Home / Artikel / Monas dan Pohon

Monas dan Pohon

Pohon merupakan masa depan kehidupan, jalan spiritual, intelektualitas, dan eksistensi kehidupan manusia di Bumi. Menanam pohon berarti menjamin keberlanjutan kehidupan kita dan kota.

Penebangan pohon yang secara masif dilakukan pemerintah DKI Jakarta demi revitalisasi kawasan Monas justru menunjukkan ketidakpekaan pemerintah terhadap pentingnya keberadaan pohon bagi kota dan kita.

Jangan pernah anggap remeh pohon. Pohon yang tumbang atau terbakar massal dapat menimbulkan masalah lingkungan, ekonomi, sosial, budaya, hingga politik.

Banyak tafsir mengenai pohon dalam kisah etnis, mistis, dan spiritual. Pohon sebagai kawan pelindung, pembawa kearifan spiritual, kesejukan surgawi, penyubur imajinasi. Pohon adalah pusat dari kehidupan yang sakral, kiblat melihat diri hubungan antara Tuhan-manusia-alam.

Memori peradaban
Pohon mengandung memori peradaban dari akar, batang, dahan, ranting, buah, bunga, hingga pucuk daun. Di tengah fenomena pemanasan global, pohon menjadi ikon penyelamat Bumi, dipercaya membantu menahan laju perubahan iklim. Berbagai puncak perayaan atau peringatan juga banyak ditandai dengan menanam pohon.

Perda No. 8/2007 tentang Ketertiban Umum di Wilayah DKI Pasal 12 (G) menjelaskan bahwa setiap orang atau badan dilarang memotong, menebang pohon atau tanaman yang tumbuh di sepanjang jalan, jalur hijau, dan taman. Sanksi denda Rp 5-50 juta dan ancaman pidana kurungan 30-180 hari.

Sebuah pohon dihargai Rp 22,5 juta, biaya asuransi Rp 15-50 juta per pohon per tahun, biaya penanaman dan perawatan Rp 250 ribu per bulan, biaya pemeliharaan Rp 3 juta per pohon per tahun (Dinas Kehutanan dan Pertamanan, 2017).

Kawasan Monas ditetapkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) dengan peruntukan hutan kota, paru-paru kota. Tugu Monas dikeliling hamparan rumput dan pepohonan besar. Pohon di Monas menjadi oase surga kota, peneduh dan pengarah jalan, penyejuk iklim mikro, peredam pulau panas, penyerap air, habitat satwa liar, penyaring radiasi sinar matahari, ruang interaksi sosial-budaya, meningkatkan kesehatan masyarakat.

Satu pohon dewasa mampu menyediakan kebutuhan oksigen dan nitrogen untuk dua orang. Dalam sehari manusia menghirup oksigen 2.880 liter dan nitrogen 11.376 liter.

Jika harga oksigen Rp 25.000 per liter dan nitrogen Rp 9.950 per liter, maka biaya bernafas per orang Rp 185.191.200 per hari, Rp 5.555.736.000per bulan, Rp 66.668.832.000 per tahun.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Penanaman pohon di lokasi revitalisasi Plaza Selatan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Rabu (5/2/2020). Penanaman pohon tersebut dilakukan untuk mengganti pohon lama yang ditebang saat pembangunan proyek Plaza Selatan serta bagian dari penghijauan Monas.

Audit dan registrasi
Pemerintah DKI harus melakukan audit dan registrasi pohon di kawasan Monas. Pohon layak diperlakukan seperti warga kota yang memiliki kartu identitas dan terdaftar (registrasi dan identitas) sehingga letak dan kondisi pohon dapat dilacak dan diketahui statusnya.

Dengan global positioning system/GPS, peta lokasi dan data kondisi pohon sehat, sakit, atau akan tumbang diketahui secara rinci, akurat, dan terus diperbarui dalam jaringan di lapangan.

Pohon harus dirawat dan dipelihara dengan baik. Pohon sebagai makhluk hidup mengalami siklus tumbuh kembang, sehat, sakit, dan mati (usia tua, keropos, tumbang). Pohon berhak memperoleh layanan kesehatan sebagai upaya pendeteksian, pencegahan, penindakan, dan perlindungan keselamatan pohon.

Jika ada pohon yang sakit dirawat, pohon berlubang ditambal, pohon keropos atau akan tumbang segera diganti pohon baru yang lebih baik. Pemangkasan dahan, ranting, dan batang dilakukan terencana matang, dibawah pengawasan tenaga profesional, standar kinerja, kompetensi pekerjaan, sertifikasi tenaga pengawas dan pelaksana pemeliharaan.

Petakan lokasi pohon dan rencana penanaman, tema (identitas lokal, nama kawasan, habitat satwa liar), fungsi ekologis, pemilihan lokasi (pertimbangan perancangan, teknik pemeliharaan). Pohon dapat diasuransikan pemerintah dan diadopsi warga.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Pekerja Suku Dinas Kehutanan Jakarta Pusat menanam pohon Tabebuya (Tabebuia rosea) di jalur hijau trotoar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (11/11/2019). Penanaman pohon ini merupakan rangkaian revitalisasi trotoar di kawasan tersebut yang meliputi pembangunan trotoar, relokasi utilitas udara ke bawah tanah dan peremajaan pepohonan. Peremajaan dari pohon Angsana menjadi pohon Tabebuya kaena proyek galian jaringan kabel dan berbagai proyek lain yang mengakibatkan putusnya perakaran. Dikhawatirkan, pohon tumbang saat musim hujan sehingga Pemprov DKI Jakarta mengganti pohon di sana dengan Tabebuya yang dapat menyerap polutan, meskipun sejumlah pihak masih menyangsikan efektivitasnya dibanding Angsana.

Pohon harus didapat dari hasil pembibitan biji-bijian. Pohon dari biji membutuhkan waktu lebih lama untuk siap tanam tetapi memiliki akar tunggang lebih kokoh.

Pemilihan jenis pohon harus mempertimbangkan kondisi media tumbuh, lingkungan, silvikultur, sifat biologi, estetika, dan fungsi ekologis. Pohon lokal lebih kuat, tidak mudah roboh, tumbang, atau patah, berusia panjang, karakter batang besar, tegak, dan akar tidak merusak.

Pohon ditanam multi-strata. Strata pertama pohon penjerapan polutan partikel, strata kedua dan ketiga pohon penjerapan polutan gas. Ini untuk menghindari gangguan proses ekofisiologi pohon, di mana pohon cenderung terpapar polutan tinggi yang mengganggu proses metabolisme tanaman, sehingga polutan diterima terbagi rata pada lapisan tanaman, meminimalkan kadar polutan lingkungan, mengurangi stres pohon, hingga menambah nilai estetika.

Identitas kota
Penanaman pohon di hutan kota Monas disesuaikan dengan identitas kota Jakarta. Di Utara, ada Asemka/asem (Tamarindus indica), Mangga Besar (Mangifera indica), Marunda (Mangifera laurina), (Sunda) Kalapa (Cocos nucifera), Kelapa Gading (Cocos capitata), Kapuk (Ceiba petandra) dan (Roa) Malaka (Garicinia cornea).

KOMPAS/RIZA FATHONI–Petugas Pusat Pengelolaan Komplek (PPK) Hutan Kota Kemayoran, Jakarta Pusat menanam pohon sebagai bagian dari acara “Polisi Peduli Penghijauan” di kawasan hutan tersebut, Jumat (10/1/2020). Kawasan Hutan Kota Kemayoran dikembangkan dengan konsep “Three Wonderful Journeys” dengan memadukan jalur hutan, ekspedisi mangrove dan taman bermain air. Hutan Kota Kemayoran berfungsi sebagai paru-paru kota, ruang terbuka hijau dan sarana bagi masyarakat untuk menikmati sarana rekreasi, konservasi dan edukasi.

Di Barat, ada Kosambi (Schleichera oleosa) dan Srengseng (Pandanus caricosus). Untuk Pusat, ada Gambir (Uncaria gambir), Menteng (Baccaurea racemosa), Karet (Ficus elastica), Cempaka Putih (Michelia alba).

Di Timur, ada Condet/Ci Ondet/Ondeh (Antidesma diandrum), Bidara (Cina) (Zizyphus jujuba), Jatinegara/Jati Nagara (Tectona grandis). Di Selatan memiliki Kemang (Mangifera caecae), Kebayoran/Bayur (Pterospermum javanicum), Bintaro (Cerbera manghas).

Pohon merupakan masa depan kehidupan, jalan spiritual, intelektualitas, dan eksistensi kehidupan manusia di Bumi. Menanam pohon berarti menjamin keberlanjutan kehidupan kita dan kota.

(Nirwono Joga Pusat Studi Perkotaan)

Sumber: Kompas, 15 Februari 2020

Share
x

Check Also

Covid-19, Buah Manusia Eksploitasi Satwa Liar

Pandemi penyakit Covid-19 sejatinya adalah juga buah perilaku manusia yang mengeksploitasi satwa liar. Virus korona ...