Home / Berita / ”Mikir-Pintar” Mengurai Benang Kusut Kurikulum 2013

”Mikir-Pintar” Mengurai Benang Kusut Kurikulum 2013

Tak lebih dari 10 menit, Eriya Agustina, siswi kelas VIII dari SMPN 5 Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, bereksperimen dengan sebuah botol plastik besar. Bagian tutup botol telah dilubangi dan dimasukkan seputung rokok.

Ujung rokok dibakar, lalu badan botol ditekan-tekan. Asap rokok yang telah mengepul di dalam botol dikeluarkan sambil ditutupi dengan tisu.

KOMPAS/NIKOLAU HARBOWO–Peserta didik dari SMPN 5 Sungai Apit, Kabupaten Siak, Riau, bereksperimen dengan sebuah botol plastik untuk menunjukkan bahaya rokok, dalam pameran ”Unjuk Karya Praktik Baik Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran”, di Gedung Siak Sport Hall, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (10/10/2019).

”Warna kuning kecoklatan ini adalah nikotin. Zat ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Jadi, jangan sekali-kali coba merokok, ya, teman-teman,” ujar Eriya, sambil disambut tepuk tangan pengunjung pameran ”Unjuk Karya Praktik Baik Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran”, di Gedung Siak Sport Hall, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (10/10/2019).

Kegiatan yang diinisiasi lembaga filantropi Tanoto Foundation tersebut juga dihadiri Bupati Siak Alfedri. Dalam kesempatan itu, peserta didik dari 24 sekolah SD/MI dan SMP/MTs di Kabupaten Siak mendemonstrasikan hasil karya mereka dengan sangat percaya diri.

KOMPAS/NIKOLAUS HARBOWO–Sebanyak 24 sekolah SD/MI dan SMP/MTs di Kabupaten Siak mendemonstrasikan hasil karyanya di dalam pameran ”Unjuk Karya Praktik Baik Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran”, di Gedung Siak Sport Hall, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (10/10/2019).

Dua siswa dari SDN 09 Teluk Merempan, misalnya. Mereka menemukan energi alternatif dari barembang, buah lokal yang sering ditemukan di tepi Sungai Siak. Tiga buah berembang ternyata bisa menyalakan lampu light emitting diode (LED) 6 watt sekitar 5 menit.

Konsep Mikir
Kepala SMPN 5 Sungai Apit, Siti Sabaniah, mengatakan, keberanian murid dalam menyampaikan gagasan dan ide kreatif sudah dibiasakan sejak hampir setahun ini lewat penerapan metode mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi atau Mikir dalam setiap mata pelajaran.

”Anak diminta lebih aktif memberikan ide atas apa yang guru ajarkan. Ternyata, ide anak-anak ini keluar semua dan mereka harus berani mengungkapkannya. Anak lebih suka praktik seperti itu daripada mendengarkan kami ceramah,” tutur Siti.

Kepala SDN 01 Benteng Hulu, Sri Safni, pun mengungkapkan, itu semua berkat komitmen guru yang terus mengembangkan inovasi untuk kualitas pembelajaran. Murid juga selalu dibimbing untuk terus meningkatkan budaya baca.

”Anak-anak lebih berani mengeluarkan ide, lebih aktif, dan berani berkomunikasi dan berinteraksi,” ucap Sri.

KOMPAS/NIKOLAUS HARBOWO–Siswa diminta mempresentasikan hasil karyanya di depan kelas di SDN 01 Benteng Hulu di Kabupaten Siak, Riau, Kamis (10/10/2019). Ini merupakan penerapan metode mengalami, interaksi, komunikasi, dan refleksi atau Mikir dalam setiap mata pelajaran.

Sebagai peserta didik, Eriya pun mengaku lebih suka diajarkan dengan konsep Mikir. Konsep pembelajaran itu tidak membosankan.

”Saya lebih suka praktik. Jadi, lebih paham isi mata pelajarannya dan mudah tahu kegunaan di kehidupan sehari-hari. Kalau cuma baca buku dan mencatat, saya masih harus mengawang-awang,” kata Eriya.

Kurikulum 2013
Konsep pembelajaran dengan metode Mikir sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kurikulum yang dicanangkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lewat Kurikulum 2013 (K-13). Dalam K-13, proses pembelajaran juga berpusat kepada siswa.

Sayangnya, hampir enam tahun berjalan, konsep K-13 belum bisa terimplementasi dengan baik. Sejumlah kepala sekolah dan guru mengkritisi soal minimnya pendampingan pemerintah atas setiap proses yang terjadi di lapangan.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD)–Guru membantu membacakan soal ujian tema dua untuk siswa kelas I yang mengikuti ujian akhir semester di SDN Duri Kosambi 11, Jakarta Barat, Rabu (3/12). Selain memerlukan kerja kreatif untuk menyampaikan materi pelajaran, para guru masih kesulitan memberikan nilai berdasarkan penerapan Kurikulum 2013.

Sementara itu, dalam penerapan Mikir, Sri mengaku terus mendapat evaluasi dan bimbingan dari fasilitator daerah Tanoto Foundation yang telah bekerja sama dengan dinas pendidikan setempat.

”Hasil proses pembelajaran kami dievaluasi. Hasil supervisi proses pembelajaran kemudian dianalisis dan ditindaklanjuti untuk melihat apa yang dibutuhkan guru dan murid untuk menunjang proses pembelajaran. Sinergitas ini yang harusnya muncul untuk menjaga kualitas pendidikan tetap baik,” ujar Sri.

Konsep Mikir merupakan bagian dari program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran (Pintar) yang diinisiasi Tanoto Foundation. Program yang sudah berjalan sejak 2018 ini telah diterapkan di 440 sekolah dan madrasah yang tersebar di 14 kabupaten/kota dan 10 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) di 5 provinsi.

KOMPAS/NIKOLAUS HARBOWO–Direktur Program Pintar Tanoto Foundation Stuart Weston memberikan kenang-kenangan kepada Bupati Siak Alfedri dalam pameran ”Unjuk Karya Praktik Baik Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran”, di Gedung Siak Sport Hall, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (10/10/2019).

Stuart Weston, Direktur Program Pintar Tanoto Foundation menuturkan, kehadiran program tersebut diharapkan dapat turut mengembangkan kapasitas guru sehingga berujung pada perbaikan kualitas belajar-mengajar. Kunci perubahan awal itu sebenarnya terletak pada komitmen kepala sekolah.

”Kalau tak ada kepala sekolah yang mendorong ini semua, tak akan terjadi. Kuncinya mutu sekolah yang baik ada di kualitas kepala sekolah,” kata Weston.

Sistem zonasi
Kasubdit Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi di Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Ferry Yulmarino menyampaikan, sebenarnya program Pintar sejalan dengan program yang dirintis Kemendikbud. Program ini memfungsikan pengawas sekolah untuk kepala sekolah dan guru.

KOMPAS/NIKOLAUS HARBOWO–Kasubdit Peningkatan Kompetensi dan Kualifikasi di Direktorat Pembinaan Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud Ferry Yulmarino memberikan sambutan dalam pameran ”Unjuk Karya Praktik Baik Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran”, di Gedung Siak Sport Hall, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (10/10/2019).

Ke depan, lanjut Ferry, Kemendikbud juga akan memberlakukan sistem zonasi terkait pelatihan atau peningkatan kompetensi guru, bahkan perekrutan pengawas kepala sekolah.

Dengan begitu, kegiatan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok Kerja Guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS), dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS) bisa hidup.

”Jadi, bukan dari kami perekrutan, melainkan kami buat aturan supaya wilayah merekrut pengawas kepala sekolah. Kalau sekarang ini, kan, banyak kepala sekolah dan guru yang bekerja di Jakarta, tetapi asal dari Bogor dan Tangerang,” katanya.

Hal itu, lanjut Ferry, menyebabkan mereka kesulitan mengikuti kegiatan seperti KKG. Hal itu juga akan mempersulit pembinaan dan pengawasan. Dengan penerapan sistem zonasi pelatihan atau peningkatan kompetensi guru, fungsi pengawas bisa lebih diberdayakan.

Budaya literasi
Alfedri menegaskan, meski sekolah-sekolah berada di pinggiran, semangat peserta didik dan tenaga kependidikan tak boleh redup. Semua anak berhak mendapatkan kualitas pendidikan yang setara.

Jadi, sekolah pinggiran tak kalah bersaing dengan sekolah di perkotaan atau bahkan internasional. ”Harus didorong mutu pendidikan terjadi di pelosok-pelosok kampung. Menyongsong generasi emas 2045, mereka bisa bersaing dan menjadi generasi unggul,” ucapnya.

Alfedri pun berharap program Pintar tak sebatas meningkatkan budaya baca, tetapi juga literasi kepada anak-anak. Dengan begitu, mereka menjadi semakin pandai mengungkapkan gagasan dan ide kreatif melalui menulis.

KOMPAS/NIKOLAUS HARBOWO–Bupati Siak Alfedri mendampingi siswa-siswi yang sedang bereksperimen di dalam pameran ”Unjuk Karya Praktik Baik Program Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran”, di Gedung Siak Sport Hall, Kabupaten Siak, Riau, Kamis (10/10/2019).

Alfedri juga akan mendorong Dinas Pendidikan Kabupaten Siak untuk mengadakan perlombaan pengembangan literasi. Alfredi mencontohkan, apabila ada anak yang telah berhasil membaca 1.000 lembar, dia akan mendapatkan piagam.

Sementara itu, untuk guru, tolok ukurnya mereka harus mampu membuat karya tulis. Lomba ini bisa dilaksanakan di Hari Pendidikan di 2020.

”Kami harap kegiatan itu dapat meningkatkan manajemen pendidikan sekolah sehingga relevansi pendidikan di sekolah di masa mendatang bisa terukur dengan baik. Jadi, bisa sebenarnya anak Siak ini, tetapi perlu distimulus agar bangkit,” ucap Alfedri.–NIKOLAUS HARBOWO

Sumber: Kompas, 11 Oktober 2019

Share
x

Check Also

Pandemi Covid-19 yang Membersihkan Bumi

Pandemi Covid-19 memang membawa petaka bagi umat manusia. Namun, wabah yang dipicu oleh SARS-CoV-2 ini ...

%d blogger menyukai ini: