Home / Berita / Misteri Virus Korona di Indonesia

Misteri Virus Korona di Indonesia

Keberadaan virus baru korona masih menjadi tanda tanya di Indonesia. Kita tentu berharap, virus baru ini belum bersirkulasi di negeri ini, namun kita juga harus bersiaga terhadap kemungkinan terburuk.

KOMPAS/LASTI KURNIA–Ditengah kekhawatiran dengan ancaman virus Korona jenis baru (Covid-19), gairah berwisata tampak tak surut terlihat dari ramainya pengunjung di acara BCA Travel Fair di Gandaria City Mall, Jakarta. Jumat (14/2/2020). Acara yang berlangsung hingga 16 Januari 2020 tersebut bekerjasama dengan Singapore Airlines dan tujuh travel agent yaitu Golden Rama, Aviatour, Wita Tour, Dwidata, Bayu Buana, Smailing Tour, dan Panorama Tour.

Jepang telah mengumumkan kematian pertamanya dari seseorang yang terinfeksi virus korona baru di negara itu. Ironisnya korban, perempuan berusia 80 tahun, dipastikan positif terinfeksi korona setelah kematiannnya.

Seperti disiarkan stasiun televisi publik Jepang, NHK, pada Jumat (14/2/2020), korban yang tinggal di Prefektur Kanagawa, di selatan Tokyo, tidak pernah melakukan perjalanan ke luar negeri sebelumnya. Pejabat Kementerian Kesehatan Jepang masih melacak rute infeksi virus korona, yang baru-baru ini diberi nama SARS-Cov2.

Perempuan itu sebelumya jatuh sakit pada 22 Januari 2020 dan didiagnosis menderita radang paru-paru pada 1 Februari 2020, sebelum akhirnya dirawat di rumah sakit. Kondisinya memburuk pada hari Rabu dan dia ditemukan terinfeksi virus korona pada Kamis, setelah dia meninggal.

Menantu lelakinya, seorang sopir taksi berusia 70-an tahun, juga dipastikan terinfeksi virus itu pada Kamis. Dia sebelumnya mengeluh demam pada 29 Januari. Dia tidak pernah mengunjungi Provinsi Hubei dan Zhejiang di China dalam dua minggu sebelum menunjukkan gejala. Dia juga mengaku tidak pernah mendapat pelanggan orang asing selama periode dua minggu.

Sebelumnya, pihak berwenang Jepang mengkonfirmasi dua orang lainnya terinfeksi virus tersebut. Mereka adalah seorang dokter Jepang berusia 50-an yang tinggal di Prefektur Wakayama, Jepang barat, dan seorang pria berusia 20-an yang tinggal di Prefektur Chiba, timur Tokyo.

Dengan penambahan ini, jumlah orang yang terinfeksi virus di Jepang sekarang mencapai 251 orang, termasuk 218 orang dari kapal pesiar yang dikarantina di Pelabuhan Yokohama, dekat Tokyo. Mereka juga termasuk seorang petugas karantina yang berada di atas kapal dan 12 dari mereka dievakuasi dengan penerbangan sewaan pemerintah dari kota Wuhan di Cina.

Jepang menjadi negara ketiga di luar China yang melaporkan kasus kematian akibat virus korona, setelah sebelumnya Filipina dan Hongkong. Setelah 40 hari diumumkan keberadaannya, kasus infeksi SARS-CoV-2 terus terjadi dengan grafis kasus infeksi maupun jumlah kematian yang masih meninggi.

Hingga Jumat pagi, jumlah kasus infeksi yang terkonfirmasi mencapai 64.447 pasien dan 1.384 penderita meninggal dunia. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandinkna virus korona yang memicu radang pernapasan akut parah atau SARS yang selama wabah pada tahun 2002 hingga 2003 menginfeksi 8.098 orang di 29 negara dan menewaskan 774 orang.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjalani karantina dan observasi terkait merebaknya virus korona baru berolahraga pagi di Hanggar Lanud Raden Sadjad Ranai, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau,Jumat (14/2/2020). Selama masa observasi yang lamanya 14 hari dan akan berakhir Sabtu (15/2/2020), para WNI itu dalam kondisi sehat. Berbarengan dengan selesainya masa observasi, para WNI tersebut akan kembali di terbangkan dari Natuna ke Jakarta, yang selanjutnya bisa pulang ke rumah masing-masing.

Dipertanyakan
Kasus infeksi di Jepang ini menambah kekhawatiran global tentang ancaman infeksi SARS-CoV-2 di luar China. Jepang yang dikenal amat hati-hati dan kemampuan penapisan virus yang tak diragukan pun kecolongan. Virus ini masuk diam-diam, bersirkulasi secara domestik, hingga menelan korban jiwa.

Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut data Kementerian Kesehatan, belum ada satu pun kasus positif terinfeksi SARS-CoV-2 di Indonesia. Dari total 89 spesimen yang telah diperiksa, 84 kasus dikonfirmasi negatif, sementara lima kasus lainnya masih dalam proses.

Informasi itu tentu melegakan tapi tak menyurutkan kekhawatiran. Pemodelan yang dilakukan peneliti dari Center for Communicable Disease Dynamics, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Amerika Serikat, di jurnal MedRxiv pada 5 Februari 2020 menyebutkan, Indonesia seharusnya sudah melaporkan kasus positif korona baru, karena semua negara lain di sekitarnya yang mendapat kunjungan orang dari Wuhan, China telah melaporkannya.

Selain Indonesia, yang juga disoroti adalah Thailand dan Kamboja, yang dianggap kasus positif yang dilaporkan masih terlalu kecil. Mereka menduga, tidak adanya kasus di Indonesia, serta sedikitnya kasus yang dilaporkan di Thailand dan Kamboja, karena ada masalah dalam kemampuan deteksi.

Kajian para peneliti Harvard ini berulang kali dibantah Kementerian Kesehatan. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes Siswanto mengatakan, prosedur pemeriksaan spesimen sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Metode pengujiannya memakai panel primer dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC) serta protokol PCR (polymerase chain reaction) dan pengurutan atau sekuensing seperti dilakukan Thailand.

Namun ternyata reagen kit SARS-CoV-2 dari CDC bermasalah. Pada Rabu (12/2) mereka mengumumkan, akan mengganti 200 reagen kit yang telah digunakan di Amerika dan 200 lagi yang dikirim ke luar negeri.

Meski demikian, Siswanto meyakini, hasil tes mereka bisa dipercaya. Sebab, dalam pemeriksaan spesimen dilakukan beberapa kali pengujian dengan metode berbeda. “Dari CDC masih bisa dipakai. Jika dalam pengujian ada hasil yang inconclusive (tidak meyakinkan) akan kita uji silang dengan metode pengujian dari protokol Thailand,” ucapnya.

Fakta-fakta baru ini justru semakin mengundang tanda tanya. Prof David Handojo Muljono, Wakil Kepala Bidang Penelitian Translasional Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Riset dan Teknologi mengatakan, tidak adanya kasus infeksi di Indonesia secara ilmiah memang sulit dijelaskan.

Sebagai ahli penyakit infeksi yang dan terlibat dalam penanganan wabah flu burung beberapa tahun lalu, David tak mau berspekulasi tentang kemampuan deteksi virus baru ini yang saat ini hanya dipegang oleh Litbang Kesehatan, Kementerian Kesehatan. “Saya tidak mau komentar lembaga lain, tetapi kalau Lembaga Eijkman seharusnya mampu deteksi,” kata David.

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA–Tim gabungan dari Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Mataram Wilayah Kerja Pemenang, Syahbandar Pemenang, Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Utara, TNI Angkatan Laut dan kepolisian, memeriksa (skrining) wisatawan mancanegara yang baru tiba di Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Rabu (12/2/2020) siang. Skrining dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap merebaknya virus korona tipe baru.

Metode deteksi
Saat ini sejumlah negara telah mengembangkan metode deteksi korona baru ini, dan reagen kit yang dibuat CDC hanya salah satunya. Lembaga Eijkman misalnya menggunakan reagen dari yang lain, di antaranya dari Jerman.

Untuk meyakinkan publik internasional, maupun di dalam negeri, Lembaga Eijkman secara resmi menawarkan untuk membantu pemeriksaan. “Kami sudah berkirim surat melalui Kemenristek. Minimal menjadi laboratouum untuk uji silang hasil pemeriksaan Litbang Kesehatan,” kata Kepala Lembaga Eijkman, Amin Soebandrio, yang ditemui pekan lalu.

Seperti dikatakan ahli biologi molekuler Lembaga Eijkman, Herawati Sudoyo Supolo, “Untuk menghadapi krisis korona ini, kuncinya memang kolaborasi, kolaborasi, dan kolaborasi. Demi bangsa, seharusnya kita manfaatkan semua potensi yang ada. Tak perlu lagi ada ego sektoral.”

Kita belum tahu sejauh mana kekuatan virus ini. Tetapi, bersikap santai, apalagi jika sampai mengingkari risiko masuknya virus korona di Indonesia, demi alasan dikhawatirkan mengganggu ekonomi dan investasi, justru hal itu bakal menjadi bumerang.

Sebagaimana diutarakan peneliti Pusat Penelitian Kependudukan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ayu Ketut Surtiari beberapa koleganya dari Australia, telah membatalkan rencana kunjungan ke Indonesia, karena meragukan penanganan korona di Indonesia. Padahal, mereka semua sudah beli tiket.

Jelas bahwa publik belum terpuaskan dengan penjelasan mengenai manajemen risiko krisis korona di Indonesia. Apalagi, jika kemudian terjadi wabah korona di Indoensia. Sudah siapkah kita?

Oleh AHMAD ARIF/DEONISIA ARLINTA

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 15 Februari 2020

Share
x

Check Also

Selaraskan Energi Terbarukan dan Konservasi Alam

Pembangunan PLTA Batang Toru agar seiring dengan penyelamatan dan pelestarian orangutan tapanuli yang sangat endemik ...

%d blogger menyukai ini: