Home / Artikel / Menjunjung Tinggi Etika Riset

Menjunjung Tinggi Etika Riset

MENDENGAR kata riset, di benak kebanyakan orang pertama kali terbayang biasanya seperangkat alat, bahan kimia, ruangan laboratorium, daftar definisi, formula statistik plus manusia dengan kacamata tebal. Padahal sering tidak kita sadari bahwa sosok riset telah mengembara ke berbagai kawasan. Dalam komunitas di mana kultur ilmiah telah berkembang sedemikian baik, riset mini yang tersistematika secara imajinatif biasanya menjadi alat pengambilan keputusan.

Tindakan seseorang di komunitas ini senatiasa dilandasi riset mini imajinatif yang prosesnya begitu cepat. Berbeda dengan riset sungguhan pada umumnya, evidensinya demikian elastis. Tidak selalu fakta, bisa juga pengalaman pribadi orang perorangan atau “buah bibir”. Itulah sebabnya mengapa dalam kultur masyarakat Jawa berkembang penolakan pada tradisi waton sulaya atau waton njeplak (asal bunyi).

Di kalangan akademisi, ilustrasi Borg dan Gall (1983) lebih mudah dipercaya. Riset itu seperti rimba belantara, penuh onak-duri yang melintang. Kelengahan sedikit saja mengarunginya bisa fatal akibatnya. Dari kehati-hatian yang serius itulah kemudian lahir rambu-rambu untuk menetralisir segala bentuk kekeliruan riset. Rambu-rambu itu berupa, teori sampling, uji kesahihan, instrumentasi dan ragam metode riset. Ini berlaku universal, baik untuk sains keras (ilmu-ilmu eksakta) maupun untuk sains lunak (ilmu-ilmu social-kebudayaan).

Etika riset
Dinamika pemikiran mengenai riset beserta alat-alat bantunya mempunyai efek positif. Antara lain akurasi riset ada titik tertentu bisa dioptimalkan. Keyakinan akan dekatnya kesimpulan riset dengan kebenaran itulah yang kemudian memunculkan etika riset. Suatu ”lembaga ilmiah” yang memberi arah bagaimana sebaiknya dan untuk kepentingan apa riset dilakukan.

Melalui tangan-tangan piawai seperti Patton, Kerlinger, Babbie, Campbell, John W. Best dan sejumlah pakar lainnya, etika riset berkembang ke seluruh dunia serta diikuti tanpa respek apa pun. Etika itu misalnya, menjamin kerahasiaan sumber data dan komitmen untuk menggunakan hasil riset demi kepentingan positif berupa kemaslahatan, perbaikan hidup dan kehidupan serta penghargaan yang tinggi pada harkat kemanusiaan. Mengingat efeknya yang begitu vital, maka sekuritas periset dan perangkat infrastruktumya selalu dijamin masing-masing negara.

Dalam perkembangan selanjutnya, periset ahli mengakumulasi membentuk keorganisasian profesional untuk melancarkan gerak dan koordinasi. Berkiprah melakukan riset dan publikasi-publikasi ilmiah. Organisasi-organisasi tersebut mempunyai pamor yang lumayan hebat dan melayani kepentingan riset ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi dan kebudayaan. Lembaga-lembaga riset seperti Gallup, AERA, APA di Amerika atau LIPI, LP3ES, CSIS di Indonesia pengaruhnya cukup besar dalam proses pengkajian strategi kebijakan. Proyek-proyek besar mereka tetap concern pada etika riset.

Kalaupun kemudian berkembang perdebatan di sekitar keabsahan metode baru seperti riset evaluasi dalam bentuk need assesment, diskrepansi dan studi fisibilitas misalnya, yang beraksi mengungkap ”sisi gelap” suatu institusi, strategi kebijakan, dan biografi perorangan; tujuan akhir lebih diarahkan untuk menemukan solusi konstruktif dan deskripsi mana yang laik publikasi dan mana yang tidak. Bukan pada terminasi atau penghinaan.

Karena itu kita amat prihatin akan kecenderungan akhir-akhir ini di mana etika riset sudah cenderung ditinggalkan. Untuk menyebutnya sebagai contoh, tidak terjaminnya kerahasiaan sumber data. Diungkapnya sekian persen pelajar SLTA di Jateng yang pernah ngeseks bebas; sekian dari sekian suami di Jakarta pernah berselingkuh; dan sakian persen warga Jakarta mengidap gejala sakit jiwa, jelas tidak menguntungkan warga di kedua lokasi riset tersebut.

Secara definitif memang sumber data dirahasiakan. Namun secara lokatif ternyata kerahasiaan itu tidak terjamin. Maka, ketika seseorang mengenalkan diri sebagai pelajar asal Jateng misalnya, sudah timbul dugaan jangan-jangan yang bersangkutan termasuk dari sekian persen yang ngeseks bebas itu. Akibat publikasi riset yang merugikan karena mengabaikan etika riset, pergaulan mereka jadi terganggu.

Pelanggaran etika riset yang paling banyak terjadi ialah publikasi riset dan ”menembak” riset orang lain. Orisinalitas dan kreativitas riset seolah-olah ditempatkan di bagian paling belakang dalam kinerja periset.

Kondisi diabaikannya etika riset itu mengingatkan kita pada saat kampanye menjelang pemiIihan presiden di Amerika Serikat. Ketika itu, Juli 1992 terbetik berita bahwa Komite Nasional Partai Demokrat (DNC) menyewa Danton & Samuel –sebuah perusahaan ternama yang konon sangat profesional dalam masalah riset– dengan tujuan menggali ”sisi gelap” presiden Bus agar bisa dijatuhkan. Kondisi demikian merupakan tantangan terbuka bagi periset sosial-politik. Sikap tersebut sangat jelas menggambarkan antitesis terhadap etika riset yang selama ini dengan gigih disuarakan.

Perlu diwaspadai
Kecanderungan baru publikasi riset yang mengabaikan etika riset tentu saja patut diwaspadai. Sebab selain akan mengurangi kredibilitas intelektual para periset, sekaligus tidak mendidik masyarakat untuk memahami dengan baik apa makna riset yang sebenarnya. Boleh saja kita berkilah bahwa hal itu hanya merupakan fenomena baru riset yang non-riset, melainkan lebih cenderung ke arah investigasi jurnalistik dengan aksentuasi pada pola kerja detektif.

Namun perlu diingat bahwa memperbaiki keadaan yang buruk jauh lebih sulit ketimbang membangun sesuatu yang baik. Jika benar demikian akan sia-sialah pendidikan riset, pencangkokan mata kuliah metodologi riset dan keharusan menyusun skripsi, tesis dan disertasi pada mahasiswa program sarjana jalur gelar yang dimaksudkan untuk mengembangkan latihan riset dan membentu sikap akomodatif terhadap perkembangan riset.

Padahal, lebih tinggi lagi diharapkan agar para intelektual tersebut mempunyai instink riset yang andal. Orang bisa ala biasa, demikian adagium yang berkembang. Apa yang saya katakan soal kewaspadaan sudah barang tentu cukup beralasan. Asumsinya sederhana saja, bahwa mayoritas intelektual Indonesia belajar dan menimba ilmu di Amerika.

Barangkali, tema baru ”riset oposisi” dengan mengabaikan etika riset bagi masyarakat Amerika yang mendewakan liberalisme dan berkultur ilmiah mapan, tak menjadi soal benar. Tetapi bagi kita di mana Pancasila melandasi berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, jelas cara-cara seperti itu patut dikaji kembali.

Kebenaran dan kejujuran dalam menjunjung tinggi etika riset memang masih merupakan barang mahal. Anak kunci keberhasilan dalam mempertahankan kepribadian periset yang mengagumkan, barangkali terletak pada sejauh mana kita menaruh kewaspadaan. Namun semuanya terserah kita. Bukankah ada penghargaan yang tinggi pada kemerdekaan berpikir? Di sini intuisi, inteligensia, apresiasi pada etika riset dan diri kemanusiaan kita diuji.

Mutrofin, staf pengajar FKIP Universitas Jember

Sumber: Kompas, RABU 30 AGUSTUS 1995

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: