Home / Berita / Astronomi / Misteri Suara Dentuman di Malang dan Sekitarnya

Misteri Suara Dentuman di Malang dan Sekitarnya

Suara dentuman dari langit menjadi perbincangan sebagian masyarakat di Kota Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya. Hingga kini, suara tersebut belum diketahui penyebabnya.

Asal-usul suara dentuman diiringi getaran yang dilaporkan warga Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya pada Selasa (2/2/2021) malam hingga Rabu (3/2) dini hari masih belum terpecahkan. Tidak terekam ada peningkatan aktivitas gempa bumi.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika tidak mencatat adanya peningkatan aktivitas gempa bumi. Gunung Semeru yang paling dekat dipastikan tidak memunculkan suara dentuman, sedangkan Gunung Raung yang tengah erupsi dinilai terlalu jauh lokasinya.

Suara dentuman ini dilaporkan banyak warga di media sosial, khususnya Twitter, sejak Selasa malam. Misalnya, akun Shohibul Ubaidillah melaporkan, di Malang Selatan mulai mendengar dentuman pada Selasa pukul 21.00 dan paling jelas saat tengah malam. Suara dentuman masih terdengar hingga Rabu pukul 03.19 walaupun semakin samar.

Akun BPBD Kota Malang juga mencuitkan soal suara dentuman itu sejak Selasa pukul 11.30, tetapi belum bisa memperkirakan sumber suara.

Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, tidak ada rekaman gempa bumi yang terjadi di Malang dan sekitarnya, yang berpotensi menimbulkan suara tersebut. ”Masih misteri, tetapi kalau dari gempa bumi, kemungkinannya kecil. Bisa jadi dari gunung api atau dari atmosfer,” ujarnya.

Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dua gunung api yang tengah meningkat aktivitasnya saat ini adalah Gunung Semeru dan Gunung Raung. Gunung Semeru paling dekat dengan Kota Malang, yaitu berjarak sekitar 60 kilometer (km), sedangkan Gunung Raung berjarak lebih dari 200 km.

Peneliti Gunung Semeru dari PVMBG, Kristianto, mengatakan, berdasarkan pemantauan, Gunung Semeru, yang berada paling dekat dengan Kota Malang, tidak mengeluarkan dentuman. ”Kemarin ada awan panas guguran dari Semeru sejauh 4 km dari puncak. Namun, Gunung Semeru saat erupsi tidak mengeluarkan suara dentuman, biasanya hanya ada suara gemuruh dan sifatnya lokal,” ungkapnya.

Kepala Subbidang Pemantauan Gunung Api Wilayah Barat PVMBG Nia Khaerani mengatakan, saat ini Gunung Raung memang erupsi dan beberapa kali mengeluarkan suara dentuman. Namun, jarak Gunung Raung dan Kota Malang terlalu jauh sehingga kecil kemungkinanya suara dentuman yang didengar warga di sekitar Malang itu berasal dari Gunung Raung.

”Meski tidak terus-menerus, dentumannya cukup sering, tetapi terdengar cukup jelas dari Posa Gunung Api Raung yang berjarak sekitar 14 km dari puncak. Dentuman Gunung Raung memang terdengar hingga daerah Kalipuro, Banyuwangi, sekitar 20 km dari puncak,” kata Nia.

Akan tetapi, diakui, sulit memastikan bahwa dentuman suara dari Gunung Raung itu bisa mencapai malang yang jaraknya ratusan kilometer. ”Letusan Gunung Raung pada tahun 2021 ini menyerupai letusan 2015. Terjadi lontaran material batuan pijar di dalam kawah, tetapi intensitasnya sebenarnya lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2015. Jadi, bukan letusan besar juga,” tuturnya.

Seperti Daryono, menurut Nia, fenomena suara dentuman juga bisa dipicu adanya aktivitas di atmosfer. ”Masih harus diselidiki lebih jauh,” katanya.

Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto mengatakan, dari segi cuaca, tidak ada aktivitas atmosfer yang mencurigakan di Malang dan sekitarnya. Hujan dengan intensitas tinggi juga tidak terjadi.

”Di luar negeri juga sering ada laporan fenomena suara dentuman di langit atau seperti terompet yang masih misterius. Para ahli juga belum menemukan jawaban pasti. Teori yang berkembang di kalangan ahli atmosfer umumnya membahas fenomena itu sebagai ’the earth’s hum’ yang merupakan interaksi gelombang suara (acoustic wave), gelombang gravitasi, dan atau bisa juga gelombang seismik yang terjadi secara simultan,” kata Siswanto.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 4 Februari 2021

Share
%d blogger menyukai ini: