Home / Berita / Menilik Udara Dingin di AS

Menilik Udara Dingin di AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump gembira karena sikapnya yang tidak mengakui adanya pemanasan global dan perubahan iklim kini mendapatkan bukti. Pantai timur AS diserang suhu dingin ekstrem. Puluhan orang meninggal.

Suhu udara mencapai sekitar minus 30 derajat fahrenheit, setara minus 34,4 derajat celsius. Angin bertiup amat kencang mencapai sekitar 113 kilometer per jam. Salju bertumpuk di beberapa wilayah.

Trump pun men-tweet yang isinya menyitir ironi pemanasan global. Menurut gagasan pemanasan global yang ada, AS harus membayar triliunan dollar.

Kacamata yang digunakan Trump berdasarkan pada fakta setempat di mana terjadi pendinginan secara ekstrem.

Faktanya, Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) mencatat bahwa sepuluh tahun paling hangat terjadi sejak 1997. Sementara Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) melaporkan, beberapa dekade terakhir merupakan yang terhangat setidaknya sejak tahun 1000. Suhu panas yang tercatat sejak abad ke-19 belum pernah terjadi pada 1.000 tahun terakhir.

”Semuanya adalah tren jangka panjang,” ujar Gavin Schmidt, ahli iklim pada Goddard Institute for Space Studies NASA.

Muncul pertanyaan, apakah pemanasan global turut andil dalam cuaca dingin ekstrem pada 2006. Ketika itu Danau Erie—salah satu danau besar di AS—untuk pertama kalinya dalam sejarah tidak membeku. Air danau yang menguap menjadi lebih banyak yang menyebabkan lebih banyak hujan dan meningkatkan salju.

Sebagai tambahan, kejadian musim dingin ekstrem di AS bukan hanya terjadi kali ini. Hal serupa terjadi antara lain pada tahun 1989, 2014, dan 2015.

Tahun 1899 disebut sebagai tahun dingin terburuk sepanjang sejarah. Di salah satu wilayah, di Negara Bagian Montana, mencapai minus 61 derajat fahrenheit (setara dengan minus 51,7 derajat celsius).

Sulit dinyatakan
Para ahli iklim menyadari bahwa saat ini sebagian wilayah Amerika mengalami musim dingin yang lebih parah dibandingkan biasanya. Namun, secara keseluruhan, suhu global pada pekan ini lebih hangat dari rata-rata suhu beberapa dekade terakhir.

Para ilmuwan iklim dan ahli meteorologi kesulitan untuk dengan tegas menyatakan bahwa kejadian cuaca ekstrem tertentu adalah akibat perubahan iklim. Banyak ahli iklim sepakat bahwa perubahan iklim amat mungkin (likely) berkaitan dengan badai salju, badai, dan kekeringan. Di sisi lain, sebagian ahli berpendapat, variasi pada cuaca dari tahun ke tahun tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan pemanasan global atau sebaliknya, pendinginan global.

Pemodelan
Ilmuwan amat berhati-hati menetapkan apakah suatu peristiwa cuaca terkait dengan pemanasan global atau tidak.

Dari sebuah wawancara radio NPR, dari sebuah penelitian pada peristiwa cuaca tahun 2016, tercatat ada 27 peristiwa (cuaca), hanya tiga dapat dikaitkan dengan pemanasan global. Karena, tiga kejadian tersebut sudah melebihi prediksi sesuai dengan kejadian yang alamiah.

Yang pertama adalah suhu rata-rata global tahun 2016 yang mencapai 0,94 derajat celsius dibandingkan pada rata-rata di abad ke-20. Yang kedua gelombang panas ekstrem di Asia, yaitu di Pakistan dan India, yang menyebabkan kematian ratusan orang. Yang ketiga yaitu memanasnya air di Laut Berring di dekat Alaska.

Dasar penetapan bertolak dari prinsip dasar pemanasan global. Pemanasan global terjadi akibat aktivitas manusia terutama karena pembakaran bahan bakar fosil: batubara, minyak dan gas bumi yang menghasilkan gas-gas rumah kaca, seperti karbondioksida, nitrooxide (N2O), dan metana (CH4). Maka, untuk menetapkan apakah suatu peristiwa cuaca terkait dengan pemanasan global atau tidak, dibuat pemodelan dengan komputasi.

Satu model berdasarkan data sebelum masa Revolusi Industri—sekitar tahun 1850—sebagai model dunia sebelum ada aktivitas manusia dengan bahan bakar fosil. Model lainnya adalah model pasca-Revolusi Industri, masa sekarang.

Kejadian-kejadian cuaca tersebut lantas dimasukkan ke dalam model-model tersebut. Dari sana akan bisa diperiksa apakah sebuah peristiwa cuaca berkaitan dengan pemanasan global atau tidak.

Sementara itu, terkait cuaca dingin di AS, dari aspek meteorologi, menurut Bryan Peake dari Service Climatologist at the Midwestern Regional Climate Center, cuaca dingin ekstrem tidak secara khusus diakibatkan oleh pemanasan global.

Di musim dingin, udara yang mendingin di Lingkaran Arktik karena minimnya sinar matahari pada beberapa kejadian akan terdorong ke bawah karena fenomena jet stream (aliran angin kencang, berkecepatan di atas 100 kilometer per jam).

Penelitian terakhir menunjukkan, karena hilangnya lapisan es di Arktik, menurut Jennifer Francis dari Deapartment of Marine and Coastal Sciences dari Rutgers University, yang meneliti fenomena di Arktik.

”Tahun ini, kita kehilangan banyak lapisan es di lautan di sisi Pasifik dari Lautan Arktik,” ujar Francis pada Indystar.

”Kombinasi dengan pola suhu permukaan laut di Pasifik, itu mendorong munculnya ridge—sebuah pola jet stream yang muncul saat udara bergerak ke pantai barat Amerika—yang lantas mendorong udara dari Arktik turun ke pantai timur Amerika,” katanya.

Yang pasti, kita harus selalu ingat bahwa iklim merupakan rata-rata cuaca dari periode 30 tahunan. Sementara, cuaca bersifat sesaat. Mengaitkan suatu fenomena cuaca dengan perubahan iklim membutuhkan kecermatan dengan menyaring beragam faktor atau parameter-parameter lainnya, terkait dengan aktivitas kita manusia.(BRIGITTA ISWORO)

Sumber: Kompas, 9 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: