Home / Artikel / Mitigasi Bencana Gempa Sepanjang Sistem Sesar Sumatera

Mitigasi Bencana Gempa Sepanjang Sistem Sesar Sumatera

DAMPAK dramatis, baik dari segi psikologis maupun sosial ekonomi, bencana gempa Kerinci tanggal 7 Oktober 1995 yang lalu sampai saat ini masih sangat dirasakan oleh masyarakat daerah bencana. Salah satu penyebab dampak yang berkepanjangan ini adalah sifat dari bencana gempa itu sendiri yang dramatis, berlangsung dalam waktu yang sangat singkat tapi mengakibatkan tingkat kerusakan yang sangat besar.

Menurut majalah Stop Disaster No. 12 Maret 1993, selama tahun 1900-1992 telah terjadi 1.220 gempa merusak di 70 negara dan menelan hampir 1,53 juta korban jiwa. Korban jiwa terbesar terjadi pada negara-negara berkembang akibat usaha mitigasi dan dukungan teknologi yang masih sangat kurang.

Dalam tulisan kami di Kampas 10 Oktober 1995 di mana telah kami terangkan mengenai kemungkinan timbulnya gempa besar pada kelompok segmen Singkarak-Kerinci-Seblat dan Kepahiang antara tahun 1995-1997, telah kami singgung juga mengenai pentingnya usaha mitigasi yang baik terhadap bencana gempa sepanjang segmen Sistem Sesar Sumatera. Hal ini dikarenakan sifat pergeseran sesar Sumatera yang sangat aktif, yaitu antara 6 mm/tahun di daerah Liwa sampai 27 mm/ tahun di daerah Tarutung, akan selalu mangakibatkan terjadinya gempa pada periode waktu tertentu sepanjang segmen sesar
Sumatera tersebut.

Pemodelan fraktal yang kami lakukan menunjukkan bahwa sistem sesar aktif Sumatera terbagi atas 11 segmen yang berdasarkan dimensi fraktalnya dapat dikelompokkan lagi menjadi tiga bagian, yaitu kelompok pertama dengan dimensi fraktal D= 1.001.02 terdiri atas segmen Singkarak-Kerinci-Seblat dan Kepahiang; kelompok kedua dengan D=1.061. 15 (terdiri atas segmen Aceh, Toru/Tarutung, Asik/Padangsidempuan dan Muaralaboh); dan kelpmpok ketiga dengan D=1.191.24 terdiri atas segmen Alas, Ranau/ Liwa dan Semangko (Gambar 1).

Relatif konstan
Pemodelan fraktal juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang relatif konstan antara dimensi fraktal dan perioda terjadinya gempa besar (magnitude > 5 skala Richter) sehingga memungkinkan dilakukannya pendugaan jangka panjang (jangka waktu tahunan) kapan dan di mana terjadinya gempa besar sepanjang ke-11 segmen sesar Sumatera tersebut.

Sebagai contoh pada kelompok pertama gempa besar terjadi Setiap 4-6 tahun pada salah satu segmen kelompok tersebut. Gempa besar terakhir pada kelompok ini terjadi di segmen Seblat pada bulan November 1990, sehingga pada tahun 1994-1996 akan terjadi gempa besar lagi pada salah satu kelompok segmen ini dan kemungkinan besar terjadi pada segmen Kerinci karena selama kurun waktu data pemodelan (1965-1994) belum pernah terjadi gempa besar pada segmen Kerinci ini sehingga di sini terjadi penumpukan energi paling besar.

Pendugaan ini terbukti benar dengan terjadinya gempa Karinci tanggal 7 Oktober 1995. Pada kelompok kedua gempa besar terjadi setiap 6-8 tahun. Gempa terakhir pada kelompok ini terjadi pada segmen Aceh tanggal 12 September 1990, sehingga kemungkinan akan terjadi gempa besar lagi pada salah satu segmen kelompok ini antara tahun 1996-1998. Karena pada kelompok ini segmen Muaralaboh belum pernah terkena gempa, maka gempa tersebut kemungkinan besar akan terjadi pada segmen ini.

Pada kelompok ketiga gempa besar terjadi setiap 10-13 tahun. Gempa terakhir pada kelompok ini terjadi pada segmen Liwa 15 Februari 1994, sehingga kemungkinan akan terjadi gempa besar lagi pada salah satu segmen kelompok ini adalah antara tahun 2004-2007 dan kemungkinan akan terjadi pada segmen Semangko karena segmen ini relatif belum pernah terkena gempa besar.

Peta rinci
Selain kemampuan melakukan pendugaan bilamana dan di mana terjadinya gempa, salah satu aspek yang lebih panting dalam mitigasi bencana gempa adalah pembuatan peta rinci lintasan sesar aktif yang akan menimbulkan bencana gempa. Dari peta ini kemudian dapat dilokalisir daerah potensi bahaya sehingga dapat digunakan untuk membantu usaha mitigasi, baik sebelum terjadi bencana (relokasi, penguatan konstruksi, pendidikan masyarakat mengenai aspek bencana, dll), maupun sesudah bencana (evakuasi, rekonstruksi, restrukturisasi, dan lain-lain).

Sebenarnya dapat diperlihatkan peta semi detail lintasan sesar aktif pada beberapa segmen sesar Sumatera, yaitu segmen Kerinci, Singkarak, Muaralaboh, Ranau/Liwa dan Semangko. Terlihat bahwa kerusakan terberat akibat gempa Kerinci terjadi pada daerah-daerah yang terletak tepat di atas lintasan sesar aktif segmen Kerinci tersebut, misalnya daerah Sungai penuh, Semurup, G. Kerinci dan lain-lain. Demikian juga bila memang terjadi gempa di segmen Muaralaboh dan Semangko, maka kerusakan terberat akan terjadi pada daerah-daerah yang dilalui lintasan sesar aktif segmen tersebut. Selain peta rinci lintasan sesar aktif, sangat diperlukan juga peta geologi rinci daerah potensi bahaya, sebab sering kondisi geologi lokal sangat mempengaruhi tingkat kerusakan yang terjadi.

Sebagai contoh daerah Liwa, dimana terjadi gempa Liwa tanggal 15 Februari 1994 yang lalu dan menelan korban jiwa hampir 100 orang, selain terletak tepat di atas lintasan sesar aktif, segmen Ranau/Liwa, dia juga terletak pada daerah endapan tufa. Endapan tufa ini, yang merupakan endapan hasil letusan gunung berapi, bersifat lunak dan akan memperbesar percepatan vertikal akibat gempa sampai dengan 1,5 kali dibandingkan pada batuan keras. SeIain itu endapan tufa ini juga rentan terhadap fenomena likuifaksi yaitu batuan tersebut akan berubah sifat seperti cairan plastis akibat meningkatnya secara mendadak tekanan air pori pada batuan akibat gelombang gempa sehingga melebihi kekuatan geser batuani tersebut dan menyebabkan endapan ini sangat mudah longsor. Padahal sebenarnya apabila kota Liwa tersebut terletak 10 km saja sebelah barat (ke arah Krui) dari pasisinya pada waktu terkena gempa tersebut, maka kemungkinan kerusakan yang terjadi tidak akan sehebat itu, karena dia akan terletak pada daerah dengan batuan yang cukup keras dan cukup jauh dari lintasan sesar aktif segmen Liwa.

Jadi sebenarnya dari segi sosial-ekonomi kemampuan memetakan secara rinci lintasan sesar aktif dan kondisi geologi lokal daerah potensi bahaya ini jauh lebih penting artinya daripada kemampuan memperkirakan waktu terjadinya gempa, karena peta ini kemudian dapat dijadikan sebagai acuan pengembangan wilayah terkait untuk memperkecil tingkat kerugian akibat bencana gempa.

Rumah tahan gempa
Penelitian juga menunjukkan bahwa 70 persen dari korban jiwa yang terjadi pada suatu bencana gempa, umumnya diaklbatkan karena tertimpa runtuhan bangunan. Oleh karena itu salah satu hal utama yang harus diprioritaskan pada mitigasi bencana gempa adalah dengan menyebarluaskan pengetahuan mengenai cara membangun rumah tahan gempa dengan biaya murah.

Majalah Stop Disaster No.12 Maret-April 1993 sebenarnya memuat gambar-gambar contoh teknik tradisional konstruksi rumah tahan gempa yang direkomendasikan oleh The United Nations International Decade for Natural Disaster Reduction. Contoh diambil dari perumahan masyarakat Kepulauan Lefka yang terletak di salah satu daerah gempa bumi teraktif di Yunanai. Pada tahun 1825 daerah Kepulauan Lefka ini diguncang gempa dahsyat yang menghancurkan seluruh bangunan di wilayah ini kecuali di kota Lefka sendiri yang menggunakan teknik konstruksi ini. Teknik konstruksi tersebut kemudian diadopsi oleh instansi yang berwenang dan disebarluaskan secara nasional. Sampai saat ini teknik konstruksi tersebut masih umum dimanfaatkan oleh penduduk di daerah Lefka dan menunjukkan penampilan yang memuaskan meskipun telah sering diguncang gempa dengan magnitudo 7-7,5 skala Richter.

Rancang bangun rumah tahan gempa ini desain strukturnya konservatif dan simetris. Dinding lantai bawah dibangun dari batubata (tembok), sedangkan lantai atas terutama dari kayu. Pada bagian dalam tembok lantai bawah, dipasang lapisan penguat dari kayu yang paralel dengan tembok tersebut. Fungsi penguat in sebagai penahan cadangan, sehingga bila tembok bagian luar runtuh diguncang gempa, bangunan kayu lantai dua tetap tertopang oleh lapisan penguat ini. Konstruksi seperti ini memanfaatkan keunggulan dari dinding tembok, yaitu kekuatan bidangnya, aksi, diafragma, biaya yang relatif murah keamanan dan keindahan.

Teknik khusus penghubungan rangka juga dipakai di sini. Dengan teknik ini maka guncangan gempa baik vertikai maupun horisontal, dapat diserap dengan baik oleh sambungan-sambungan rangka tersebut. Rangka kayu sendiri mempunyai kuat tarik yang relatif lebih tinggi dan bersifat ductile sehingga sangat baik meredam energi gempa. Selain konstruksi rumah tinggal, satu aspek penting lainnya adalah pengontrolan tingkah laku penghuni rumah itu sendiri. Adalah penting untuk tetap tenang pada saat terjadi gempa. Bila di dalam bangunan, usahakan untuk berlindung di bawah suatu struktur yang kuat seperti tempat tidur dan meja dan jangan dekat-dekat dengan lemari, rak buku, jendela, cermin atau barang mudah pecah/runtuh lainnya dan hati-hati dengan benda-benda yang berjatuhan. Selain itu sebaiknya ukuran barang-barang yang ada dalam rumah janganlah terlalu tinggi, unsur material utamanya kayu dan pergunakan sedikit mungkin material mudah pecah. (Sigit Sukmono, staf pengajar Teknik Geofisika Geologi ITB. MT Zen guru besar geofisika ITB dan deputi Ketua BPPT)

Sumber: Kompas, Kamis, 9 November 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: