan anak dari pasangan Nur Salim (44) dan Nurul Hidayah (43). Sehari-hari Nur Salim bekerja sebagai buruh serabutan dan Nurul, sejak 12 tahun lalu, menjadi tenaga kerja Indonesia, yang berpindah-pindah tempat di Malaysia dan Singapura.–REGINA RUKMORINI

Sumber: Kompas, 3 Mei 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: