Home / Artikel / Menyoal Kenetralan Pendidikan

Menyoal Kenetralan Pendidikan

Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan ”highly political act” atau tindakan berpolitik (Tian An, 2020).

Dalam sejarah amat panjangnya, yakni 175 tahun, baru kali ini di tahun 2020, majalah Scientific American menunjukkan ketidak-netralannya dalam pemilihan presiden di Amerika Serikat (AS). Secara terang-terangan majalah sains dan teknologi tertua yang masih aktif beroperasi ini mendukung calon presiden Joe Biden dan mengajak pembacanya memilih Biden.

Masih teringat bagaimana Pilkada DKI 2017 dan Pemilihan Presiden (Pilpres (2019) yang lalu juga telah mengimbaskan perseteruan politik ke dalam ruang pendidikan. Beberapa guru memamerkan pilihan politiknya dan, bahkan, ada yang sampai memengaruhi muridnya tanpa rasa segan.

Kaget mengetahui terjadinya keadaan ini, sebagian masyarakat menyatakan harapannya agar guru tak berpolitik di ruang kelas. Namun, mungkin sebuah permintaan mustahil untuk menjamin pengajaran, seperti pengajaran IPS, dilakukan secara netral atau terlepas dari ideologi politik pengajarnya. Yang berbeda dari satu pengajar ke pengajar lainnya mungkin hanya tingkat keeksplisitan atau rasa segannya.

Bagi guru yang cerdas dan berpengalaman, mungkin mampu menyuarakan pilihannya secara tersirat cantik. Namun, apakah betul praktik pendidikan IPA, apalagi matematika, dapat tidak netral? Toh, 2 + 2 = 4 berlaku bagi tiap manusia, terlepas apa pun ideologi, warna kulit, kebangsaan, atau agamanya.

Tak netral
Pada 2017, Dr Rochelle Gutierrez dalam makalahnya menulis bahwa pengajaran matematika di AS tidak netral. Gutierrez adalah Guru Besar dari University of Illinois, di Urbana-Champaign, yang meneliti bagaimana matematika dibelajarkan ke kalangan minoritas dan kelompok terpinggirkan lain.

Di tulisan itu, Dr Gutierrez berpendapat bahwa praktik pendidikan matematika cenderung lebih mengagungkan kebudayaan Yunani dan, umumnya, Eropa. Ia memberi contoh penekanan pengajaran bilangan ”pi” dan Dalil Pitagoras yang berasal dari budaya orang putih. Ini merupakan suatu white privilege atau keuntungan ras Kaukasian.

Lalu, seperti lazimnya perilaku berinternet di zaman perkutuban biner ”liberal vs konservatif” ini, sejumlah situs yang berafiliasi dengan sayap-kanan dengan cepat dan beramai-ramai ”menangkap” pendapat kontroversial itu dan meraciknya menjadi liputan dengan judul berita clickbait atau umpan klik.

Ada situs yang memberi judul, ”Matematika Rasis! – Jika Anda Kiri.” Kemudian, seperti perilaku berinternet saat ini, membanjirlah rentetan pernyataan pro dan kontra dari berbagai kalangan, tak terkecuali serangan terhadap pribadi Dr Gutierrez.

Beberapa disiplin keilmuan, seperti sejarah dan kewarganegaraan, memang notorious atau dikenal amat rentan dipolitikkan. Pesan partisan atau sektarian mudah disisipkan atau tersisipkan ke dalam bahan ajarnya. Pihak yang merasa berkuasa seperti tak tahan untuk tak menjamahkan tangannya ke bahan ajar. Fenomena menyisipkan pesan glorifikasi ideologi tertentu serta menihilkan peran lawan ideologinya di buku ajar sudah biasa terjadi di banyak negara.

Sementara fenomena di atas sudah jamak, tindakan membiarkan atau mewajarkan ketaknetralan bahan ajar dampaknya tidak kecil, karena ketaknetralan akan merembet ke mana-mana, tidak berhenti di tulisan itu saja. Kecuali pesan itu akan bercokol di benak siswa, buku ajar ini dapat berlanjut dimanfaatkan sebagai propaganda. Seperti pembuatan film atau media lain yang dapat menggunakan buku ajar tak netral tadi sebagai rujukannya.

Angka atau bilangan memang netral, tetapi setelah bilangan dikumpulkan serta dikemas sebagai data, maka sudah tak netral lagi. Demikian menurut salah satu penulis buku Data Feminism, Dr Catherine D’Ignazio, akademisi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Oleh karena itu, ”penting untuk mengenali diskriminasi dalam algoritma, memahaminya pada tataran teknis—dan mengajukan cara untuk memusnahkannya,” ujarnya.

Walau algoritma menggunakan matematika, sehingga terkesan netral, algoritma kenyataannya tidak netral atau berpeluang dibuat tak netral. Sebagai ilustrasi nyata, algoritma dapat dirancang untuk memperkirakan tingkat pendidikan seseorang dari komunikasinya di media sosial berdasar seberapa banyak kata-kata umpatan kasar diucapkan. Kemudian, algoritma dapat membedakan alur tanggapannya berdasar ”perbedaan tingkat keintelektualan” itu. Maka, algoritma telah berperilaku serupa dengan penjaja majalah di persimpangan jalan yang menawarkan bacaan berbeda bagi pengendara pria dan wanita.

Tak sedikit akademisi, bahkan dari masyarakat matematika sendiri, menganggap pendapat Gutierrez terlalu berlebihan, tetapi bahwa pendidikan matematika tak netral boleh jadi ada benarnya. Buku ajar matematika, termasuk yang resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, faktanya memang sedikit atau tak menyinggung jejak perkembangan matematika di Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Asia Timur di era klasik.

Bahkan, sepertinya belum pernah ada buku ajar matematika yang mengangkat bukti penggunaan sistem penulisan bilangan dengan nilai tempat berbasis-10 tertua dengan bilangan nol (yang ditemukan sampai saat ini) adanya di Asia Tenggara, yakni prasasti Kedukan Bukit (di Palembang, Era Sriwijaya) dan prasasti Sambor (di Kamboja, Era Pra-Ankor), dari abad ke-7 Masehi.

Mengamati berbagai lambang bilangan di Kalimantan, Jawa, Sumatera, Bali, dan sebagainya dari masa silam tentunya akan menambah rasa keterhubungan dan keberlanjutan para pelajar sekarang dalam pengembangan pengetahuan dengan nenek moyangnya. Malah sekarang justru kebalikannya, buku ajar matematika dan disiplin lainnya masih secara tak sengaja menyiratkan pesan bahwa sebelum kolonialisme, pengetahuan apalagi matematika dan ilmu alam di daerah ini tidak ada.

Matematika serta sains alam memang bukan ilmu sosial, namun proses belajar-mengajar matematika merupakan interaksi sosial dan politik. Riset pendidikan matematika telah mengungkapkan secara jelas bahwa mengajar matematika merupakan highly political act atau tindakan berpolitik (Tian An, 2020).

Perasaan tak nyaman membaca buku ajar matematika yang sarat dengan situasi seseorang berbelanja atau membeli buah jenis impor berharga puluhan sampai ratusan ribu rupiah merupakan tanda kepekaan sosial. Sebuah langkah berarti, jika guru dapat mengganti ilustrasi membeli tadi dengan situasi seperti seseorang membuat kain ikat atau menjual sayur dari ladangnya. Guru perlu senantiasa sadar terhadap pengaruh kebudayaan dalam bahan ajarnya.

Perspektif majemuk
Sulit mengawasi apalagi menjamin seorang guru untuk netral melalui pembelajarannya. Tetapi, yang dapat didambakan serta perlu diperjuangkan terus ialah lengkapnya berbagai perspektif yang didiskusikan di kelas.

Memanggungkan perspektif majemuk secara apa adanya terhadap setiap topik pembelajaran sudah cukup untuk membantu menetralkan pendidikan dan keilmuan. Konsekuensinya, guru perlu terus memperluas wawasan sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritisnya agar dapat menjadi pengelola diskusi dan diskursus yang membuka peluang sebesar-besarnya tiap murid untuk dapat belajar seoptimum mungkin.

Unsur lain yang dibutuhkan guru untuk menetralkan pendidikan, walau mungkin sulit, ialah mempertahankan nilai disinterestedness atau kenirkepentingan. Nilai ini diartikan dia tak punya kepentingan atas materi yang dipelajari dan dibelajarkan. Dia berani berpegang pada prinsip bahwa dirinya tidak diuntungkan atau dirugikan jika muatan yang disampaikan berkata A atau B.

Bahkan jika sampai mengungkapkan temuan yang menentang pendapatnya, dia tetap harus menjaga disinterestedness-nya. Ini lebih berat pada keilmuan yang melibatkan ideologi dan keyakinan, namun harus diusahakan terus.

Tulisan ini, yang mengajak untuk menetralkan pendidikan, juga tentunya jauh dari netral. Namun, seperti pendapat Dr D’Ignazio, menambah kemajemukan merupakan bagian penting dari solusi.

Iwan Pranoto, Pengajar Matematika Institut Teknologi Bandung.

Sumber: Kompas, 28 September 2020

Share
%d blogger menyukai ini: